The last couple of days was hard for me. Saya memindahkan server Musikator.com ke server baru. Setelah dua hari penuh sorting dan mindahin ribuan file online to offline and back to online, saya ingin entertain myself. So, saya browse through RSS Reader saya, dan menemukan website ini. Saya jadi berpikir untuk memulai usaha baru, menjadi produser video musik. Hehe. Kidding!
Animoto.com adalah perusahaan start up yang baru mendapat award di SXSW Austin kemarin dan menjadi salah satu finalis Webware 2008. Di Animoto, anda bisa membuat video sendiri dari sekumpulan klip foto. Mudahnya, foto-foto tersebut ngga harus di upload dari komputer anda sendiri, tapi bisa di eksport dari account foto sharing seperti Photobucket, Picasa, Smugmug dan lain sebagainya. Seperti saya. Saya mengeksport foto dari Flickr-nya Musikator, setelah itu saya meng-upload lagu. Saya pake lagu Puppen agar saya ngga kena masalah copyright di masa depan :-D.
Setelah mengupload foto dan lagu, tinggal finalisasi video. Di step ini, anda akan diberi pilihan untuk membuat video 30 detik yang gratis atau full length dengan membayar $3 (pilihan lainnya adalah $30 untuk berlangganan unlimited setahun penuh). Saya memilih membayar $3. Setelah itu, seluruhnya dilakukan Animoto.
30 Menit kemudian saya mendapat email konfirmasi bahwa video saya telah selesai haha. Senang rasanya. Saya check itu out, wah saya rasa ini bisa jadi nominasi MTV Music Award. Fitur terakhir yang membuat saya senang adalah video yang dibuat di Animoto bisa di eksport langsung ke YouTube.
There you go, the next best Best Video in MTV Music Awards created in 30 minute. Ha ha, enjoy!
Halaman asli video ini di Animoto ada disini.
BAND BIOGRAPHY
Dibalut dengan nuansa musik era 60-70an serta mengacu pada konsep “Funthemental” yang notabene mengerucut pada perspektif menjalani keseharian secara riang, sarat canda, dan positif; deBuntu sanggup menancapkan kuku eksistensinya di percaturan musik di Bali–serta semoga bisa memberi warna pada musik Indonesia di kemudian hari.
Awalnya cuma bernama “buntu” (dari sebuah nama gang, tempat kost para personel di jalan Serma Mendra, Denpasar) hingga akhirnya diperlebar menjadi “deBuntu”. Artinya? Tidak buntu (de = tidak, dari Bahasa Bali). Maksudnya? Selalu mencoba kreatif, menjelajah tanpa henti, dalam konteks berkesenian.
BAND BIOGRAPHY
“…Merobohkan stagnasi musik pop lokal…”
“…Beginilah seharusnya musik Indonesia…”
“…Breathtaking and brilliant…”
Riuh respek tinggi dari tiga media mahsyur Nusantara tersebut tegas menyiratkan seberapa teguh-tegap eksistensi grup asal Jakarta ini di skena musik Indonesia.
Trio–tadinya kuintet–dengan formasi terkini yaitu Adrian, Akbar & Cholil; mulai memunculkan taringnya pada Mei 2006 saat merilis single “Melankolia”, dilanjutkan dengan “Di Udara” pada Juli 2006, dan makin megah berkibar ketika album debut, “Efek Rumah Kaca” diluncurkan pada September 2007. Tembang “Cinta Melulu” yang mengisahkan kejenuhan mereka pada resep tipikal musik Indonesia yang notabene stagnan terpaku pada tema asmara picisan sukses merenggut perhatian publik muda peminat musik Indonesia “rasa baru”. Belum lagi lagu cantik nan tidak biasa bertajuk, “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja”; menyorot homoseksualitas, “Bukan Lawan Jenis”, serta perilaku konsumtif, “Belanja Terus Sampai Mati”; mantap memposisikan Efek Rumah Kaca sebagai pendatang baru yang ultra disegani.
