<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Bagaimana Cara Menyelamatkan Industri Musik?</title>
	<atom:link href="http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/</link>
	<description>Indonesia Music Directory, featuring free downloads from the finest Indonesian independent bands.</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 01:18:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
	<item>
		<title>By: aldy</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1669</link>
		<dc:creator>aldy</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 08:06:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1669</guid>
		<description>dan mungkin yang terpenting jangan munafik........sukses bro !!!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dan mungkin yang terpenting jangan munafik&#8230;&#8230;..sukses bro !!!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andre</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1474</link>
		<dc:creator>andre</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 22:17:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1474</guid>
		<description>industri musik yg mana om ? 
klo untuk industri musik indie label tanah air, puji tuhan saya tidak pernah beli bajakan...
saya selalu beli karya original mereka yang menurut saya yahud buat kuping saya, kalo kurang yahud ya saya tidak beli, tidak juga membajak, cukup tau lagu nya aja dari myspace (band indie selalu punya myspace, 80% band major boro2 ngerti myspace, klo pun ngerti paling juga ikut2an anak indie biar di bilang keren dan ngga ketinggalan jaman)...hehehe

kalo untuk industri musik major label, puji setan saya tidak pernah ada niat untuk mendengarkan, apalagi membeli....
90% sampah sih bukan band! whahahahaha....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>industri musik yg mana om ?<br />
klo untuk industri musik indie label tanah air, puji tuhan saya tidak pernah beli bajakan&#8230;<br />
saya selalu beli karya original mereka yang menurut saya yahud buat kuping saya, kalo kurang yahud ya saya tidak beli, tidak juga membajak, cukup tau lagu nya aja dari myspace (band indie selalu punya myspace, 80% band major boro2 ngerti myspace, klo pun ngerti paling juga ikut2an anak indie biar di bilang keren dan ngga ketinggalan jaman)&#8230;hehehe</p>
<p>kalo untuk industri musik major label, puji setan saya tidak pernah ada niat untuk mendengarkan, apalagi membeli&#8230;.<br />
90% sampah sih bukan band! whahahahaha&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Robin Malau</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1447</link>
		<dc:creator>Robin Malau</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 13:50:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1447</guid>
		<description>Ya itu sih masalahnya, kalo berharap pendengar musik 'menghargai' karya dengan demikian mereka sebaiknya membeli... hmmm... kayaknya kita terlalu naif deh...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya itu sih masalahnya, kalo berharap pendengar musik &#8216;menghargai&#8217; karya dengan demikian mereka sebaiknya membeli&#8230; hmmm&#8230; kayaknya kita terlalu naif deh&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jimi</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1429</link>
		<dc:creator>Jimi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 04:02:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1429</guid>
		<description>Mari kita tebarkan pesona musik indo, tanpa diskriminasi 3G - Generasi, Genre ataupun Gaya bermusik
Mari kita ajarkan semampu kita bahwa yang legal adalah legal dan yang illegal adalah tanggung sendiri dosanya

Mulai dari apa yang bisa
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari sekarang</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mari kita tebarkan pesona musik indo, tanpa diskriminasi 3G - Generasi, Genre ataupun Gaya bermusik<br />
Mari kita ajarkan semampu kita bahwa yang legal adalah legal dan yang illegal adalah tanggung sendiri dosanya</p>
<p>Mulai dari apa yang bisa<br />
Mulai dari diri sendiri<br />
Mulai dari sekarang</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: niki</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1427</link>
		<dc:creator>niki</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 13:30:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1427</guid>
		<description>masalahnya: percuma musisi ampe berkualitas dan bertanggungjawab , bahkan international-quality, tetapi kalau tetap MISKIN gara2 konsumen beli bajakan, label meras mereka, dsb! kasihan para musisi, pasti mereka ujung2nya jadi mikir: "buat apa gua cape2 bikin musik yg HIGH-quality??"

kadang makanya gua suka ngiri aja ama scene musik di luar, trutama skarang2 ini sih gua lagi salut2nya ama scene musik di JEPANG.
selain musik2 mereka utk NEW artist/band-nya selalu anjrit2 (keren2) kualitasnya, namun label &#38; semua pihak industri musik, bahkan sampai konsumen pada bisa APPRECIATE ama yg namanya profesi musisi itu! konsumen disono denger2 bahkan berbudaya 'kolektor' , alias senang/hobi mengkoleksi CD2 si artis, bahkan single2-nya! 
kapan indo bisa jadi sperti ini??... not in another 100 years??

lalu saya juga salut dengan musisi/band2 indie di indo yg karena melihat kondisi scene musik tanah air yg mencemaskan , jadi insiatif jual album2 mereka OVERSEAS (alias keluar negeri)!
contoh2nya sudah banyak: mocca, white shoes &#38; couples company, Santa Monica, Ballads of the Cliche.
saya selalu benar2 kagum dan bahkan sering bertanya: "gimana sih cara mereka sampai akhirnya bisa dikenal, &#38; bahkan sukses di arena international (bukan di indo doang!) ? "
terus terang saja, spertinya band2 indie macem begini lebih ada future-nya dibanding band2 mayor di indo sini, yg selain uda disetir ama label, makin diperas pula, eeeh dibajak pula! ck ck ck kasihan banget jadinya!

