Wih, pasti, selain saya, pasti banyak publik muda yang bertanya-tanya: The Hydrant kemana? Apa kabarnya? Benar, these last 6 months inventor Rockabilly asal Bali ini bak lenyap ditelan bumi. Padahal 1-2 tahun sebelumnya popularitasnya amat wangi. Kerap nongol di majalah juga tivi, tour Jawa - Bali konstan tanpa henti. Namun setelahnya, beringsut sirna tak tentu rimbanya. Kuartet beranggotakan Marshello (biduan, harmonika), Wiz (gitar), Morris (drum) dan Zio (bas betot) ini begitu saja hilang dari peredaran. Where are they now?
Indonesia yang indah permai ini ternyata menyimpan segudang bencana, seperti isi lagu Supermarket Bencana karya Navicula yang bakal dirilis di album kompilasi Siaga Bencana terbitan LIPI dan Electrified records (label milik band Naif).
Saya sendiri, selaku wakil band Navicula, bersama dengan team LIPI (Shena dan Atos) dan Metro TV (Wisnu Wardhana) melakukan kampanye “Siaga Bencana Nasional” ke Biak, Irian Jaya dari tanggal 22-27 Juli 2008. Pada kunjungan ke Biak ini saya juga ditemani Endi, drummer band indie asal Bandung, 70’s Orgasm Club. Kampanye LIPI ini merupakan salah satu rangkaian kampanye ke sejumlah daerah di Indonesia, seperti Padang, Bengkulu, Cilacap, Ternate, Bali, Biak, dll. Program ini juga melibatkan sejumlah musisi untuk memberi pesan siaga bencana kepada masyarakat melalui media musik. Saya pikir ini adalah langkah yang bagus dan efektif mengingat musik adalah bahasa yang universal.
Sejatinya THE LAST ONE telah berkiprah sejak November 2005, memulainya dari Pondok Gede, Jakarta Timur. Setelah sempat tampil di beberapa kesempatan—di antaranya Parc, klub musik legendaris di bilangan Jakarta Selatan yang kini sudah almarhum—The Last One memutuskan vakum akibat salah satu personelnya terjegal perkara cannabis sativa. Ketika Albar Tikam, sang biduan, pindah menetap di Bali, keinginan untuk menghidupkan The Last One perlahan menyeruak. Pertengahan 2007 The Last One, dengan formasi sementara, mulai aktif tampil di beberapa pertunjukan musik di Bali macam Kuta Food Fest, ultah The Hydrant, di Twice Bar, dsb. Kontingen yang menyebut dirinya pengusung aliran Rock ‘n’ Roll Ethno Metal Punk ini akhirnya pada 13 Juni 2008 merilis album perdananya, Guard of Hell, dengan formasi paling kini: Albar Tikam, Pitzi, Chally, Ary, dan Roger. Baca selanjutnya…
Video Metallica The Day That Never Comes, dari album Death Magnetic yang rencananya akan dirilis tanggal 12 September 2008.
Jangan bayangin Kill ‘Em All, Master of Puppets atau And Justice For All, karena ini adalah kelanjutan dari The ‘new’ Metallica.
Jangan baca ribuan komentar user di YouTube.
Judge yourself. Mungkin pendapat kamu beda, you know what i’m saying.
Robi, biduan Navicula, kembali menulis, khusus untuk Musikator. Di kesempatan ini sang vokalis mengisahkan rendezvous di kala senja (istilah Robi: sunset hangout) dengan Che, sosok kharismatik di balik Cupumanik.
Ngobrol-ngobrol bareng Chandra ‘Che’ Cupumanik seru banget!
Pas dia lagi liburan di Bali kemaren, tgl 29 Agust 2008, kita janjian ketemu di Circle K Kuta Beach sore harinya, buat ngobrol dan sharing idea, sambil menunggu sunset. Di meja ini ada Che, saya, Lakota, dan Ian (eks-vokalis Kaimsasikun).
