<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Bagaimana Cara Menyelamatkan Industri Musik?</title>
	<atom:link href="http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/</link>
	<description>Indonesia Music Directory, featuring free downloads from the finest Indonesian independent bands.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 07:00:35 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: japri</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-3556</link>
		<dc:creator>japri</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 19:43:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-3556</guid>
		<description>Mengenai bajakan jangan salahin pembeli-nya. Tapi salahin sistem-nya. Pembeli rata2 ngk tahu apa2. Innocent ...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mengenai bajakan jangan salahin pembeli-nya. Tapi salahin sistem-nya. Pembeli rata2 ngk tahu apa2. Innocent &#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: japri</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-3555</link>
		<dc:creator>japri</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 19:40:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-3555</guid>
		<description>Hold on ... memang ada apa sih dgn industri musik di Indonesia ? kenapa ? Kalian memangnya di industri musik ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hold on &#8230; memang ada apa sih dgn industri musik di Indonesia ? kenapa ? Kalian memangnya di industri musik ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: niki</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-3521</link>
		<dc:creator>niki</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 17:40:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-3521</guid>
		<description>saya kembali mengomentari artikel ini, karena lagi kebetulan googling2 aja, eeeh ketemu lagi ini artikel bagus hehe.
tapi saya juga mau sekalian menanggapi pernyataan harlan boer diatas (pada tanggal 26 Agustus 2008) .
menurut saya, simpel saja solusinya: label, artis, designer, dan promotor memang harus bekerja sama utk memberikan NILAI TAMBAH utk sebuah album yg akan diproduksi.
kita bisa lihat contoh ini di negara2 maju &amp; ’sadar/respek musik’ seperti misalnya, lagi2, di Jepang.
kenapa orang2/masyarakat Jepang spertinya demen membeli, bahkan mengkoleksi setiap album, bahkan rilisan single setiap artis ? jawabannya: karena NILAI TAMBAH yg bisa berupa banyak bentuk, misalnya: design cover dengan gambar yg menarik sekali , lalu package album yg isinya menarik, atau kalo beli albumnya bisa sekalian dapet merchandise (pernak-pernik) gratis, sperti T-shirt, dsb. pokoknya nilai-nilai tambah yg tidak bisa didapatkan jika seseorang cuman mendownload atau nge-burn secara gratisan doang!
lalu , utk menghemat costs (biaya), bisa diakali juga namun masih tetap tanpa mengurangi “nilai2 tambah” tersebut, bahkan bisa meNAMBAHkan nilai , contoh: ganti cover cd jangan pake hard-case, tapi pake yg plastik-an, nah tapi di-design secara UNIK &amp; semenarik mungkin! misalnya, gua selalu salut sekali ama design cover-nya album Mocca yg ketiga: Colours, dengan berbentuk sperti box utk krayon2 . lebih murah daripada hard-case , tapi sekaligus juga ada nilai tambah , dan KREATIF pula! benar2 patut diacungi dua jempol!

nah lantas kalau sesudah pelaku musik diatas berupaya semaksimal mungkin sperti gua sebutkan diatas, dan misalnya masih juga ada orang2 (konsumen) yg berdalih ini lah itu lah, sperti yg dipaparkan mas harlan boer diatas.. maka kita bisa jawab dengan ‘menampar’ mereka secara tegas namun berwibawa: “bro, coba posisikanlah diri lu sebagai musisi2 itu, apalagi musisi2 yg memang mnurut lu kualitas musiknya bagus, &amp; apalagi kalo lu DEMEN ama tu musik/band. karena biar gimanapun, mereka bisa makan itu dari hasil kita beli album mereka, ato bayar pas nonton konser/show/gigs mereka! cobalah lebih ikhlas &amp; tenggang rasa membantu bro-bro kita ini. kita juga kalau jadi mereka, ga mau diperlakukan seenaknya atau ‘gratisan’ khan?” syukur2 kalo orang itu pada akhirnya bisa insaf atau dalam hati sadar.
tapi kalo masih ga sadar2 juga?….tinggalkan saja dia, mnurut gua. berarti dia emang mentalnya udah ‘bobrok’ banget. Tetapi masih banyak teman2 (konsumen) kita yg lain yg masih bisa kita sadarkan! intinya: selalu sadarkan teman2 atau orang2 di sekeliling kita bahwa kita harus selalu SUPPORT musik indonesia (karya anak bangsa sendiri), apalagi kalau kita udah SUKA ama suatu band/artis/musisi. masa sih ga di-support juga?…
karena kalau bukan kita yg men-support musik tanah air yg konon kata orang2 luar negeri sbenarnya kaya potensi &amp; variasi sekali (namun sayangnya kurang di-support oleh para label besar kita) , maka siapa lagi?? 

