Dari Press Release:
Hari ini, Nokia mengumumkan bahwa SONY BMG telah resmi bergabung dengan Nokia Comes With Music, sebuah cara revolusioner untuk menemukan dan mendengarkan musik dengan menggunakan produk Nokia.
Menurut Tero Ojanpera, Eksekutif VP dan Pemimpin Nokia Entertainment dan Community Business:
Sebagai salah satu pemimpin pasar perusahaan rekaman musik major, kolaborasi kami dengan SONY BMG membuat kami bisa menawarkan banyak sekali musik lokal dan internasional yang tergabung dengan SONY BMG, ke dalam program Comes With Music.
Nokia Comes With Musik adalah cara inovatif yang tidak hanya menolong orang menemukan dan menikmati musik, tapi juga mengembangkan bisnis secara umum dan penghasilan untuk Artis, Label dan pihak-pihak pemegang hak cipta.
Menurut Thomas Hesse, President Global Digital Business & US SAles SONY BMG:
Inisiatif ini merepresentasikan cara baru yang penting untuk mengakses musik, dimana fans musik bisa mengeksplorasi katalog musik SONY BMG dalam jangka waktu satu tahun. Kami rasa model bisnis ini akan mengarahkan pengguna untuk mencari materi produk musik lebih dalam lagi, memperluas selera musik, dan mendengarkan musik lebih banyak lagi. Pada prosesnya, kami rasa hal ini akan menyediakan peluang baru bagi artis di semua genre musik, dan meningkatkan permintaan produk musik secara keseluruhan.
Orang yang membeli Nokia Comes With Music akan mendapatkan 1 tahun akses ke katalog musik SONY BMG. Konsumen bisa mendownload lagu ke handphone dan komputer lewat Nokia Music Store dalam jangka waktu setahun sejak membeli produk Nokia tersebut.
Setelah masa 12 bulan tersebut berakhir, konsumen boleh tetap memiliki materi yang telah di download tersebut, tetapi harus membeli produk baru yang kompatibel. Setelah itu, fans musik boleh materi lagu-lagu tadi seumur hidup.
Program Comes With Music rencananya akan launching pada pertengahan tahun 2008.
Informasi lebih lanjut di website Nokia.
Catatan: belum ada kabar kapan program ini akan dilaksanakan di Indonesia.
Update 28 April 2008:
Kabar terakhir adalah Nokia terkena konflik karena masalah pembayaran penjualan whole-sale per unit (per lagu) yang di download user.
Besok, Selasa 22 April adalah Hari Bumi. Video ad dari Discovery Channel dibawah ini sangat cocok untuk merayakannya. Happy Earth Day, The World is Just Awesome!
Made In Japan dan Led Zeppelin adalah album Rock pertama yang saya miliki. Ekspresi yang muncul ketika pertama kali mendengarkannya adalah, iya, asli, terperanjat kaget. Untuk ukuran jaman itu–era ketika Cosmas Batubara sedang menjabat sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat– kumpulan tembang milik DEEP PURPLE serta LED ZEPPELIN tersebut sungguh mendobrak tatanan (musik) awam. Amat liar. Sangat sangar. Dan yang mencuat paling jelas: LEBIH CEPAT + LEBIH KERAS dari segala yang pernah saya dengar sebelumnya. Goodbye Chica Koeswoyo. Hello Ian Gillan.
Selanjutnya saya asyik mengembara di ranah cadas. Dan dari sebegitu banyak sampul album yang pernah saya simak, yang paling liat melekat di kepala saya adalah: Women and Children First milik VAN HALEN Baca selanjutnya…

Guitarati.com adalah website rekomendasi musik yang baru saja launch minggu lalu. Website ini menggunakan salah satu pola mental Synesthesia, yaitu keadaan dimana fungsi indra manusia seperti penglihatan, suara, bau, dsb; yang dapat menimbulkan rasa yang berkaitan dengan cara yang tidak lazim. Dalam hal ini, Guitarati menggunakan warna untuk merekomendasikan musik.

Picture by p0p*eRic
Di jaman sekarang, tekanan hidup untuk menjadi ‘anak muda’ semakin lama semakin tinggi. Dari sisi psikologi, kemungkinan penyebab banyak anak muda yang do drugs semakin lama semakin banyak. Anak muda sekarang sangat sulit untuk melepaskan diri dari apa yang namanya Drugs.
Tetapi ada 1 komunitas yang berdiri sendiri dan tidak terpengaruh oleh masalah itu, kebanyakan dari kita sudah tahu yang namanya Straight Edge. Semangat Straight Edge terdengar cukup sederhana; don’t drink, don’t smoke and don’t do drugs.
Seperti yang sudah Dethu sampaikan di Strategi Band Lokal Go National, penting sekali memiliki seorang ‘penghubung’ antara band kamu dan pihak label, EO dan stakeholder lainnya. Contoh kasus ini adalah dari #6 dan #7, dimana band kamu sebaiknya memiliki Lagu yang Unik dan Materi Publikasi.
Kami mendapat email dari contact form yang isinya begini:
Nama : Ms. A
Email : buat@pa.sih (ini beneran dia isi begini!!)
Isi Pesan: Mau cari produser buat band kami yang ber’genre POP ROCK, hubungi 081…
Jika kamu mengirim demo lagu dan materi publikasi lengkap saja belum tentu kamu diterima oleh label. Genre Pop Rock udah kebanyakan, makin kesini A&R makin pusing kepalanya mencari lagu genre Pop Rock yang layak untuk dijual ke pasaran. Jika saya jadi A&R atau ‘produser’ seperti yang dicari band Ms. A, apa alasan saya untuk menghubungi dia?
Masukan: Jika kamu menemukan manajer band kamu mencari label dengan cara tidak serius seperti diatas, maka sebaiknya kamu lupakan saja mimpi kamu sign kontrak dengan label. Mana ada yang mau?
Note: Saya sudah mendapat email sejenis 4 kali, 1 kali di Musikator dan 3 kali di blog musik saya yang lain. Rasanya, sudah sepantasnya saya posting masalah ini. Jika kamu ingin label serius dengan kamu, maka bersikap serius jugalah dengan mereka.
Tanggal 10 April lalu, Last.fm, networking site tempat orang-orang bisa mendengarkan musik versi penuh, mengeluarkan statistik yang ‘cukup mengejutkan’.
Menurut sumber:
Free on demand full song streams have a direct impact on sales. Since this additional service launched on the site in January, overall CD and download sales through Last.fm’s partnership with Amazon.com increased 119%.
Masih menganggap strategi streaming lagu kamu anda ‘versi setengah’ atau ‘30 detik pertama’ adalah langkah pintar dan akan membuat orang penasaran dan membeli album kamu?
Sebaiknya pikirkan lagi.

