Bagaimana Cara Menyelamatkan Industri Musik?

by on 23/08/08 at 11:15 am

Sudah lama sebenarnya, saya ingin membahas hal ini. Saya selalu brainwash team saya dimanapun saya bekerja dengan pola pikir seperti ini, hasilnya saya menghasilkan banyak orang yang terbakar semangatnya dan berpikir lebih maju. Baru sekarang terpikir untuk ngarang posting di Musikator.

Ada pertanyaan umum:

Bagaimana cara menyelamatkan industri musik?

Gampang sih. Tapi syaratnya, semua musisi, artist manager, record label, fans itu sendiri harus terlibat. Nah melibatkan semua stakeholder itu yang susah. Padahal caranya gampang banget…

Oh ya? Bagaimana caranya?

Bayar semua musik yang kamu dengarkan.

Hmm… nah loh, gampang kan?

Dengan membayar semua lagu yang kamu dengarkan di CD, Kaset, Piringan Hitam, dan MP3 player kamu, berarti kamu sedang menyelamatkan industri musik. Dengan adanya uang yang berpindah seiring perpindahan karya (produk) dari distributor ke end user (fans, pendengar musik), maka sub-sistem 1 dari sistem industri musik akan mendapat darah segar untuk hidup lebih panjang. Keadaan yang dinamakan transaksi itulah yang menyuntikkan darah ke nadi industri musik.

Sekarang bayangkan jika kamu membayar semua tiket konser (ngga minta tiket gratisan terus), bayangkan jika kamu membayar semua lagu yang kamu download dari internet (ngopi dong, ngopi doooong…) industri musik pasti selamat.

Wah banyak panitia yang rip off, banyak band yang lagunya jelek, ya… ceteris paribus 2… kalau jelek ya jangan dibeli…

Kesimpulan:

Ah si Robin cuma menghayal. Haha…

Ya gitu deh, dari jawaban yang gampang tadi, timbul pertanyaan dan masalah baru. Sekarang kita sudah tahu cara menyelamatkan industri musik. Pertanyaannya, ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang?’

  1. sub sistem adalah elemen yang menghidupkan sistem – salah satu sub sistem di sistem industri musik adalah industri rekaman musik
  2. Cara berpikir jika mengidentifikasi dan membaca masalah yang berhubungan dengan logika bisnis dan ekonomi. Ada keadaan ekonomi yang dinamakan Ceteris Paribus, yaitu sebuah keadaan dimana faktor lain yang berkaitan dalam keadaan konstan. Artinya? Sistem ekonomi itu adalah sebuah sistem yang kompleks, jadi jangan dibahas semua, anggap keadaan lain itu baik-baik saja.

16 Komentar

dinan

Aug 25th, 2008

setuju!!!

Balas

Prima

Aug 25th, 2008

ya iyalah, namanya juga industri. hehehe…

Balas

Windu

Aug 25th, 2008

Hmm…

Saya sebetulnya setuju, bahwa kita memang harus membayar untuk tiap jerih payah musisi.

Terus terang, saya juga masih punya kebiasaan jelek nge-download dari web mp3 Rusia. Namun, lagu2 yang saya download sebatas lagu2 yang memang udah nggak mungkin kita dapatkan di toko kaset, atau lagu langka yang udah jaduls. Kalo emang saya harus bayar, saya masih belum tau gimana bayarnya. Dan saya masih agak2 konservatif (parno) untuk membagi nomor kartu kredit saya di internet.

Lagu2 (baru) Indonesia saya nggak pernah download, karena kita udah biasa dengerin dari radio, sinetron, infotainment, jalan2 ke Mall, atau malah waktu naik angkot. Jadi udah nggak greget lagi untuk didapatkan, baik membayar ataupun gratisan.

Lagu2 indie pribumi, saya cuma download kalo memang disediakan link gratisan secara resmi.

Kalo ini mengenai industri musik Indonesia, seandainya kita mau download lagu2 pribumi, gimana sistem pembayarannya? Yang saya tau (kalo nggak salah), http://www.importmusik.com menerapkan sistem potong pulsa.

Apa ada mekanisme yang lain untuk membayar tiap lagu (pribumi) yang kita download? Paypal? Visa?

Kalo ada info, makasih ya..

Balas

cietra

Aug 25th, 2008

bayaarrr buuuu…jangan ngopi muluuuu…
kasian yang punya warunggg

Balas

Robi Navicula

Aug 25th, 2008

Hehehe…Wind, bayar aja susah yah…sama aja kayak ngantre di kasir swalayan… atau mau bikin NPWP (bayar pajak)…

Niat baik itu seringkali susah… tapi kalau beli online susah, kita bisa contact langsung ke bandnya buat mesen CD original via pos.

Tambahan buat online music sale lokal, ada juga tuh http://www.digitalbeatstore.com, cuma bandku apply udah lama banget, ga dimuat2. Padahal mereka yg ngundang kita join disana.

Haha…bayar aja susah, apalagi mau jualan.

