Halo,
Untuk yang belum tahu, Musikator punya forum. Setiap hari, topik yang HOT disana ada berbagai macam dan berbagai jenis.
Hari ini, topik yang HOT adalah:
1. Undang-undang Pornografi
2. How to Be Great Manager
3. Band nonton Band (this one is hotter than hell!)
4. Support film Drupadi
Untuk yang belum jadi member, silahkan melaju ke Forum, daftar (gratis tis tis…) dan Join the Debate Fun!
Jangan lupa set Signature dan Gravatar biar profil kamu lebih cool kelihatannya.
Awesome, see you at Musikator Forum.
Cheers!
THE HOMOUS terbentuk pada tahun 1998, diawali dengan sebentuk pertemanan 3 anak remaja di salah satu SMP di Bandung yaitu Agung Maskund, Ricky Kijo, Ade Beute yang sepakat untuk membentuk sebuah band dengan genre Melodic Punk. Tahun demi tahun, dari satu panggung ke panggung lain, akhirnya The Homous merasa adanya kekurangan dari segi musikalitas: kosong! Untuk menanggulangi kekosongan tersebut maka pada tahun 2002 sepakat untuk dinambah 1 orang personel untuk mengisi gitar pengiring. Namanya Vmy Sly. Remaja penggemar musik disko 80an dan NUFAN. Baca selanjutnya…
SAJAMA CUT, band Indie rock asal Jakarta yang kini formasinya adalah Marcel Thee, Dion Panlima Reza, R. Banu Satrio, Andreas Humala S., Randy Appriza Akbar; mulai mencuri perhatian publik muda sejak dirilisnya single Less Afraid sebagai soundtrack film Janji Joni.
Pada awal September 2005, Sajama Cut merilis album kedua mereka; The Osaka Journals di bawah label Universal Music Indonesia (menjadikan mereka artis lokal Universal Music Indonesia yang pertama). Rekaman berisi sebelas lagu ini mengedepankan Fallen Japanese; yang mewakili musik Sajama Cut secara keseluruhan; sebagai single pertamanya. The Osaka Journals dirilis dalam bentuk Enhanced CD dan MC (kaset). Baca selanjutnya…
Tanpa terasa kita sekarang sudah memasuki TMIF edisi ke-3. Paket hadiah dari berbagai band—sebut saja macam Navicula dan Parau—sudah menunggu untuk dibagi-bagikan gratis ke sejawat Musikatorian (sebutan hangat bagi kawan-kawan yang kerap bertegur sapa di ranah virtual ini—hey, you think Musikatorian sounds nice, or you guys have better ideas? Atau gak usah aja pake istilah sebutan tertentu?). Dan bagi teman-teman band yang berminat berpartisipasi di TMIF partai ke berikutnya silakan hubungi langsung Igo di theblado@musikator.com juga c.c. ke saya di suicidaldjdethu@musikator.com
Anyway, sebelumnya saya umumkan dulu pemenang TMIF # 2, anda yang beruntung mendapatkan paket hadiah dari Ed Eddy sbb:
1. Lakota Moira
2. Made Junes
3. Cietra
Dan kebetulan masih ada sisa 1 paket hadiah dari Musikator, hadiah menarik tersebut—gono-gini dari Telephone, if you really wanna know—kami sedekahkan kepada: Ipoel Cavalera.
Nah, 4 nama tersebut silakan menghubungi alamat e-mail yang saya sebut di atas. Silakan informasikan alamat domisili serta nomor telepon anda. Baca selanjutnya…
Wih, pasti, selain saya, pasti banyak publik muda yang bertanya-tanya: The Hydrant kemana? Apa kabarnya? Benar, these last 6 months inventor Rockabilly asal Bali ini bak lenyap ditelan bumi. Padahal 1-2 tahun sebelumnya popularitasnya amat wangi. Kerap nongol di majalah juga tivi, tour Jawa - Bali konstan tanpa henti. Namun setelahnya, beringsut sirna tak tentu rimbanya. Kuartet beranggotakan Marshello (biduan, harmonika), Wiz (gitar), Morris (drum) dan Zio (bas betot) ini begitu saja hilang dari peredaran. Where are they now?
Indonesia yang indah permai ini ternyata menyimpan segudang bencana, seperti isi lagu Supermarket Bencana karya Navicula yang bakal dirilis di album kompilasi Siaga Bencana terbitan LIPI dan Electrified records (label milik band Naif).
