Bagaimana Cara Menyelamatkan Industri Musik?

Sudah lama sebenarnya, saya ingin membahas hal ini. Saya selalu brainwash team saya dimanapun saya bekerja dengan pola pikir seperti ini, hasilnya saya menghasilkan banyak orang yang terbakar semangatnya dan berpikir lebih maju. Baru sekarang terpikir untuk ngarang posting di Musikator.

Ada pertanyaan umum:

Bagaimana cara menyelamatkan industri musik?

Gampang sih. Tapi syaratnya, semua musisi, artist manager, record label, fans itu sendiri harus terlibat. Nah melibatkan semua stakeholder itu yang susah. Padahal caranya gampang banget…

Oh ya? Bagaimana caranya?

Bayar semua musik yang kamu dengarkan.

Hmm… nah loh, gampang kan?

Dengan membayar semua lagu yang kamu dengarkan di CD, Kaset, Piringan Hitam, dan MP3 player kamu, berarti kamu sedang menyelamatkan industri musik. Dengan adanya uang yang berpindah seiring perpindahan karya (produk) dari distributor ke end user (fans, pendengar musik), maka sub-sistem 1 dari sistem industri musik akan mendapat darah segar untuk hidup lebih panjang. Keadaan yang dinamakan transaksi itulah yang menyuntikkan darah ke nadi industri musik.

Sekarang bayangkan jika kamu membayar semua tiket konser (ngga minta tiket gratisan terus), bayangkan jika kamu membayar semua lagu yang kamu download dari internet (ngopi dong, ngopi doooong…) industri musik pasti selamat.

Wah banyak panitia yang rip off, banyak band yang lagunya jelek, ya… ceteris paribus 2… kalau jelek ya jangan dibeli…

Kesimpulan:

Ah si Robin cuma menghayal. Haha…

Ya gitu deh, dari jawaban yang gampang tadi, timbul pertanyaan dan masalah baru. Sekarang kita sudah tahu cara menyelamatkan industri musik. Pertanyaannya, ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang?’

  1. sub sistem adalah elemen yang menghidupkan sistem - salah satu sub sistem di sistem industri musik adalah industri rekaman musik
  2. Cara berpikir jika mengidentifikasi dan membaca masalah yang berhubungan dengan logika bisnis dan ekonomi. Ada keadaan ekonomi yang dinamakan Ceteris Paribus, yaitu sebuah keadaan dimana faktor lain yang berkaitan dalam keadaan konstan. Artinya? Sistem ekonomi itu adalah sebuah sistem yang kompleks, jadi jangan dibahas semua, anggap keadaan lain itu baik-baik saja.

dinan said,

August 25, 2008 @ 2:52 am

setuju!!!

Prima said,

August 25, 2008 @ 8:57 am

ya iyalah, namanya juga industri. hehehe…

Windu said,

August 25, 2008 @ 10:52 am

Hmm…

Saya sebetulnya setuju, bahwa kita memang harus membayar untuk tiap jerih payah musisi.

Terus terang, saya juga masih punya kebiasaan jelek nge-download dari web mp3 Rusia. Namun, lagu2 yang saya download sebatas lagu2 yang memang udah nggak mungkin kita dapatkan di toko kaset, atau lagu langka yang udah jaduls. Kalo emang saya harus bayar, saya masih belum tau gimana bayarnya. Dan saya masih agak2 konservatif (parno) untuk membagi nomor kartu kredit saya di internet.

Lagu2 (baru) Indonesia saya nggak pernah download, karena kita udah biasa dengerin dari radio, sinetron, infotainment, jalan2 ke Mall, atau malah waktu naik angkot. Jadi udah nggak greget lagi untuk didapatkan, baik membayar ataupun gratisan.

Lagu2 indie pribumi, saya cuma download kalo memang disediakan link gratisan secara resmi.

Kalo ini mengenai industri musik Indonesia, seandainya kita mau download lagu2 pribumi, gimana sistem pembayarannya? Yang saya tau (kalo nggak salah), http://www.importmusik.com menerapkan sistem potong pulsa.

Apa ada mekanisme yang lain untuk membayar tiap lagu (pribumi) yang kita download? Paypal? Visa?

Kalo ada info, makasih ya..

cietra said,

August 25, 2008 @ 5:53 pm

bayaarrr buuuu…jangan ngopi muluuuu…
kasian yang punya warunggg

Robi Navicula said,

August 25, 2008 @ 7:39 pm

Hehehe…Wind, bayar aja susah yah…sama aja kayak ngantre di kasir swalayan… atau mau bikin NPWP (bayar pajak)…

Niat baik itu seringkali susah… tapi kalau beli online susah, kita bisa contact langsung ke bandnya buat mesen CD original via pos.

Tambahan buat online music sale lokal, ada juga tuh http://www.digitalbeatstore.com, cuma bandku apply udah lama banget, ga dimuat2. Padahal mereka yg ngundang kita join disana.

Haha…bayar aja susah, apalagi mau jualan.

harlan boer said,

August 26, 2008 @ 2:04 am

Lalu, pertanyaan sebagian konsumen yang terusik,”Untuk apa industri musik diselamatkan? Toh, tanpa membeli rekaman musik, saya masih bisa menonton tayangan-tayangan musik di televisi, mendengar lagu di radio.” Atau bagi “segmen yang lebih intelek”, bisa jadi berkomentar, “Buat apa beli kalau bisa copy atau download secara gratis?” Dan jawaban kita?