BAND BIOGRAPHY
Sebagai ekspresi hormat serta cinta kasih pada ibunya, Pitt & Metta, menggunakan nama Beliau untuk kelompok musiknya: Jeanie. Didukung oleh Ari pula Ryan, band yang terbentuk pada 2001 ini sejak awal telah menetapkan pilihan pasti pada sebuah genre bertajuk “Glam Rock”. Sebuah strategi nan cerlang-cemerlang. Di Bali hanya Jeanie, the one and only, yang menapaki jalur ini. Kecerdikan memahami peta kompetisi ini ditunjang pula oleh penguasaan instrumen yang sungguh di atas rata-rata. Coba simak dengan cermat teknik permainan Metta pada drum, juga Ari the Madass Axeman; duhai begitu trampil mengolah senjata andalannya. Belum lagi sosok Pitt yang hangat dan terhitung piawai membangun jembatan komunikasi dengan penonton. Bukan hal yang mencengangkan ketika pada akhirnya Jeanie mampu menjadikan dirinya sebagai salah satu band (Rock) papan atas Bali. 4 album yang telah dihasilkan–dan mendapat sambutan hangat oleh publik muda Bali (terutama album terbarunya, dengan single andalan, “Bego Loe”)–membuktikan eksistensi serta konsistensi mereka.
Kalah Sebelum Berperang
Bagi sebuah band lokal, menjadi terkenal (diundang manggung ke berbagai kota, single andalan merajai berbagai chart radio terhormat, kerap tampil di televisi nasional, dsb) sering berhenti hanya sekadar jadi obsesi muluk, sebatas mimpi indah.
Angan-angan sejuk tersebut belum apa-apa macet begitu saja bukannya tanpa sebab. Kompetisi yang ultra ketat, jarak yang jauh ke pusat industri hiburan (baca: Jakarta), infrastruktur yang terbatas lagi mahal, minimnya koneksi ke sosok-sosok kunci dunia entertainment (pihak label, penyelenggara konser, orang radio, pencari bakat di televisi); menjadi barisan kendala paling wahid dalam perjalanan meraih cita-cita. Dan akibat ketidaksigapan mengatasi kerikil-kerikil penghambat itu, jamak terjadi, artis-artis lokal nan berbakat kemudian meraih gelar juara hanya di daerahnya sendiri, mentok menjadi jago kandang saja, tingkat popularitas dalam skala duhai sempit.
Hey, jangan keburu putus asa, jangan instan menyerah. Di segmen berikutnya akan kita kupas beberapa kiat menyiasati ragam masalah di atas.

Foto oleh Diamonds in The Sole of Her Shoes
Akhir-akhir ini sering dilaporkan bahwa Paul Mc Cartney menentang ITunes, tapi tampaknya tidak lagi. Menurut sumber, Sir Paul telah menandatangani kontrak dengan ITunes sebesar US $400.000.000 atau sekitar Rp 4 triliyun untuk membawa seluruh album The Beatles ke ITunes. Mulai sesaat lagi, semua orang bisa membeli lagu The Beatles lewat ITunes, dari seperti album Sergeant Pepper’s Lonely Hearts Club Band.The best thing in life is free, tapi perlu 400 juta dollar untuk membawa The Beatles ke ITunes.
Cinta Melulu
Bali kedatangan band inspirasional lagi, Efek Rumah Kaca (Jakarta), yang mahsyur dengan tembang fenomenal nan kritis pada stagnasi penjelajahan lirik para artis lokal yang notabene khas Melayu, “Cinta Melulu”. ERK akan tampil di ajang bulanan A Mild Live ~ Downtown Groove di Ozigo Country, Renon, pada hari Minggu, 16 Maret 2008.
De Buntu, The Sora, & Violet, 3 kelompok yang cukup punya nama di jazirah Indie Pop di Bali; mendapat kehormatan sebagai kelompok pendamping. Pertunjukan kali ini dikemas spesial oleh A Mild dengan menempatkan panggung di luar (outdoor), sebuah layar besar sebagai latar belakang panggung, serta beberapa tenda pelengkap kemeriahan acara.
“…Kita memang benar-benar Melayu
Suka mendayu-dayu
Lagu cinta melulu
Apa karena kuping Melayu?
Suka yang sendu-sendu…”
Rangkaian lirik lugas tersebut telah mendongkrak popularitas ERK secara masif ke percaturan musik nasional. Apa iya, ERK sebegitu juara? Datang dan buktikan sendiri riuh puja-puji wangi media massa nasional kepada ERK. Atau lebih milih dicap “kuping Melayu”?
