
Acara langsung digas sekencang-kencangnya tepat jam 9 malam. DIGITAL mengusung emocore dan NEKROMANCER dengan nu metal. Dua-duanya menghamburkan 3 lagu beremosi tinggi. Apalagi Nekromancer tampil utuh lagi setelah beredarnya berita kemunduran salah satu vokalisnya ketika proses recording baru saja rampung. HARD TO KILL, PARAU, ASPHYXIATE dan TRIPLE SIX menyiksa panggung beserta perangkatnya sembari memeras keringat penonton silih berganti–tak peduli bagaimana minimnya tata panggung, lampu dan suara yang sampai sekarang terkesan tak ada niat dan keseriusan lebih untuk ditata oleh empunya venue.
Dari keempat performer itu, death metal versi Hard to Kill sepertinya mendapat sorotan terbanyak malam itu. Selain karena drummernya, Komang adalah putera daerah penuh talenta dan berstamina luar biasa, plus track-record Komang yang pernah dipercaya memegang kendali beat untuk projeck idealis band macam Painkiller dan sederetan projek prestisius lainnya. Hard to Kill memang menyuguhkan tontonan yang memaksa decak kagum. Muda, enerjik, kreatif dan akurat. Membuat metal mania tak sanggup menyembunyikan air muka terpana, sekalipun dalam suasana hingar luar binasa. Pencuri antusias audience lainnya adalah PARAU [red: formasi baru dengan duo-gitaris]. Tampil solid sesolid-solidnya mengenyahkan segala goyah di hati dan pikiran semua penggemar fanatiknya dari kabar miring tentang keutuhan grup ini setelah ditinggal gitarisnya. ASPHYXIATE tak terlalu banyak dibahas, kecuali pengakuan penonton umum malam itu bahwa drummer-drummer dari Jakarta masih diakui berkemampuan di atas rata-rata.

SIKSA KUBUR mutlak ditunggu. 400-an penonton termasuk diantaranya para pesohor metalheads lokal. Dari Born By Mistake, Human Demise, Eternal Madness, Infectous Arteries, Something Like Crazy, Strawberry Surprise, Ridaceside, Instant Karma, Koma, dan banyak lagi. Dari muda hingga wajah lama. Wajar saja. Karena ini adalah penampilan mereka di Bali lagi sejak sekitar 6 tahun yang silam di GWK dan munculnya nama Prama/drummer pengganti jabatan Adian Gorust yang sudah mengawal selama 12 tahun dengan hasil 4 album, yang pastinya mengundang rasa penasaran tinggi. Tapi Japs/vox, Andre/gitar dan Ewin/bass mampu membuktikan bahwa SIKSA KUBUR tetap hadir dan ampuh di malam Jumat. Berpengalaman menjajal panggung di negeri Singapura dan Malaysia, membuat mereka begitu enjoy menutup gelaran puncak tour 4 kota dari 9 yang direncanakan [baca: terganjal masalah ijin keramaian]. Selalu bersenda gurau menyelingi lirik tajam penuh fakta kebusukan isi negeri. Sangat jauh dari suasana kengerian misteri alam bawah kubur. Sekalipun jasad road manager mereka Korex – dan drummernya Asphyxiate - nyaris saja terlebur bersatu dengan arus gelombang pantai Kuta. Tepat sehari sebelumnya.
agenda bencana emang mantap!!
ga rugi leher ampe pegel2 & brasa mo patah
yang penting
PUAS!!!!
(salam dua jari ala metalizer)……pokonya muantab !!!
alowww…lur kpn siksa kubur main lg d bndung…
jgn main d luar ja donk..kali2x main lg d bandung.
d tunggu siksa kubur………
seeeep….siksa kubur edaaaaaaaaaaaan!!!
ikutan dong,siksa kubur band yg emang bnr2 bkin gw kelenger,edaaaaaaaaaaaaaan
mari gila bersama di cahyadibeat@yahoo.com
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
Robin Malau said,
May 7, 2008 @ 5:30 pmWow, intense gig. I love it. Good job!