Salam musik indo!
semoga bisa terus maju &amp; berkembang!
(jika mau berdiskusi lebih lanjut, bisa email saya di: nikiwonoto@gmail.com . saya akan dgn amat senang hati membaca &amp; menanggapinya! karena saya pun peduli sekali akan kemajuan scene musik indonesia ini!)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya kembali mengomentari artikel ini, karena lagi kebetulan googling2 aja, eeeh ketemu lagi ini artikel bagus hehe.<br />
tapi saya juga mau sekalian menanggapi pernyataan harlan boer diatas (pada tanggal 26 Agustus 2008) .<br />
menurut saya, simpel saja solusinya: label, artis, designer, dan promotor memang harus bekerja sama utk memberikan NILAI TAMBAH utk sebuah album yg akan diproduksi.<br />
kita bisa lihat contoh ini di negara2 maju &amp; ’sadar/respek musik’ seperti misalnya, lagi2, di Jepang.<br />
kenapa orang2/masyarakat Jepang spertinya demen membeli, bahkan mengkoleksi setiap album, bahkan rilisan single setiap artis ? jawabannya: karena NILAI TAMBAH yg bisa berupa banyak bentuk, misalnya: design cover dengan gambar yg menarik sekali , lalu package album yg isinya menarik, atau kalo beli albumnya bisa sekalian dapet merchandise (pernak-pernik) gratis, sperti T-shirt, dsb. pokoknya nilai-nilai tambah yg tidak bisa didapatkan jika seseorang cuman mendownload atau nge-burn secara gratisan doang!<br />
lalu , utk menghemat costs (biaya), bisa diakali juga namun masih tetap tanpa mengurangi “nilai2 tambah” tersebut, bahkan bisa meNAMBAHkan nilai , contoh: ganti cover cd jangan pake hard-case, tapi pake yg plastik-an, nah tapi di-design secara UNIK &amp; semenarik mungkin! misalnya, gua selalu salut sekali ama design cover-nya album Mocca yg ketiga: Colours, dengan berbentuk sperti box utk krayon2 . lebih murah daripada hard-case , tapi sekaligus juga ada nilai tambah , dan KREATIF pula! benar2 patut diacungi dua jempol!</p>
<p>nah lantas kalau sesudah pelaku musik diatas berupaya semaksimal mungkin sperti gua sebutkan diatas, dan misalnya masih juga ada orang2 (konsumen) yg berdalih ini lah itu lah, sperti yg dipaparkan mas harlan boer diatas.. maka kita bisa jawab dengan ‘menampar’ mereka secara tegas namun berwibawa: “bro, coba posisikanlah diri lu sebagai musisi2 itu, apalagi musisi2 yg memang mnurut lu kualitas musiknya bagus, &amp; apalagi kalo lu DEMEN ama tu musik/band. karena biar gimanapun, mereka bisa makan itu dari hasil kita beli album mereka, ato bayar pas nonton konser/show/gigs mereka! cobalah lebih ikhlas &amp; tenggang rasa membantu bro-bro kita ini. kita juga kalau jadi mereka, ga mau diperlakukan seenaknya atau ‘gratisan’ khan?” syukur2 kalo orang itu pada akhirnya bisa insaf atau dalam hati sadar.<br />
tapi kalo masih ga sadar2 juga?….tinggalkan saja dia, mnurut gua. berarti dia emang mentalnya udah ‘bobrok’ banget. Tetapi masih banyak teman2 (konsumen) kita yg lain yg masih bisa kita sadarkan! intinya: selalu sadarkan teman2 atau orang2 di sekeliling kita bahwa kita harus selalu SUPPORT musik indonesia (karya anak bangsa sendiri), apalagi kalau kita udah SUKA ama suatu band/artis/musisi. masa sih ga di-support juga?…<br />
karena kalau bukan kita yg men-support musik tanah air yg konon kata orang2 luar negeri sbenarnya kaya potensi &amp; variasi sekali (namun sayangnya kurang di-support oleh para label besar kita) , maka siapa lagi?? </p>
<p>Salam musik indo!<br />
semoga bisa terus maju &amp; berkembang!<br />
(jika mau berdiskusi lebih lanjut, bisa email saya di: <a href="mailto:nikiwonoto@gmail.com">nikiwonoto@gmail.com</a> . saya akan dgn amat senang hati membaca &amp; menanggapinya! karena saya pun peduli sekali akan kemajuan scene musik indonesia ini!)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aldy</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-1669</link>
		<dc:creator>aldy</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 08:06:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1669</guid>
		<description>dan mungkin yang terpenting jangan munafik........sukses bro !!!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dan mungkin yang terpenting jangan munafik&#8230;&#8230;..sukses bro !!!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andre</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-1474</link>
		<dc:creator>andre</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 22:17:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1474</guid>
		<description>industri musik yg mana om ? 
klo untuk industri musik indie label tanah air, puji tuhan saya tidak pernah beli bajakan...
saya selalu beli karya original mereka yang menurut saya yahud buat kuping saya, kalo kurang yahud ya saya tidak beli, tidak juga membajak, cukup tau lagu nya aja dari myspace (band indie selalu punya myspace, 80% band major boro2 ngerti myspace, klo pun ngerti paling juga ikut2an anak indie biar di bilang keren dan ngga ketinggalan jaman)...hehehe