DOWNTOWN GROOVE :: SARASEHAN
Strategi Band Lokal Go-National
Datang dan pergi, satu hilang tumbuh berganti, menjadi Raja sehari, begitulah imej yang tercuat ketika orang bicara tentang dinamika musik di Bali. Atau dalam ujaran ringkas-lugas: Tidak konsisten. Menjaga kesinambungan agar mampu terus mempertahankan ketenaran di skala lokal saja kurang cakap, apalagi bermimpi untuk go-national. Whew. Namun cita-cita tinggi tersebut jangan serta merta dimatikan dulu. Haram untuk mengambil sikap kalah sebelum berperang. Tak usah berkecil hati. A Mild Live–selain membukakan jalan kepada band lokal menggapai popularitas lewat A Mild Live Wanted–berinisiatif menyelenggarakan sarasehan/seminar untuk menyiasati ketatnya kompetisi dunia hiburan (band & artis solo) dengan tajuk: “Strategi Band Lokal Go-National”. Sebagai pembicara dihadirkan Rudolf Dethu, visioner kondang musik Bali yang juga mantan manajer Superman Is Dead & Navicula, konseptor Suicidal Sinatra, satu dari 10 Pahlawan Musik Indonesia (versi sebuah majalah nasional) serta co-founder musikator.com, blog direktori musik Indonesia. Pula Dedy Kristian, music director sebuah radio terhormat di Bali dan penulis lepas majalah hiburan lokal. Duo ini akan membagikan resep-resep jitunya pada Sabtu, 15 Maret 2008, mulai pukul 3 sore, di Ozigo Country, Renon. Ayo bergegas menuju bintang!

BAND BIOGRAPHY
Kesukaan Thoni, Budi, Pandu dan Arie berpose bak rock star di depan cerman milik teman sekampusnya, Tunjung Anjar Wati, jadi semacam stimulan bagi mereka untuk membentuk sebuah band bernama The Unknown serta meresmikan tanggal berdirinya pada 23 Desember 2005.
Seiring perjalanan, Indra, Chemy, dan Lya, kemudian turut bergabung. Sementara Arie sendiri justru memilih mundur demi melanjutkan kuliah.
Jika diperhatikan secara seksama, Synth-Pop banyak bergelimang mewarnai konsep musik The Unknown. Pekat mengingatkan pada pakem The Upstairs dengan gaya dandan dekonstruktif nan pelangi +lead singer laki-laki eksentrik khas 80an. Namun The Unknown sendiri menyebut bahwa mereka tidak terpaku pada satu jenis musik saja. Identitas nada mereka, ya itu tadi, unknown, alias bisa apa saja. Dan yang paling krusial bagi mereka bukanlah perkara genre ini dan itu. Yang penting adalah tekad bulat mereka, selama masih punya otak, hati dan niat luhur, maka mereka akan terus dan terus berkarya. Way to go.
BAND BIOGRAPHY
Dinamika berliku yang mewarnai perjalanan mereka mulai dari pergantian nama band (awalnya bernama Society Threat), pergantian personel (Elel, Dekwan dan Astika sempat berkiprah di grup ini), hingga perluasan genre (dari Melodic Core ke Metal Melodic Core); justru membuat Scared of Bums menjadi makin dewasa dan lebih tahan banting dalam menghadapi liatnya kompetisi musik Indonesia. Pelan tapi pasti, band yang mengambil nama dari salah satu album NOFX ini, sejak berdiri Mei 2003 hingga kini termasuk sukses berbicara di skala musik Bali (pula Nusantara, walau belum signifkan). Undangan tampil buat kuartet yang “tidak ingin hidup seperti gembel yang takut pada realita pahit kehidupan” (perluasan makna dari “Scared of Bums”) tercatat amat laris. Bisa dibilang di tiap acara “besar” (utamanya musik Rock) di Bali nama Scared of Bums pasti termasuk di dalamnya. Terbitnya album debut bertajuk sama dengan nama band, “Scared of Bums”, tambah mendongkrak popularitas mereka. Para fans akhirnya bisa bernyanyi bersama saat konser.

BAND BIOGRAPHY
Salah satu dari sedikit band Metal tenar di Bali yang digawangi 5 pemuda pemberontak ini sebenarnya mengawali kiprahnya pada 2002 di jalur Hardcore–utamanya a la Rykers, Hatebreed, Earth Crisis, Morning Again dan Strife. Seiring waktu, melalui jam terbang manggung yang makin banyak, pelan tapi pasti unsur Metal mulai merasuki orbit musik Parau.
Eksistensi band cadas terhormat macam Ark Angel, Pantera, Black Dahlia Murder, All Shall Perish hingga Lamb of God, makin hari makin kerap merecoki playlist pribadi masing-masing personel sampai akhirnya Parau benar-benar bertransformasi menjadi band Metal. Dan resep Metal racikan Parau bisa dikategorikan cukup spesifik: penulisan lirik berfondasi pada “Tri Hita Karana” (hubungan horizontal antar sesama manusia, manusia dengan alam; serta vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta), diiringi distorsi berat, beat menghentak pemicu adrenalin, dus tetap setia pakem “enak didengar dan dinikmati”.