Bagaimana Jika Industri Musik Yang Salah?

by Robin Malau on 28/02/09 at 10:55 pm

mass-band-wrong

Foto oleh William Daffy

Beberapa hari terakhir saya menghabiskan waktu di luar Bali, di sebuah universitas elit di kawasan Tangerang. Disana saya memulai pekerjaan saya sebagai dosen part time, untuk mengajar bisnis di jurusan musik. Saya menemukan beberapa kenyataan menarik, belajar dari mahasiswa kelas saya. Hari-hari saya bersama mereka membuat saya semakin yakin bahwa industri musik Indonesia, terutama industri rekaman, BISA BERUBAH menjadi sesuatu yang lebih baik. 

Saya ingat, sekitar 20 tahun yang lalu, ketika saya pertama kali belajar kecanduan main gitar. Setiap hari, setiap saat hidup saya, yang saya pikirkan hanya main gitar. Walhasil saya ngga naik kelas, dan 2 kali hampir ngga naik kelas sampai akhirnya di drop out dari SMA. 

Orang tua, saudara dan orang-orang yang sayang sama saya bilang main musik ngga akan membawa saya kemana-mana, karena industri musik ‘tidak mampu menghasilkan nafkah’.  Mahasiswa saya is lucky, karena orang tuanya mau membiayai mereka untuk belajar di Sekolah Musik. Tapi meski tidak direstui pun saya ngga berhenti kecanduan main musik.

Saat itu saya masih terlalu muda untuk mengerti, tapi yang pasti saya ngga berhenti main musik hanya karena kenyataan musik tidak bisa menghasilkan uang (banyak). Akhirnya beneran kejadian ngga bisa menghasilkan uang banyak, karena sejak awal saya dan sebagian besar orang di sekitar saya sudah di didik dan di paksa untuk percaya bahwa lewat musik saya memang ngga bisa cari uang. Dari pengalaman tersebut saya belajar banyak. Belajar tentang masalah apa yang seharusnya seorang musisi percayai. 

Cerita kita skip ke tahun 1994, ‘band serius’ pertama saya akhirnya berhasil merilis album independen. Saya ingat waktu itu kami cukup membuat heboh di kalangan industri musik, tapi saya yakin hanya sebagian kecil saja dari mereka. Mereka yang support band saya waktu itu, mungkin, adalah orang-orang seperti yang sekarang mendukung gerakan Musikator (thanks!). Orang-orang yang cukup pandai, bijak dan mempunyai selera musik yang baik (heheh) untuk bisa mengerti, bahwa ada yang salah di industri musik kita.

Kita skip lagi ke minggu lalu, ada yang berkomentar di blog pribadi saya di entry Sorry Not Everyone Can Play Manager. Menurut beliau (sori kalo terdengar sadis, tapi saya ngga nyebut nama koq ;) – lagipula kamu pake nama alias kan?), 

Its good argument. But teotrikal ga slalu sama dengan practical.

Jawaban saya?

True.

Tapi KHUSUS untuk praktek industri musik Indonesia, practically harus berubah (if that makes any sense…).

Saya ngga akan ngebahas apa teori saya benar atau tidak, karena teori ngga bisa dibuktikan (hanya bisa diuji). Tapi latar belakang tulisan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Postingan Sorry Not Everyone Can Play Manager adalah sanggahan terhadap pendapat bahwa SEMUA ORANG BISA JADI MANAJER. Entah penulisnya emang polos atau bagaimana, tapi pola pikir tersebut (sangat) salah.
  2. Untuk melengkapi argumentasi saya, saya memberikan kajian teori. Teori dan prinsip-prinsip tersebut saya jalankan sendiri untuk mengarungi dunia musik, dan hidup saya secara umum.
  3. Tulisan yang saya sanggah, adalah tulisan seorang aktifis komunitas independen di sebuah koran paling besar di wilayah Jawa Barat. Yaitu wilayah yang bisa disebut sumber atau pelopor gerakan musik dan kegiatan anak muda independen lainnya di Indonesia. Artinya? Dunia musik sangat bergantung kepada orang-orang dari komunitas musik independen untuk memulai perubahan, jika komunitas independen sudah punya pola pikir asal-asalan seperti itu, mau jadi apa kita semua?  