kalo untuk industri musik major label, puji setan saya tidak pernah ada niat untuk mendengarkan, apalagi membeli....
90% sampah sih bukan band! whahahahaha....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>industri musik yg mana om ?<br />
klo untuk industri musik indie label tanah air, puji tuhan saya tidak pernah beli bajakan&#8230;<br />
saya selalu beli karya original mereka yang menurut saya yahud buat kuping saya, kalo kurang yahud ya saya tidak beli, tidak juga membajak, cukup tau lagu nya aja dari myspace (band indie selalu punya myspace, 80% band major boro2 ngerti myspace, klo pun ngerti paling juga ikut2an anak indie biar di bilang keren dan ngga ketinggalan jaman)&#8230;hehehe</p>
<p>kalo untuk industri musik major label, puji setan saya tidak pernah ada niat untuk mendengarkan, apalagi membeli&#8230;.<br />
90% sampah sih bukan band! whahahahaha&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Robin Malau</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-1447</link>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 13:50:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1447</guid>
		<description>Ya itu sih masalahnya, kalo berharap pendengar musik &#039;menghargai&#039; karya dengan demikian mereka sebaiknya membeli... hmmm... kayaknya kita terlalu naif deh...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya itu sih masalahnya, kalo berharap pendengar musik &#8216;menghargai&#8217; karya dengan demikian mereka sebaiknya membeli&#8230; hmmm&#8230; kayaknya kita terlalu naif deh&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jimi</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-1429</link>
		<dc:creator>Jimi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 04:02:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1429</guid>
		<description>Mari kita tebarkan pesona musik indo, tanpa diskriminasi 3G - Generasi, Genre ataupun Gaya bermusik
Mari kita ajarkan semampu kita bahwa yang legal adalah legal dan yang illegal adalah tanggung sendiri dosanya

