
Foto oleh Diamonds in The Sole of Her Shoes
Akhir-akhir ini sering dilaporkan bahwa Paul Mc Cartney menentang ITunes, tapi tampaknya tidak lagi. Menurut sumber, Sir Paul telah menandatangani kontrak dengan ITunes sebesar US $400.000.000 atau sekitar Rp 4 triliyun untuk membawa seluruh album The Beatles ke ITunes. Mulai sesaat lagi, semua orang bisa membeli lagu The Beatles lewat ITunes, dari seperti album Sergeant Pepper’s Lonely Hearts Club Band.The best thing in life is free, tapi perlu 400 juta dollar untuk membawa The Beatles ke ITunes.
Cinta Melulu
Bali kedatangan band inspirasional lagi, Efek Rumah Kaca (Jakarta), yang mahsyur dengan tembang fenomenal nan kritis pada stagnasi penjelajahan lirik para artis lokal yang notabene khas Melayu, “Cinta Melulu”. ERK akan tampil di ajang bulanan A Mild Live ~ Downtown Groove di Ozigo Country, Renon, pada hari Minggu, 16 Maret 2008.
De Buntu, The Sora, & Violet, 3 kelompok yang cukup punya nama di jazirah Indie Pop di Bali; mendapat kehormatan sebagai kelompok pendamping. Pertunjukan kali ini dikemas spesial oleh A Mild dengan menempatkan panggung di luar (outdoor), sebuah layar besar sebagai latar belakang panggung, serta beberapa tenda pelengkap kemeriahan acara.
“…Kita memang benar-benar Melayu
Suka mendayu-dayu
Lagu cinta melulu
Apa karena kuping Melayu?
Suka yang sendu-sendu…”
Rangkaian lirik lugas tersebut telah mendongkrak popularitas ERK secara masif ke percaturan musik nasional. Apa iya, ERK sebegitu juara? Datang dan buktikan sendiri riuh puja-puji wangi media massa nasional kepada ERK. Atau lebih milih dicap “kuping Melayu”?
DOWNTOWN GROOVE :: SARASEHAN
Strategi Band Lokal Go-National
Datang dan pergi, satu hilang tumbuh berganti, menjadi Raja sehari, begitulah imej yang tercuat ketika orang bicara tentang dinamika musik di Bali. Atau dalam ujaran ringkas-lugas: Tidak konsisten. Menjaga kesinambungan agar mampu terus mempertahankan ketenaran di skala lokal saja kurang cakap, apalagi bermimpi untuk go-national. Whew. Namun cita-cita tinggi tersebut jangan serta merta dimatikan dulu. Haram untuk mengambil sikap kalah sebelum berperang. Tak usah berkecil hati. A Mild Live–selain membukakan jalan kepada band lokal menggapai popularitas lewat A Mild Live Wanted–berinisiatif menyelenggarakan sarasehan/seminar untuk menyiasati ketatnya kompetisi dunia hiburan (band & artis solo) dengan tajuk: “Strategi Band Lokal Go-National”. Sebagai pembicara dihadirkan Rudolf Dethu, visioner kondang musik Bali yang juga mantan manajer Superman Is Dead & Navicula, konseptor Suicidal Sinatra, satu dari 10 Pahlawan Musik Indonesia (versi sebuah majalah nasional) serta co-founder musikator.com, blog direktori musik Indonesia. Pula Dedy Kristian, music director sebuah radio terhormat di Bali dan penulis lepas majalah hiburan lokal. Duo ini akan membagikan resep-resep jitunya pada Sabtu, 15 Maret 2008, mulai pukul 3 sore, di Ozigo Country, Renon. Ayo bergegas menuju bintang!

BAND BIOGRAPHY
Kesukaan Thoni, Budi, Pandu dan Arie berpose bak rock star di depan cerman milik teman sekampusnya, Tunjung Anjar Wati, jadi semacam stimulan bagi mereka untuk membentuk sebuah band bernama The Unknown serta meresmikan tanggal berdirinya pada 23 Desember 2005.
Seiring perjalanan, Indra, Chemy, dan Lya, kemudian turut bergabung. Sementara Arie sendiri justru memilih mundur demi melanjutkan kuliah.
Jika diperhatikan secara seksama, Synth-Pop banyak bergelimang mewarnai konsep musik The Unknown. Pekat mengingatkan pada pakem The Upstairs dengan gaya dandan dekonstruktif nan pelangi +lead singer laki-laki eksentrik khas 80an. Namun The Unknown sendiri menyebut bahwa mereka tidak terpaku pada satu jenis musik saja. Identitas nada mereka, ya itu tadi, unknown, alias bisa apa saja. Dan yang paling krusial bagi mereka bukanlah perkara genre ini dan itu. Yang penting adalah tekad bulat mereka, selama masih punya otak, hati dan niat luhur, maka mereka akan terus dan terus berkarya. Way to go.
BAND BIOGRAPHY
Dinamika berliku yang mewarnai perjalanan mereka mulai dari pergantian nama band (awalnya bernama Society Threat), pergantian personel (Elel, Dekwan dan Astika sempat berkiprah di grup ini), hingga perluasan genre (dari Melodic Core ke Metal Melodic Core); justru membuat Scared of Bums menjadi makin dewasa dan lebih tahan banting dalam menghadapi liatnya kompetisi musik Indonesia. Pelan tapi pasti, band yang mengambil nama dari salah satu album NOFX ini, sejak berdiri Mei 2003 hingga kini termasuk sukses berbicara di skala musik Bali (pula Nusantara, walau belum signifkan). Undangan tampil buat kuartet yang “tidak ingin hidup seperti gembel yang takut pada realita pahit kehidupan” (perluasan makna dari “Scared of Bums”) tercatat amat laris. Bisa dibilang di tiap acara “besar” (utamanya musik Rock) di Bali nama Scared of Bums pasti termasuk di dalamnya. Terbitnya album debut bertajuk sama dengan nama band, “Scared of Bums”, tambah mendongkrak popularitas mereka. Para fans akhirnya bisa bernyanyi bersama saat konser.