Lebih jauh, ini adalah contoh orang yang hidup di paradigma masa lalu. Sudah jelas industri nya yang salah, karena ngga punya pakem dan orang-orang nya tidak cukup mengerti bagaimana menjalan sebuah perusahaan (apalagi industri), tapi masih berpikir bahwa teori dan praktek ngga selalu nyambung. Padahal, setahu saya, kalau prakteknya benar pasti nyambung sama teorinya. Silahkan tidak setuju tapi begitu logika saya berkata.

Sekarang, ini adalah argumentasi saya lebih lanjut. Ngga secara teori, tapi secara praktek:

  1. Waktu saya dan teman-teman mulai ‘ber-indie ria’ 1 dekade lalu, kami sering dituduh tidak masuk akal, teoritis, terlalu konseptual, penghayal dan lain sebagainya, yaitu hal-hal yang menurut kami malah cool (baca: tidak perduli sama apa yang orang-orang itu bilang, because we knew that they were wrong and it makes us looks even better…).
  2. Kami menjalankan tuduhan-tuduhan tersebut bertahun-tahun dan kami tidak pernah mundur 1. Hasilnya? Sekarang, sudah dimulai beberapa tahun yang lalu, industri musik (baca: industri rekaman musik) sedang menuju kehancuran sejati. Kehancuran disini berarti kemunduran skala bisnis yang sangat signifikan, dimana mereka (sebentar lagi, jika tidak sekarang) tidak akan mampu lagi membiayai skala operasi sebesar mereka dengan sumber penghasilan/revenue yang mereka dapatkan dari menjual album musik. Padahal album-album musik itu, menurut mereka sudah ‘memenuhi selera pasar’.
  3. Era Kematian Kontrol, dari media besar, perusahaan rekaman besar, radio dan televisi, yang dulunya mampu mengontrol apa yang disukai pasar, apa yang seharusnya didengarkan pasar, band mana yang seharusnya mereka suka is totally dying, if it’s not dead already.
  4. Bukti lain, kami membangun Musikator dengan menggunakan konsep dan teori bisnis dengan cara membangun komunitas. Hasilnya? Kami bisa mencapai hasil beberapa kali lipat dari apa yang dicapai komunitas musik online sejenis (yang ngga pake teori), dalam waktu yang jauh lebih singkat. 

Sekarang, mari kembali ke paradigma2 yang sekarang kita percayai sehari-hari. Apa benar praktek industri musik di Indonesia sudah benar? Benar dalam pengertian sudah memenuhi syarat praktek-praktek kesuksesan (artistik dan komersial) jangka panjang? Apa benar teori yang salah dan ngga nyambung dengan praktek? Jangan-jangan yang saya percayai selama ini malah benar, bahwa PRAKTEKNYA YANG SALAH?

Berikut Popular Beliefs3, dimana apa yang mereka lihat dan percaya bukan berarti sesuatu yang ‘benar’:

  1. 50.000 screaming fans is not always right. Bagaimana dengan 1000 orang fans tapi ekstremely profitable, yang tidak masuk ke golongan histeria masal tersebut?
  2. Media massa besar tidak mampu lagi membuat opini publik. Karena selalu ada media independen, terutama di internet. Dalam kasus perubahan dunia musik, PANDANGAN MASSA SUDAH TIDAK RELEVAN LAGI.
  3. Lagu yang ada di daftar Top 40 tidak selalu merupakan musik yang bagus 4.
  4. Semua orang bisa jadi manajer is TOTALLY WRONG. Misalnya jika semua orang bisa jadi manajer, siapa yang jadi crew dan musisi?  

Nah sekarang. Jika memang prakteknya yang salah, pertanyaannya adalah

Apa kita mampu salah lagi?