Mulai dari apa yang bisa
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari sekarang</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mari kita tebarkan pesona musik indo, tanpa diskriminasi 3G &#8211; Generasi, Genre ataupun Gaya bermusik<br />
Mari kita ajarkan semampu kita bahwa yang legal adalah legal dan yang illegal adalah tanggung sendiri dosanya</p>
<p>Mulai dari apa yang bisa<br />
Mulai dari diri sendiri<br />
Mulai dari sekarang</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: niki</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-1427</link>
		<dc:creator>niki</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 13:30:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1427</guid>
		<description>masalahnya: percuma musisi ampe berkualitas dan bertanggungjawab , bahkan international-quality, tetapi kalau tetap MISKIN gara2 konsumen beli bajakan, label meras mereka, dsb! kasihan para musisi, pasti mereka ujung2nya jadi mikir: &quot;buat apa gua cape2 bikin musik yg HIGH-quality??&quot;

kadang makanya gua suka ngiri aja ama scene musik di luar, trutama skarang2 ini sih gua lagi salut2nya ama scene musik di JEPANG.
selain musik2 mereka utk NEW artist/band-nya selalu anjrit2 (keren2) kualitasnya, namun label &amp; semua pihak industri musik, bahkan sampai konsumen pada bisa APPRECIATE ama yg namanya profesi musisi itu! konsumen disono denger2 bahkan berbudaya &#039;kolektor&#039; , alias senang/hobi mengkoleksi CD2 si artis, bahkan single2-nya! 
kapan indo bisa jadi sperti ini??... not in another 100 years??

lalu saya juga salut dengan musisi/band2 indie di indo yg karena melihat kondisi scene musik tanah air yg mencemaskan , jadi insiatif jual album2 mereka OVERSEAS (alias keluar negeri)!
contoh2nya sudah banyak: mocca, white shoes &amp; couples company, Santa Monica, Ballads of the Cliche.
saya selalu benar2 kagum dan bahkan sering bertanya: &quot;gimana sih cara mereka sampai akhirnya bisa dikenal, &amp; bahkan sukses di arena international (bukan di indo doang!) ? &quot;
terus terang saja, spertinya band2 indie macem begini lebih ada future-nya dibanding band2 mayor di indo sini, yg selain uda disetir ama label, makin diperas pula, eeeh dibajak pula! ck ck ck kasihan banget jadinya!

(jika mau komen lebih lanjut atau berdiskusi dengan saya secara pribadi, bisa email saya di nikiwonoto@gmail.com )
terima kasih
salam musik indo!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>masalahnya: percuma musisi ampe berkualitas dan bertanggungjawab , bahkan international-quality, tetapi kalau tetap MISKIN gara2 konsumen beli bajakan, label meras mereka, dsb! kasihan para musisi, pasti mereka ujung2nya jadi mikir: &#8220;buat apa gua cape2 bikin musik yg HIGH-quality??&#8221;</p>
<p>kadang makanya gua suka ngiri aja ama scene musik di luar, trutama skarang2 ini sih gua lagi salut2nya ama scene musik di JEPANG.<br />
selain musik2 mereka utk NEW artist/band-nya selalu anjrit2 (keren2) kualitasnya, namun label &amp; semua pihak industri musik, bahkan sampai konsumen pada bisa APPRECIATE ama yg namanya profesi musisi itu! konsumen disono denger2 bahkan berbudaya &#8216;kolektor&#8217; , alias senang/hobi mengkoleksi CD2 si artis, bahkan single2-nya!<br />
kapan indo bisa jadi sperti ini??&#8230; not in another 100 years??</p>
<p>lalu saya juga salut dengan musisi/band2 indie di indo yg karena melihat kondisi scene musik tanah air yg mencemaskan , jadi insiatif jual album2 mereka OVERSEAS (alias keluar negeri)!<br />
contoh2nya sudah banyak: mocca, white shoes &amp; couples company, Santa Monica, Ballads of the Cliche.<br />
saya selalu benar2 kagum dan bahkan sering bertanya: &#8220;gimana sih cara mereka sampai akhirnya bisa dikenal, &amp; bahkan sukses di arena international (bukan di indo doang!) ? &#8221;<br />
terus terang saja, spertinya band2 indie macem begini lebih ada future-nya dibanding band2 mayor di indo sini, yg selain uda disetir ama label, makin diperas pula, eeeh dibajak pula! ck ck ck kasihan banget jadinya!</p>
<p>(jika mau komen lebih lanjut atau berdiskusi dengan saya secara pribadi, bisa email saya di <a href="mailto:nikiwonoto@gmail.com">nikiwonoto@gmail.com</a> )<br />
terima kasih<br />
salam musik indo!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nawang utomo</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-1416</link>
		<dc:creator>nawang utomo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 18:51:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1416</guid>
		<description>akhirnya ada juga yang memulai untuk membahas masalah ini. Salut untuk robin malau..!!
Sebetulnya, jika ingin lebih mendasar lagi, poin paling penting adalah menghargai musik itu sendiri. Membayar adalah salah satu bentuk atau cara menghargai.
Pendapat Robin Malau tentang semua pihak yang terkait harus terlibat, itu jelas 100% benar. dari mulai label, distributor, artis manajemen, artis itu sendiri, konsumen, eo, promotor bahkan media adalah merupakan satu kesatuan ekosistem industri yang dalam kondisi apapun tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Hubungan dan keterkaitan diantara mereka haruslah tanggung renteng. Yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan industri adalah mereka semua. Hanya peran dan caranya yang membedakan.
Contoh : dari sisi artis, jadilah musisi yang memang berkualitas dan bertanggung jawab. dari sisi konsumen, membeli hasil rekaman yang asli. Dari sisi label, rilislah artis yang memang sudah layak untuk dipasarkan.
Jika semua sudah berjalan sesuai dengan koridor masing-masing, proses penyelamatan musik akan berjalan dengan sendirinya. Bahkan mungkin tanpa disadari oleh masing-masing pihak. 