(jika mau komen lebih lanjut atau berdiskusi dengan saya secara pribadi, bisa email saya di nikiwonoto@gmail.com )
terima kasih
salam musik indo!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>masalahnya: percuma musisi ampe berkualitas dan bertanggungjawab , bahkan international-quality, tetapi kalau tetap MISKIN gara2 konsumen beli bajakan, label meras mereka, dsb! kasihan para musisi, pasti mereka ujung2nya jadi mikir: &#8220;buat apa gua cape2 bikin musik yg HIGH-quality??&#8221;</p>
<p>kadang makanya gua suka ngiri aja ama scene musik di luar, trutama skarang2 ini sih gua lagi salut2nya ama scene musik di JEPANG.<br />
selain musik2 mereka utk NEW artist/band-nya selalu anjrit2 (keren2) kualitasnya, namun label &amp; semua pihak industri musik, bahkan sampai konsumen pada bisa APPRECIATE ama yg namanya profesi musisi itu! konsumen disono denger2 bahkan berbudaya &#8216;kolektor&#8217; , alias senang/hobi mengkoleksi CD2 si artis, bahkan single2-nya!<br />
kapan indo bisa jadi sperti ini??&#8230; not in another 100 years??</p>
<p>lalu saya juga salut dengan musisi/band2 indie di indo yg karena melihat kondisi scene musik tanah air yg mencemaskan , jadi insiatif jual album2 mereka OVERSEAS (alias keluar negeri)!<br />
contoh2nya sudah banyak: mocca, white shoes &amp; couples company, Santa Monica, Ballads of the Cliche.<br />
saya selalu benar2 kagum dan bahkan sering bertanya: &#8220;gimana sih cara mereka sampai akhirnya bisa dikenal, &amp; bahkan sukses di arena international (bukan di indo doang!) ? &#8221;<br />
terus terang saja, spertinya band2 indie macem begini lebih ada future-nya dibanding band2 mayor di indo sini, yg selain uda disetir ama label, makin diperas pula, eeeh dibajak pula! ck ck ck kasihan banget jadinya!</p>
<p>(jika mau komen lebih lanjut atau berdiskusi dengan saya secara pribadi, bisa email saya di <a href="mailto:nikiwonoto@gmail.com">nikiwonoto@gmail.com</a> )<br />
terima kasih<br />
salam musik indo!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nawang utomo</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1416</link>
		<dc:creator>nawang utomo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 18:51:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1416</guid>
		<description>akhirnya ada juga yang memulai untuk membahas masalah ini. Salut untuk robin malau..!!
Sebetulnya, jika ingin lebih mendasar lagi, poin paling penting adalah menghargai musik itu sendiri. Membayar adalah salah satu bentuk atau cara menghargai.
Pendapat Robin Malau tentang semua pihak yang terkait harus terlibat, itu jelas 100% benar. dari mulai label, distributor, artis manajemen, artis itu sendiri, konsumen, eo, promotor bahkan media adalah merupakan satu kesatuan ekosistem industri yang dalam kondisi apapun tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Hubungan dan keterkaitan diantara mereka haruslah tanggung renteng. Yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan industri adalah mereka semua. Hanya peran dan caranya yang membedakan.
Contoh : dari sisi artis, jadilah musisi yang memang berkualitas dan bertanggung jawab. dari sisi konsumen, membeli hasil rekaman yang asli. Dari sisi label, rilislah artis yang memang sudah layak untuk dipasarkan.
Jika semua sudah berjalan sesuai dengan koridor masing-masing, proses penyelamatan musik akan berjalan dengan sendirinya. Bahkan mungkin tanpa disadari oleh masing-masing pihak. 