Balas

harlan boer

Aug 26th, 2008

Lalu, pertanyaan sebagian konsumen yang terusik,”Untuk apa industri musik diselamatkan? Toh, tanpa membeli rekaman musik, saya masih bisa menonton tayangan-tayangan musik di televisi, mendengar lagu di radio.” Atau bagi “segmen yang lebih intelek”, bisa jadi berkomentar, “Buat apa beli kalau bisa copy atau download secara gratis?” Dan jawaban kita?

Balas

niki Reply:

saya kembali mengomentari artikel ini, karena lagi kebetulan googling2 aja, eeeh ketemu lagi ini artikel bagus hehe.
tapi saya juga mau sekalian menanggapi pernyataan harlan boer diatas (pada tanggal 26 Agustus 2008) .
menurut saya, simpel saja solusinya: label, artis, designer, dan promotor memang harus bekerja sama utk memberikan NILAI TAMBAH utk sebuah album yg akan diproduksi.
kita bisa lihat contoh ini di negara2 maju & ’sadar/respek musik’ seperti misalnya, lagi2, di Jepang.
kenapa orang2/masyarakat Jepang spertinya demen membeli, bahkan mengkoleksi setiap album, bahkan rilisan single setiap artis ? jawabannya: karena NILAI TAMBAH yg bisa berupa banyak bentuk, misalnya: design cover dengan gambar yg menarik sekali , lalu package album yg isinya menarik, atau kalo beli albumnya bisa sekalian dapet merchandise (pernak-pernik) gratis, sperti T-shirt, dsb. pokoknya nilai-nilai tambah yg tidak bisa didapatkan jika seseorang cuman mendownload atau nge-burn secara gratisan doang!
lalu , utk menghemat costs (biaya), bisa diakali juga namun masih tetap tanpa mengurangi “nilai2 tambah” tersebut, bahkan bisa meNAMBAHkan nilai , contoh: ganti cover cd jangan pake hard-case, tapi pake yg plastik-an, nah tapi di-design secara UNIK & semenarik mungkin! misalnya, gua selalu salut sekali ama design cover-nya album Mocca yg ketiga: Colours, dengan berbentuk sperti box utk krayon2 . lebih murah daripada hard-case , tapi sekaligus juga ada nilai tambah , dan KREATIF pula! benar2 patut diacungi dua jempol!

nah lantas kalau sesudah pelaku musik diatas berupaya semaksimal mungkin sperti gua sebutkan diatas, dan misalnya masih juga ada orang2 (konsumen) yg berdalih ini lah itu lah, sperti yg dipaparkan mas harlan boer diatas.. maka kita bisa jawab dengan ‘menampar’ mereka secara tegas namun berwibawa: “bro, coba posisikanlah diri lu sebagai musisi2 itu, apalagi musisi2 yg memang mnurut lu kualitas musiknya bagus, & apalagi kalo lu DEMEN ama tu musik/band. karena biar gimanapun, mereka bisa makan itu dari hasil kita beli album mereka, ato bayar pas nonton konser/show/gigs mereka! cobalah lebih ikhlas & tenggang rasa membantu bro-bro kita ini. kita juga kalau jadi mereka, ga mau diperlakukan seenaknya atau ‘gratisan’ khan?” syukur2 kalo orang itu pada akhirnya bisa insaf atau dalam hati sadar.
tapi kalo masih ga sadar2 juga?….tinggalkan saja dia, mnurut gua. berarti dia emang mentalnya udah ‘bobrok’ banget. Tetapi masih banyak teman2 (konsumen) kita yg lain yg masih bisa kita sadarkan! intinya: selalu sadarkan teman2 atau orang2 di sekeliling kita bahwa kita harus selalu SUPPORT musik indonesia (karya anak bangsa sendiri), apalagi kalau kita udah SUKA ama suatu band/artis/musisi. masa sih ga di-support juga?…
karena kalau bukan kita yg men-support musik tanah air yg konon kata orang2 luar negeri sbenarnya kaya potensi & variasi sekali (namun sayangnya kurang di-support oleh para label besar kita) , maka siapa lagi??

Salam musik indo!
semoga bisa terus maju & berkembang!
(jika mau berdiskusi lebih lanjut, bisa email saya di: nikiwonoto@gmail.com . saya akan dgn amat senang hati membaca & menanggapinya! karena saya pun peduli sekali akan kemajuan scene musik indonesia ini!)

Balas

Aji The Billy

Aug 26th, 2008

Kalo penyadaran belum mempan menyelamatkan kesadaran untuk menghargai para musisi dan pendukung dibelakang kesuksesannya, berarti emang begitulah mental bobrok para penikmat musik ditanah air..termasuk saya juga sebagai salah satu pelakunya,haha..
Lebih baik sekarang para pelaku industri mencari ide yang lebih kreatif mensiasati kebobrokan mental ini..