Kemungkinannya hanya ada 2, anda adalah Emo atau bukan Emo. Menurut sumber, sejak 7 Maret 2008 lalu, telah terjadi penyerangan besar-besaran terhadap anak muda dengan lifestyle Emo oleh anak-anak metal, goth, punk rock, rockabilly, pokoknya yang bukan Emo.
Pada dasarnya, menurut sumber lain, gerakan ini diawali oleh acara TV Televisa yang dianggap banyak pihak memprovokasi gerakan tersebut. Oh shit, menurut saya ini adalah bentuk fasis yang baru dan tidak seharusnya terjadi di muka bumi.
Pertanyaan: apakah kita harus kembali ke jaman batu dan mengalami ‘perang’ antar aliran musik, hanya karena perbedaan aliran, seperti yang terjadi di Meksiko ini?
Liputan lainnya di BoingBoing dan Exclaim!
Kemarin di Twitter saya mengetahui bahwa Gerd Leonard posting video What Is Music 2.0. di Facebook video account-nya kemarin malam. Saya ingin menaruh video tersebut di Musikator dan bertanya jika Gerd juga posting di video hosting site lain. Gerd tidak menjawab tapi pagi ini saya menemukan Read Write Web membahas video ini dan video itu juga ternyata bisa juga ditemukan di Blip.TV dan YouTube.
Di postingan saya sebelumnya, saya memberikan link untuk download buku Gerd yang terbaru Music 2.0. dan video ini adalah penjelasan dan kesimpulan dari buku tersebut.
Bisa dilihat di video ini, menurut Gerd, apa itu Music 2.0. dan bagaimana industri musik harus beradaptasi dengan prinsip-prinsip dari ‘Web 2.0.’ Beberapa pandangan prinsipal yang esensial disini adalah bahwa sikap ‘CONTROL’ tidak akan efektif (misalnya Digital Rights Management dan upaya untuk mengontrol channel-channel networking). Bahkan, ITunes pun kena sasaran kritik Gerd, menurut Gerd:
iTunes itu berjalan dengan baik, tetapi ITunes adalah komunitas yang tertutup
Secara esensi, menurut Gerd:
“Open is king” dan “Kita harus menghentikan upaya untuk mengontrol dan berpindah ke ekosistem musik yang terbuka.”
Hmm… jika penjelasan saya terlalu banyak bahasa teknis, maka silahkan melihat video di bawah ini, check out buku Gerd Music 2.0. dan blog book Gerd dalam bentuk RSS, PDF maupun MP3 di The End of Control sebagai penjelasan Latar Belakang Masalah (telah ditulis hingga Bab 6).
Semoga berguna.

Berita di dunia internet Indonesia sedang sepi beberapa hari terakhir kecuali kehebohan pemblokiran beberapa website penting yang selama ini mendukung evangelisasi musik di Indonesia. Musikator juga ikut menemui kesulitan dengan langkah pemblokiran ini, terutama pemblokiran YouTube. Somehow, saya sendiri sangat sibuk mencari alternatif untuk video hosting site selain YouTube dan mencari cara (yang kreatif) untuk menembus pemblokiran tersebut. Hasilnya, tidak sempurna. Hidup saya hampa tanpa YouTube. Mudah-mudahan bisa dibuka blokirannya secepat mungkin agar saya bisa merasa hidup kembali :-D. WHATEVER, JUST GIVE MY F*CK*NG YOUTUBE BACK!!
Update: 10 April 22.13 WITA. My YouTube is back, my life is back. Thanks!

Pic by PurePoison.
Anyway, di sisi lain, ada berita gembira. Musikator Dot Com menemukan seorang teman baru yang bergabung di team editorial Musikator. Yang pasti, teman kita satu ini adalah seseorang yang sudah cukup lama dikenal namanya di komunitas musik internet Indonesia. Kami tidak sabar untuk mengumumkannya dan mudah-mudahan kami bisa mengumumkannya Minggu depan. Saat itu pula, mudah-mudahan kita semua sudah mulai bisa menikmati liputan-liputan dan tulisan-tulisan dengan warna dan sudut pandang baru selain editor-editor berkarat yang sudah ada sebelumnya.

Sambil menunggu ada berita dan band baru, ada hari yang sebentar lagi akan dirayakan seluruh pengguna internet di dunia. Hari itu adalah RSS Day yang akan dirayakan pada tanggal 31 Mei nanti. Saya sedang menyiapkan artikel lengkap, agar Musikator Dot Com sebagai salah satu evangelis internet Indonesia dapat bergabung dan berkontribusi bagi menyebarnya teknologi yang mengubah wajah internet beberapa tahun terakhir itu.
Talk to you again soon. May we all have a great day.