Salut untuk tim musikator...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>akhirnya ada juga yang memulai untuk membahas masalah ini. Salut untuk robin malau..!!<br />
Sebetulnya, jika ingin lebih mendasar lagi, poin paling penting adalah menghargai musik itu sendiri. Membayar adalah salah satu bentuk atau cara menghargai.<br />
Pendapat Robin Malau tentang semua pihak yang terkait harus terlibat, itu jelas 100% benar. dari mulai label, distributor, artis manajemen, artis itu sendiri, konsumen, eo, promotor bahkan media adalah merupakan satu kesatuan ekosistem industri yang dalam kondisi apapun tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Hubungan dan keterkaitan diantara mereka haruslah tanggung renteng. Yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan industri adalah mereka semua. Hanya peran dan caranya yang membedakan.<br />
Contoh : dari sisi artis, jadilah musisi yang memang berkualitas dan bertanggung jawab. dari sisi konsumen, membeli hasil rekaman yang asli. Dari sisi label, rilislah artis yang memang sudah layak untuk dipasarkan.<br />
Jika semua sudah berjalan sesuai dengan koridor masing-masing, proses penyelamatan musik akan berjalan dengan sendirinya. Bahkan mungkin tanpa disadari oleh masing-masing pihak. </p>
<p>Salut untuk tim musikator&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aji The Billy</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1412</link>
		<dc:creator>Aji The Billy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 09:23:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1412</guid>
		<description>Kalo penyadaran belum mempan menyelamatkan kesadaran untuk menghargai para musisi dan pendukung dibelakang kesuksesannya, berarti emang begitulah mental bobrok para penikmat musik ditanah air..termasuk saya juga sebagai salah satu pelakunya,haha..
Lebih baik sekarang para pelaku industri mencari ide yang lebih kreatif mensiasati kebobrokan mental ini..

Regards</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo penyadaran belum mempan menyelamatkan kesadaran untuk menghargai para musisi dan pendukung dibelakang kesuksesannya, berarti emang begitulah mental bobrok para penikmat musik ditanah air..termasuk saya juga sebagai salah satu pelakunya,haha..<br />
Lebih baik sekarang para pelaku industri mencari ide yang lebih kreatif mensiasati kebobrokan mental ini..</p>
<p>Regards</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: harlan boer</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1407</link>
		<dc:creator>harlan boer</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 18:04:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1407</guid>
		<description>Lalu, pertanyaan sebagian konsumen yang terusik,"Untuk apa industri musik diselamatkan? Toh, tanpa membeli rekaman musik, saya masih bisa menonton tayangan-tayangan musik di televisi, mendengar lagu di radio." Atau bagi "segmen yang lebih intelek", bisa jadi berkomentar, "Buat apa beli kalau bisa copy atau download secara gratis?" Dan jawaban kita?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lalu, pertanyaan sebagian konsumen yang terusik,&#8221;Untuk apa industri musik diselamatkan? Toh, tanpa membeli rekaman musik, saya masih bisa menonton tayangan-tayangan musik di televisi, mendengar lagu di radio.&#8221; Atau bagi &#8220;segmen yang lebih intelek&#8221;, bisa jadi berkomentar, &#8220;Buat apa beli kalau bisa copy atau download secara gratis?&#8221; Dan jawaban kita?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Robi Navicula</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1403</link>
		<dc:creator>Robi Navicula</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 11:39:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1403</guid>
		<description>Hehehe...Wind, bayar aja susah yah...sama aja kayak ngantre di kasir swalayan... atau mau bikin NPWP (bayar pajak)...

Niat baik itu seringkali susah... tapi kalau beli online susah, kita bisa contact langsung ke bandnya buat mesen CD original via pos.

Tambahan buat online music sale lokal, ada juga tuh www.digitalbeatstore.com, cuma bandku apply udah lama banget, ga dimuat2. Padahal mereka yg ngundang kita join disana. 

Haha...bayar aja susah, apalagi mau jualan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hehehe&#8230;Wind, bayar aja susah yah&#8230;sama aja kayak ngantre di kasir swalayan&#8230; atau mau bikin NPWP (bayar pajak)&#8230;</p>
<p>Niat baik itu seringkali susah&#8230; tapi kalau beli online susah, kita bisa contact langsung ke bandnya buat mesen CD original via pos.</p>
<p>Tambahan buat online music sale lokal, ada juga tuh <a href="http://www.digitalbeatstore.com" rel="nofollow">http://www.digitalbeatstore.com</a>, cuma bandku apply udah lama banget, ga dimuat2. Padahal mereka yg ngundang kita join disana. </p>
<p>Haha&#8230;bayar aja susah, apalagi mau jualan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: cietra</title>
		<link>http://www.musikator.com/bagaimana-cara-menyelamatkan-industri-musik/comment-page-1/#comment-1401</link>
		<dc:creator>cietra</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 09:53:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.musikator.com/?p=733#comment-1401</guid>
		<description>bayaarrr buuuu...jangan ngopi muluuuu...
kasian yang punya warunggg</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bayaarrr buuuu&#8230;jangan ngopi muluuuu&#8230;<br />
kasian yang punya warunggg</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