Regards

Balas

nawang utomo

Aug 27th, 2008

akhirnya ada juga yang memulai untuk membahas masalah ini. Salut untuk robin malau..!!
Sebetulnya, jika ingin lebih mendasar lagi, poin paling penting adalah menghargai musik itu sendiri. Membayar adalah salah satu bentuk atau cara menghargai.
Pendapat Robin Malau tentang semua pihak yang terkait harus terlibat, itu jelas 100% benar. dari mulai label, distributor, artis manajemen, artis itu sendiri, konsumen, eo, promotor bahkan media adalah merupakan satu kesatuan ekosistem industri yang dalam kondisi apapun tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Hubungan dan keterkaitan diantara mereka haruslah tanggung renteng. Yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan industri adalah mereka semua. Hanya peran dan caranya yang membedakan.
Contoh : dari sisi artis, jadilah musisi yang memang berkualitas dan bertanggung jawab. dari sisi konsumen, membeli hasil rekaman yang asli. Dari sisi label, rilislah artis yang memang sudah layak untuk dipasarkan.
Jika semua sudah berjalan sesuai dengan koridor masing-masing, proses penyelamatan musik akan berjalan dengan sendirinya. Bahkan mungkin tanpa disadari oleh masing-masing pihak.

Salut untuk tim musikator…

Balas

niki

Aug 29th, 2008

masalahnya: percuma musisi ampe berkualitas dan bertanggungjawab , bahkan international-quality, tetapi kalau tetap MISKIN gara2 konsumen beli bajakan, label meras mereka, dsb! kasihan para musisi, pasti mereka ujung2nya jadi mikir: “buat apa gua cape2 bikin musik yg HIGH-quality??”

kadang makanya gua suka ngiri aja ama scene musik di luar, trutama skarang2 ini sih gua lagi salut2nya ama scene musik di JEPANG.
selain musik2 mereka utk NEW artist/band-nya selalu anjrit2 (keren2) kualitasnya, namun label & semua pihak industri musik, bahkan sampai konsumen pada bisa APPRECIATE ama yg namanya profesi musisi itu! konsumen disono denger2 bahkan berbudaya ‘kolektor’ , alias senang/hobi mengkoleksi CD2 si artis, bahkan single2-nya!
kapan indo bisa jadi sperti ini??… not in another 100 years??

lalu saya juga salut dengan musisi/band2 indie di indo yg karena melihat kondisi scene musik tanah air yg mencemaskan , jadi insiatif jual album2 mereka OVERSEAS (alias keluar negeri)!
contoh2nya sudah banyak: mocca, white shoes & couples company, Santa Monica, Ballads of the Cliche.
saya selalu benar2 kagum dan bahkan sering bertanya: “gimana sih cara mereka sampai akhirnya bisa dikenal, & bahkan sukses di arena international (bukan di indo doang!) ? ”
terus terang saja, spertinya band2 indie macem begini lebih ada future-nya dibanding band2 mayor di indo sini, yg selain uda disetir ama label, makin diperas pula, eeeh dibajak pula! ck ck ck kasihan banget jadinya!

(jika mau komen lebih lanjut atau berdiskusi dengan saya secara pribadi, bisa email saya di nikiwonoto@gmail.com )
terima kasih
salam musik indo!

Balas

Jimi

Aug 30th, 2008

Mari kita tebarkan pesona musik indo, tanpa diskriminasi 3G – Generasi, Genre ataupun Gaya bermusik
Mari kita ajarkan semampu kita bahwa yang legal adalah legal dan yang illegal adalah tanggung sendiri dosanya

Mulai dari apa yang bisa
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari sekarang

Balas

Robin Malau

Sep 1st, 2008

Ya itu sih masalahnya, kalo berharap pendengar musik ‘menghargai’ karya dengan demikian mereka sebaiknya membeli… hmmm… kayaknya kita terlalu naif deh…

Balas

andre

Sep 5th, 2008

industri musik yg mana om ?
klo untuk industri musik indie label tanah air, puji tuhan saya tidak pernah beli bajakan…
saya selalu beli karya original mereka yang menurut saya yahud buat kuping saya, kalo kurang yahud ya saya tidak beli, tidak juga membajak, cukup tau lagu nya aja dari myspace (band indie selalu punya myspace, 80% band major boro2 ngerti myspace, klo pun ngerti paling juga ikut2an anak indie biar di bilang keren dan ngga ketinggalan jaman)…hehehe

kalo untuk industri musik major label, puji setan saya tidak pernah ada niat untuk mendengarkan, apalagi membeli….
90% sampah sih bukan band! whahahahaha….

Balas

aldy

Sep 20th, 2008

dan mungkin yang terpenting jangan munafik……..sukses bro !!!!!

Balas

japri

Mar 13th, 2009

Hold on … memang ada apa sih dgn industri musik di Indonesia ? kenapa ? Kalian memangnya di industri musik ?

Balas

japri Reply:

Mengenai bajakan jangan salahin pembeli-nya. Tapi salahin sistem-nya. Pembeli rata2 ngk tahu apa2. Innocent …

Balas

Silahkan Berkomentar