Aji The Billy said,

August 26, 2008 @ 5:23 pm

Kalo penyadaran belum mempan menyelamatkan kesadaran untuk menghargai para musisi dan pendukung dibelakang kesuksesannya, berarti emang begitulah mental bobrok para penikmat musik ditanah air..termasuk saya juga sebagai salah satu pelakunya,haha..
Lebih baik sekarang para pelaku industri mencari ide yang lebih kreatif mensiasati kebobrokan mental ini..

Regards

nawang utomo said,

August 27, 2008 @ 2:51 am

akhirnya ada juga yang memulai untuk membahas masalah ini. Salut untuk robin malau..!!
Sebetulnya, jika ingin lebih mendasar lagi, poin paling penting adalah menghargai musik itu sendiri. Membayar adalah salah satu bentuk atau cara menghargai.
Pendapat Robin Malau tentang semua pihak yang terkait harus terlibat, itu jelas 100% benar. dari mulai label, distributor, artis manajemen, artis itu sendiri, konsumen, eo, promotor bahkan media adalah merupakan satu kesatuan ekosistem industri yang dalam kondisi apapun tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Hubungan dan keterkaitan diantara mereka haruslah tanggung renteng. Yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan industri adalah mereka semua. Hanya peran dan caranya yang membedakan.
Contoh : dari sisi artis, jadilah musisi yang memang berkualitas dan bertanggung jawab. dari sisi konsumen, membeli hasil rekaman yang asli. Dari sisi label, rilislah artis yang memang sudah layak untuk dipasarkan.
Jika semua sudah berjalan sesuai dengan koridor masing-masing, proses penyelamatan musik akan berjalan dengan sendirinya. Bahkan mungkin tanpa disadari oleh masing-masing pihak.

Salut untuk tim musikator…

niki said,

August 29, 2008 @ 9:30 pm

masalahnya: percuma musisi ampe berkualitas dan bertanggungjawab , bahkan international-quality, tetapi kalau tetap MISKIN gara2 konsumen beli bajakan, label meras mereka, dsb! kasihan para musisi, pasti mereka ujung2nya jadi mikir: “buat apa gua cape2 bikin musik yg HIGH-quality??”

kadang makanya gua suka ngiri aja ama scene musik di luar, trutama skarang2 ini sih gua lagi salut2nya ama scene musik di JEPANG.
selain musik2 mereka utk NEW artist/band-nya selalu anjrit2 (keren2) kualitasnya, namun label & semua pihak industri musik, bahkan sampai konsumen pada bisa APPRECIATE ama yg namanya profesi musisi itu! konsumen disono denger2 bahkan berbudaya ‘kolektor’ , alias senang/hobi mengkoleksi CD2 si artis, bahkan single2-nya!
kapan indo bisa jadi sperti ini??… not in another 100 years??

lalu saya juga salut dengan musisi/band2 indie di indo yg karena melihat kondisi scene musik tanah air yg mencemaskan , jadi insiatif jual album2 mereka OVERSEAS (alias keluar negeri)!
contoh2nya sudah banyak: mocca, white shoes & couples company, Santa Monica, Ballads of the Cliche.
saya selalu benar2 kagum dan bahkan sering bertanya: “gimana sih cara mereka sampai akhirnya bisa dikenal, & bahkan sukses di arena international (bukan di indo doang!) ? ”
terus terang saja, spertinya band2 indie macem begini lebih ada future-nya dibanding band2 mayor di indo sini, yg selain uda disetir ama label, makin diperas pula, eeeh dibajak pula! ck ck ck kasihan banget jadinya!

(jika mau komen lebih lanjut atau berdiskusi dengan saya secara pribadi, bisa email saya di nikiwonoto@gmail.com )
terima kasih
salam musik indo!

Jimi said,

August 30, 2008 @ 12:02 pm

Mari kita tebarkan pesona musik indo, tanpa diskriminasi 3G - Generasi, Genre ataupun Gaya bermusik
Mari kita ajarkan semampu kita bahwa yang legal adalah legal dan yang illegal adalah tanggung sendiri dosanya

Mulai dari apa yang bisa
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari sekarang

Robin Malau said,

September 1, 2008 @ 9:50 pm

Ya itu sih masalahnya, kalo berharap pendengar musik ‘menghargai’ karya dengan demikian mereka sebaiknya membeli… hmmm… kayaknya kita terlalu naif deh…

andre said,

September 5, 2008 @ 6:17 am

industri musik yg mana om ?
klo untuk industri musik indie label tanah air, puji tuhan saya tidak pernah beli bajakan…
saya selalu beli karya original mereka yang menurut saya yahud buat kuping saya, kalo kurang yahud ya saya tidak beli, tidak juga membajak, cukup tau lagu nya aja dari myspace (band indie selalu punya myspace, 80% band major boro2 ngerti myspace, klo pun ngerti paling juga ikut2an anak indie biar di bilang keren dan ngga ketinggalan jaman)…hehehe

kalo untuk industri musik major label, puji setan saya tidak pernah ada niat untuk mendengarkan, apalagi membeli….
90% sampah sih bukan band! whahahahaha….

aldy said,

September 20, 2008 @ 4:06 pm

dan mungkin yang terpenting jangan munafik……..sukses bro !!!!!

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI


Ada Pendapat? Silahkan berkomentar. Gratis, Bebas, Bertanggung Jawab dan sesuai dengan Kebijakan Komentar Musikator Dot Com. Cheers!