Bisa dibayangkan seberapa banyak lagi waktu yang kita harus habiskan untuk memperbaiki kesalahan kita sekarang di masa depan. Berapa biaya memperbaiki kesalahan tersebut? Berapa banyak lagi korban, musisi dan pelaku industri independen yang akhirnya muak dan berhenti bermusik, padahal mereka bisa berkontribusi untuk memperbaiki nasib musik bangsa?

Gimana, sanggup? Kalau tidak sanggup berarti kita harus berubah. Berubah DALAM WAKTU YANG LEBIH CEPAT LAGI.

Gimana, berani jadi pelopor perubahan?

Keputusan dan Masa Depan musik bangsa ini ada di tangan kita sendiri.

  1. Bubarnya band saya tidak relevan dengan istilah mundur. Buktinya sampai sekarang band saya masih diingat, karena kami ‘bubar pada saat yang tepat’
  2. Sudut pandang masyarakat umum, atau apa yang benar menurut orang kebanyakan
  3. Apa yang dipercaya banyak orang, dimana kita diajarkan untuk percaya
  4. Hasil obrolan dengan DJ. Marlowe a.k.a. Electronpost

14 Komentar

MoronCoder

Mar 1st, 2009

sangat komprehensif dan mendidik.. salute!

Balas

dinan

Mar 2nd, 2009

Api-nya sudah mulai terasa panas…

Balas

Robin Malau Reply:

Hihi…

Balas

wicaksana

Mar 2nd, 2009

weuw…… weuw……. hati besar dan kecilku berkata kau tepat sekali!!!!!

Balas

male unwisely

Mar 2nd, 2009

saya setuju… contoh yg paling sederhana saja, apapun teori yg kita pelajari baik di lembaga pendidikan (di Indonesia) formal maupun non formal, sering kali kita mendapati (dengan pikiran belum sadar tentunya..:D) tidak sesuai penerapannya dilapangan. Well, dalam satu obrolan dengan teman, dia berkata ” kita mempelajari hitung2an sipil dikampus dan pasti teorinya tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan.
sekedar catatan dari saya, bahwa ilmu (teori) tidak lagir dengan sendirinya, tapi teori lahir dari pengalaman (praktek) langsung, Teori Gitar lahir karena seseorang memainkan gitar pada awalnya, dan merasa perlu untuk memberikan guide lines yg jelas tentang bagaimana memainkan gitar, dan terciptalah teori.
Praktek yang salah itu wajib, teori yang salah itu belum tentu.
closing statement saya, Teori diciptakan sebagai guide lines (kata Pak Robin “Pakem”) yang harus kita jalani dalam melakukan sesuatu, kenapa?? tujuannya hanya satu agar lapa yg menjadi tujuan kita dapat dicapai. Kita semestinya harus berbesar hati mengakui apa yg kita lakukan secara tidak langsung tanpa disadari mengacu pada teori-teori yg sudah diciptakan, yg juga pada akhirnya menuju pada satu kesadaran akan kebenaran teori tersebut. Apabila ditemukan hal2 yg baru dalam pelaksanaan, itu merupakan satu bentuk pengembangan dari teori yg ada… and it’s make perfect right??..

Balas

Robin Malau Reply:

Ilmu (teori) tidak lagir dengan sendirinya, tapi teori lahir dari pengalaman (praktek) langsung

True.

Balas

ardy chmbrs

Mar 6th, 2009

Yess..Yess..Yess..!!
Cheers

Balas

Oddie

Mar 18th, 2009

Robin,
Konsep bahwa teori tidak sama dengan prakteknya adalah benar.. it’s true for all fields (even all aspects of life) tidak terbatas di musik industri aja.

Menurut gw (DISCLAIMER: sangat subjektif, agak ranting dan bodo amat lah hehe):
“Kematian” dari musik industri sebenarnya sesuatu yang bagus karena industri musik yang ada sebelum revolusi digital music (mp3) udah sangat stagnant, basi dan destruktif. Gerakan musik independen pun lahir karena kebosanan atas stagnansi dari apa yang label2 dan media2 musik spoonfed ke masyarakat. It was a sign of time when MTV started to play more “reality shows” than music videos. It was a sign of time when the media mulai bingung untuk ngasih label ke musik2 yang diluar pengotak2an mereka.. I mean, “alternative music”.. what the fuck is that? Alternative to what? To the crappy generic pop rap rock songs they play on MTV? Jane’s Addiction was alternative rock band. As opposed to what.. Motorhead? Anyway, it’s silly. Dan itu semua jargon2 keluar dari marketing team di label2 dan media2. Recycle and rebrand. We shouldn’t have paid that much attention but, we did, and we got trapped into it.