Salut untuk tim musikator...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>akhirnya ada juga yang memulai untuk membahas masalah ini. Salut untuk robin malau..!!<br />
Sebetulnya, jika ingin lebih mendasar lagi, poin paling penting adalah menghargai musik itu sendiri. Membayar adalah salah satu bentuk atau cara menghargai.<br />
Pendapat Robin Malau tentang semua pihak yang terkait harus terlibat, itu jelas 100% benar. dari mulai label, distributor, artis manajemen, artis itu sendiri, konsumen, eo, promotor bahkan media adalah merupakan satu kesatuan ekosistem industri yang dalam kondisi apapun tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Hubungan dan keterkaitan diantara mereka haruslah tanggung renteng. Yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan industri adalah mereka semua. Hanya peran dan caranya yang membedakan.<br />
Contoh : dari sisi artis, jadilah musisi yang memang berkualitas dan bertanggung jawab. dari sisi konsumen, membeli hasil rekaman yang asli. Dari sisi label, rilislah artis yang memang sudah layak untuk dipasarkan.<br />
Jika semua sudah berjalan sesuai dengan koridor masing-masing, proses penyelamatan musik akan berjalan dengan sendirinya. Bahkan mungkin tanpa disadari oleh masing-masing pihak. </p>
<p>Salut untuk tim musikator&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aji The Billy</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/#comment-1412</link>
		<dc:creator>Aji The Billy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 09:23:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1412</guid>
		<description>Kalo penyadaran belum mempan menyelamatkan kesadaran untuk menghargai para musisi dan pendukung dibelakang kesuksesannya, berarti emang begitulah mental bobrok para penikmat musik ditanah air..termasuk saya juga sebagai salah satu pelakunya,haha..
Lebih baik sekarang para pelaku industri mencari ide yang lebih kreatif mensiasati kebobrokan mental ini..

Regards</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo penyadaran belum mempan menyelamatkan kesadaran untuk menghargai para musisi dan pendukung dibelakang kesuksesannya, berarti emang begitulah mental bobrok para penikmat musik ditanah air..termasuk saya juga sebagai salah satu pelakunya,haha..<br />
Lebih baik sekarang para pelaku industri mencari ide yang lebih kreatif mensiasati kebobrokan mental ini..</p>
<p>Regards</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