Saya pertama kali ketemu langsung dengan Che pas band saya lagi main di Rock cafe, Kemang, tahun lalu. Sebelumnya hanya kenal lewat sms. Dan Ian yang kenalin kita awalnya.
Selain sebagai vokalis band Cupumanik, Che juga berperan sebagai editor in chief majalah fashion Jeune, salah satu majalah lokal Indonesia terbitan Bandung favorit saya, karena kualitas desain dan mutu seni yang bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk didapat, untuk kamu yang punya selera bagus dan mendukung kreativitas anak bangsa. Baca selanjutnya…
Ok, iya, memang, CBGB sudah tutup usia pada 2005. Klub legendaris tersebut, menurut sang pendiri, Hilly Kristal, rencananya dipindah ke Las Vegas. Tapi doski keburu meninggal. Saya kurang tau apa akhirnya jadi dipindah ke Vegas apa tidak (maybe you guys know?).
Namun tepat di lokasi dimana CBGB dulu berada, 315 Bowery, Bleecker Street, Manhattan, New York City; sekarang sudah diambil alih oleh John Varvatos, salah satu desainer pakaian terpanas di Amrik saat ini—yang belakangan juga nyumbang rancangannya untuk Converse kelas premium (dengan label: Converse by John Varvatos) yang tentu saja harganya lebih mahal dari biasanya. Baca selanjutnya…
Hey Guys, ada update dikit nih.
1. Link Directory
Beberapa minggu ini vakum karena kita baru update CMS yang kita gunakan ke versi terbaru. Tiba-tiba, file-file yang mengatur Link Directory hilang. Saya kira Musikator dikutuk yang Maha Kuasa ternyata core file nya ke re-write (ehem sorry bahasa planet) karena persyaratan dan mekanisme upgrade-nya sendiri. Tapi sekarang sudah beres, ada beberapa Link baru di Direktori, please check out here.
ONE FOOT JAPAN (OFJ) berasal dari Kemayoran, Jakarta Pusat. Berawal di akhir tahun 2002, lima orang teman sepermainan yang sama-sama ter-influence oleh Blink 182 dan New Found Glory, mencoba untuk membentuk sebuah band bernafaskan serupa, mainstream Pop Punk. Di pertengahan tahun 2003, OFJ memfokuskan konsentrasi untuk menghasilkan karya-karya sendiri yang berujung pada rilisnya album pertama di awal tahun 2004, berjudul Frustrated, yang produksi, promosi dan distribusinya dilakukan secara independen. Baca selanjutnya…

Akhir-akhir ini kejayaan media online semakin merebak di seluruh penjuru dunia. Dengan adanya teknologi RSS (hey, Musikator.com punya RSS juga!) dimana Media Online memberitakan breaking news nya lewat internet publishing platform atau Content Management System, berita terbaru dapat lebih cepat diterima pembaca daripada menunggu edisi harian, mingguan bahkan bulanan dari majalah versi cetak. Majalah Musik, di negara industri mapan seperti Inggris, pun kena dampak trend tersebut.
Perusahaan yang memberikan jasa Laporan Sirkulasi Media bernama ABC merilis laporan oplah majalah Musik di Inggris yang kehilangan banyak pembacanya dalam 6 bulan terakhir. Q kehilangan 18.000 pembaca dalam 6 bulan terakhir, Uncut turun 4.000, NME hilang 8.000 dan Kerrang! turun 20% atau 17.000 pembaca. Sementara itu majalah gratis The Fly dari kelompok penerbit the Barfly chain naik 2.000+.
DISCONNECTED didirikan di Bandung pada 1998 oleh tiga sejawat yang kerap dimeriahi mimpi menjadi rock stars: Arie (biduan, gitar), Yudha (bas) dan Decil (drum). Nama Disconnected (DC) sendiri dipetik dari salah satu tajuk tembang dari band favorit mereka, Face to Face. Alasan kenapa judul lagu tersebut yang digunakan sebagai identitas kelompok, well, sebenarnya sederhana saja: karena enak didengar. Baca selanjutnya…