Musik industri itu ga punya formula. Mereka ga tau ngitung band mana yang kalo disupport akan berhasil dan ngasilin duit dan mana yang tidak. Mereka tebak2an juga ngikutin selera pasar, ngikutin apa yang musik fans are dictating. Kalo ga gerakan independent band seperti Netral, Puppen, dll mulai bergerak dan mulai jadi omongan di antara music fans dan kedengaran di telinga A&R label pastinya ga akan label2 besar akan merekrut band2 yang ‘non top-40′ menurut standard saat itu. Begitu jg kejadiannya dgn musik2 pop melayu yang sekarang meradja sampai stadium 12. Itu pasar yang minta. Casual music listeners (baca: bukan kolektor album atau fanatik dari genre musik tertentu) yang mendikte bahwa mereka mau spend uang utk beli album, download mp3 dan masang RBT. Dalam kondisi penjualan physical cd/kaset yang semakin tiarap, of course musik industri dalam mental state yang desperate for cash. Dan dalam kondisi ini gw rasa idealism, experimentalism dan ism2 lain yang cool menjadi prioritas terbawah. Should we care much about the general condition of the music industry? Well, no. Any band harus tetap bebal dan keras kepala dalam bikin musik yg mereka cintai (that’s the whole point of this ranting).. because at the end of the day what’s left is your songs/albums and by God you’d want to be proud of what you have put your name on.

Maen musik bisa bikin banyak duit? Sure enough. If you play along with what the public demands. Will it be worth it? Go back to step 1: why the fuck do you want to be a musician? Long hours in the studio, crappy sound system, rejections from fans, etc.. sounds like fun? Kalau memang setuju untuk bebal dan keras kepala dalam bikin musik yang loe suka, better get a steady job that can support your music idealism.. that until the public takes a liiking to your music and supports you with millions upon millions of rupiah. Kalo ga cukup bebal dan keras kepala, quit it.. stay with the steady job. Not everyone is cut off to be a musician just like ga semua orang bisa jadi manajer. hah.

Okay, segitu dulu gw nyerocos dalam keadaan setengah tidur… if it doesn’t make sense. Write your own.

Good posting by the way, Robin.

cheers,
O.d.

Balas

Robin Malau Reply:

Dude, thanks for the rants. Hahah. Legend!

Emang beda teori dan praktek di all walks of life. Tapi di industri musik, we need change. Obvious. No guarantee for the better, but we need change. Simply because we FAIL. If that makes any sense :D

We can change the music industry by building bridges on this Knowing Doing Gap (the gap between theory & practical senses) through education & knowledge sharing (and… rants).

I’m sure your quality can help, Oddie.

Cheers,
Robin

Balas

Nyonk_Aldi

Mar 25th, 2009

mata indra & mata hati jadi serasa telanjang lagi..totally refreshin mind !
Setuju banget dengan esensinya, lebih setuju lagi kalo sebenarnya dunia ini selalu berubah.
Perubahan itu abadi, manusia hidup dengan perubahan, music too.

Sori kl ngelantur..

Balas

erickningrat

May 30th, 2009

artikel yang menarik

salam kenal

Balas

dicky

Feb 15th, 2010

pembahasan…yang menarik….untuk di kaji…selanjutnya….!!! good think…!! bagus..saya jadi tertarik…..salam kenal ..(“,)..terima kasih….

Balas

Yang nge-link ke Artikel ini:

  1. beatheaven » Blog Archive » Bagaimana Jika Industri Musik Yang Salah? | Musikator | Blog …
  2. Bagaimana Jika Industri Musik Yang Salah? « Industri juoss..

Silahkan Berkomentar