BAND BIOGRAPHY
Salah satu dari sedikit band Metal tenar di Bali yang digawangi 5 pemuda pemberontak ini sebenarnya mengawali kiprahnya pada 2002 di jalur Hardcore–utamanya a la Rykers, Hatebreed, Earth Crisis, Morning Again dan Strife. Seiring waktu, melalui jam terbang manggung yang makin banyak, pelan tapi pasti unsur Metal mulai merasuki orbit musik Parau.
Eksistensi band cadas terhormat macam Ark Angel, Pantera, Black Dahlia Murder, All Shall Perish hingga Lamb of God, makin hari makin kerap merecoki playlist pribadi masing-masing personel sampai akhirnya Parau benar-benar bertransformasi menjadi band Metal. Dan resep Metal racikan Parau bisa dikategorikan cukup spesifik: penulisan lirik berfondasi pada “Tri Hita Karana” (hubungan horizontal antar sesama manusia, manusia dengan alam; serta vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta), diiringi distorsi berat, beat menghentak pemicu adrenalin, dus tetap setia pakem “enak didengar dan dinikmati”.
BAND BIOGRAPHY
Pada mulanya adalah Djihad, 1997. Pada mulanya adalah 5 anak muda pemuja The Exploited, Total Chaos, & The Casualties: Roy, Oche, Dekha, Solir & Konok.


Foto: www.hi.is
Senin kemarin, Bjork menyudahi konsernya di Shanghai dengan meneriakkan Tibet. Untuk yang mengikuti Bjork, mungkin sudah hafal bahwa penyanyi unik asal Islandia ini adalah pendukung Free Tibet.
Konon, pengunjung konser mengatakan seruan Bjork itu membuat mereka jadi tidak enak sendiri dan sebagian besar tampak meninggalkan tempat pertunjukan secara tergesa-gesa.
Update 3 April 2008:
Ada video footage-nya dari YouTube
Saya selalu punya masalah dengan koleksi, entah itu buku, CD, DVD maupun software installer. Mereka seringkali tidak terasa penting sampai barang itu hilang, baru bingung. Meskipun demikian, hilang adalah kata yang aneh untuk benda berwujud. Karena, benda seperti itu bukan hilang tetapi entah disimpan dimana atau dipinjam teman. Maka dari itu, dengan catatan dan dokumentasi yang rapih, benda koleksi tidak akan ‘hilang’.
Banyak cara untuk keep track akan barang koleksi yang berwujud, tetapi intinya ya itu tadi, dokumentasi atau administrasi. Salah satu yang dapat mempermudah hidup anda dan koleksi anda adalah Libra.


Kebelet main gitar tengah malam buta, gitar fals dan ternyata tuner ketinggalan di studio. Jika setelan gitar anda standar sih ngga papa, tapi bagaimana jika sedang mood untuk main open chord? Males mereka-reka akhirnya bisa jadi BT dan kehilangan inspirasi. Damn, that is costy dan jangan sampai terjadi. Hmm… jangan khawatir, sekarang anda bisa tune gitar selama anda punya koneksi internet. Baca selanjutnya…

Buku Music 2.0. ditulis oleh Gerd Leonhard, seorang penulis, blogger, futurist dan entrepreneur musik. Selain menulis, Gerd juga founder dari Sonific, sebuah website music streaming yang juga menyediakan widget lagu favorit anda untuk dipasang di blog, MySpace, Facebook dan social networking site lainnya.
Buku GL kali ini seperti The Best of Gerd Leonhard. Isinya adalah essay-essay terbaiknya selama 4 tahun terakhir, yang termasuk artikel-artikel terbaik dari blog nya yang di modifikasi dan di package menjadi sebuah buku setebal 227 halaman. Ini termasuk apa yang Gerd deskripsikan sebagai Next Generation of the Music Industry.
Buku ini dijual dalam 2 model. Yang pertama adalah format print tradisional yang sudah bisa didapatkan di toko-toko buku online besar. Format kedua adalah versi PDF dengan sistim pembayaran Pay As You Wish, atau beli dan anda sendiri yang menentukan harganya (karena seorang penulis sudah seharusnya mendapat bayaran atas karyanya).
Informasi lebih lanjut di website Music 2.0..