Saya sendiri, selaku wakil band Navicula, bersama dengan team LIPI (Shena dan Atos) dan Metro TV (Wisnu Wardhana) melakukan kampanye “Siaga Bencana Nasional” ke Biak, Irian Jaya dari tanggal 22-27 Juli 2008. Pada kunjungan ke Biak ini saya juga ditemani Endi, drummer band indie asal Bandung, 70’s Orgasm Club. Kampanye LIPI ini merupakan salah satu rangkaian kampanye ke sejumlah daerah di Indonesia, seperti Padang, Bengkulu, Cilacap, Ternate, Bali, Biak, dll. Program ini juga melibatkan sejumlah musisi untuk memberi pesan siaga bencana kepada masyarakat melalui media musik. Saya pikir ini adalah langkah yang bagus dan efektif mengingat musik adalah bahasa yang universal.
Sejatinya THE LAST ONE telah berkiprah sejak November 2005, memulainya dari Pondok Gede, Jakarta Timur. Setelah sempat tampil di beberapa kesempatan—di antaranya Parc, klub musik legendaris di bilangan Jakarta Selatan yang kini sudah almarhum—The Last One memutuskan vakum akibat salah satu personelnya terjegal perkara cannabis sativa. Ketika Albar Tikam, sang biduan, pindah menetap di Bali, keinginan untuk menghidupkan The Last One perlahan menyeruak. Pertengahan 2007 The Last One, dengan formasi sementara, mulai aktif tampil di beberapa pertunjukan musik di Bali macam Kuta Food Fest, ultah The Hydrant, di Twice Bar, dsb. Kontingen yang menyebut dirinya pengusung aliran Rock ‘n’ Roll Ethno Metal Punk ini akhirnya pada 13 Juni 2008 merilis album perdananya, Guard of Hell, dengan formasi paling kini: Albar Tikam, Pitzi, Chally, Ary, dan Roger. Baca selanjutnya…
Video Metallica The Day That Never Comes, dari album Death Magnetic yang rencananya akan dirilis tanggal 12 September 2008.
Jangan bayangin Kill ‘Em All, Master of Puppets atau And Justice For All, karena ini adalah kelanjutan dari The ‘new’ Metallica.
Jangan baca ribuan komentar user di YouTube.
Judge yourself. Mungkin pendapat kamu beda, you know what i’m saying.
Robi, biduan Navicula, kembali menulis, khusus untuk Musikator. Di kesempatan ini sang vokalis mengisahkan rendezvous di kala senja (istilah Robi: sunset hangout) dengan Che, sosok kharismatik di balik Cupumanik.
Ngobrol-ngobrol bareng Chandra ‘Che’ Cupumanik seru banget!
Pas dia lagi liburan di Bali kemaren, tgl 29 Agust 2008, kita janjian ketemu di Circle K Kuta Beach sore harinya, buat ngobrol dan sharing idea, sambil menunggu sunset. Di meja ini ada Che, saya, Lakota, dan Ian (eks-vokalis Kaimsasikun).
Saya pertama kali ketemu langsung dengan Che pas band saya lagi main di Rock cafe, Kemang, tahun lalu. Sebelumnya hanya kenal lewat sms. Dan Ian yang kenalin kita awalnya.
Selain sebagai vokalis band Cupumanik, Che juga berperan sebagai editor in chief majalah fashion Jeune, salah satu majalah lokal Indonesia terbitan Bandung favorit saya, karena kualitas desain dan mutu seni yang bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk didapat, untuk kamu yang punya selera bagus dan mendukung kreativitas anak bangsa. Baca selanjutnya…
Ok, iya, memang, CBGB sudah tutup usia pada 2005. Klub legendaris tersebut, menurut sang pendiri, Hilly Kristal, rencananya dipindah ke Las Vegas. Tapi doski keburu meninggal. Saya kurang tau apa akhirnya jadi dipindah ke Vegas apa tidak (maybe you guys know?).
Namun tepat di lokasi dimana CBGB dulu berada, 315 Bowery, Bleecker Street, Manhattan, New York City; sekarang sudah diambil alih oleh John Varvatos, salah satu desainer pakaian terpanas di Amrik saat ini—yang belakangan juga nyumbang rancangannya untuk Converse kelas premium (dengan label: Converse by John Varvatos) yang tentu saja harganya lebih mahal dari biasanya. Baca selanjutnya…