
Saya menyukai Fariz RM, biarpun saya tidak tahu terlalu banyak lagu-lagunya. Dan yang membawa saya meniatkan diri untuk menonton konsernya kali ini, lebih karena adanya pendukung konser yaitu Koil, White Shoes & the Couples Company, serta Sherina. Menurut saya, bukanlah sesuatu yang mengejutkan jika ada nama Sherina di situ. Selain merupakan keponakannya sendiri, Sherina juga sudah pernah terlibat dalam konser tunggal Fariz RM terakhir pada bulan Agustus 2003 silam. Tapi, Koil dan White Shoes? Apalagi, ternyata mereka ini dipilih sendiri oleh Fariz RM. Whatta superb chance!

Pada saat konferensi pers yang digelar pada hari Jumat sore, 25 Juli 2008, Fariz RM mengungkapkan alasannya memilih Koil dan White Shoes. “White Shoes & the Couples Company, mampu mengaplikasikan nuansa retro di masa sekarang. Untuk beberapa lagu dari era tertentu, memang hanya mereka inilah yang mampu membawakan lagu-lagu tersebut dengan nuansa seperti pada masa itu. Gue sendiri bahkan belum tentu bisa seperti itu,” jelasnya. Sementara, mengenai Koil, “Untuk mendapatkan kegilaan yang sama seperti yang gue alami dulu pada era (album) Symphony, gue memerlukan band yang totally different. Dan Koil adalah pilihan yang tepat.” Di beberapa kesempatan – pada saat konferensi pers maupun di atas panggung - Fariz RM juga mengulang-ulang candaannya (atau serius? Ahem!) tentang keinginannya bergabung dengan Koil sebagai pemain keyboard. Wih!

Saya kembali ke acara yang mengambil lokasi di Rolling Stone Live Venue di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, sekitar pukul 19.00 WIB. Masih sempat makan, tentu. Karena ternyata acara dimulai baru pada pukul 20.30 WIB – setidaknya demikian menurut rilis pers yang saya terima. Beberapa artis musisi saya lihat berseliweran di lokasi acara. Mulai dari Jimi Danger (The Upstairs), Rully Annash (The Brandals), Helvi, Sir Dandy dan Satria NB (Teenage Death Star), Glenn Fredly, hingga Giring dan Rama (Nidji). Saya bergegas masuk untuk mencari spot tempat duduk yang tampak lumayan strategis.
Tepat pukul 20.30 WIB, konser dibuka Fariz RM dengan lagu “Sungguh”. Sayang, di awal lagu, mic sempat mati beberapa saat. Lantas, pada lagu ke-2, “Di Antara Kata”, saya menangkap kekurangan Fariz dalam menyanyikan lagu bernada tinggi. Agak sedikit kacau, menurut saya. Tapi toh, lagunya yang memang bagus cukup mampu menetralisir kekurangan vokal Fariz pada saat itu. Dan entah kenapa, pokoknya pada 4 lagu pertama, saya sempat merasakan kebosanan tingkat tinggi. Repertoir lagu yang salah, atau saya yang hanya ‘mengenal’ 3 dari 4 lagu tersebut? Untungnya, obrolan santai yang dilontarkan Fariz di antara jeda lagu cukup menyenangkan; membuat suasana konser terasa lebih santai dan bersahabat. Maka, saya bertahan.
Pada lagu “Hasrat & Cinta” dan “Nada Kasih”, Fariz berduet dengan Sherina. Suara Sherina, memang, somehow, sangat mempesona. And she looked great, too. Sayang, lagi-lagi, masalah dengan tata suara. Beberapa kali suara bass terdengar lebih dominan sehingga cukup mengganggu. Setelah berduet dengan Sherina dan diselingi dengan 2 lagu, setelahnya adalah giliran White Shoes & the Couples Company. Sambutan untuk White Shoes ternyata jauh lebih gegap gempita dibandingkan dengan sambutan terhadap Sherina yang sebelumnya saja sudah cukup membahana. Lagu “Selangkah Ke Seberang” serta “Kurnia & Pesona” dinyanyikan secara medley dengan amat sangat baik. Aransemen yang mengagumkan. Sayang, lagi-lagi, suara vokalis Sari tenggelam, nyaris tak terdengar. O ya, malam itu, White Shoes juga dibantu seorang additional player, Herry Winanto yang memainkan flute. Dilanjutkan dengan duet bersama Koil untuk lagu “Lensa Kamar Putih” dan “Sirkus Optik Dan Video Game”. Aransemen yang sangat ‘Koil’. Lagi-lagi, sayang, mic Otong justru mati di saat lagu sudah hampir habis. Toh, tetap saja, sambutan gempita terdengar semakin keras.

Konser ini kemudian ditutup dengan dua hits yang pasti paling akrab di kuping semua yang hadir malam itu, “Sakura” dan “Barcelona”. Pada saat melantunkan “Sakura”, nyaris seluruh penonton yang hadir ikut berdiri dan bernyanyi. Apresiasi yang baik ini membuat Fariz RM dan rekan-rekan di band pengiringnya terlihat sangat enjoy sekali. Dan sebelum “Barcelona”, drummer Eddy Syahroni dan percussionist Iwan Wiraz sempat melakukan aksi solo dengan durasi cukup lama, sebelum akhirnya Fariz juga ikut beraksi di belakang set drum. Menarik! Baru kali itu rasanya saya melihat seorang Fariz RM berpindah dari balik keyboard-nya.
Secara keseluruhan, Fariz RM memang masih memiliki pesona. Kalau saja tidak ada masalah dengan sound system, saya yakin konser malam itu akan jauh lebih baik hasilnya. Obrolan dan joke-joke ringan yang dilontarkan Fariz di beberapa jeda lagu, cukup menghibur. Dan, bolehlah saya berharap bahwa akan ada lagi konser-konser bermutu serupa yang nantinya akan diselenggarakan lagi oleh Rolling Stone Indonesia. It worth a wait!

Foto-foto keren oleh Ardianto. Lihat hasil karya Ardianto lainnya di Gallery Musikator.
Konser ini mantap. Sayang, penampilan White Shoes & The Couples Company dan Koil tidak maksimal secara tata suara. Dan yang paling disayangkan adalah, “lagu-lagu wajib” saya banyak yang tidak dimainkan: “Iman dan Godaan”, “Interlokal”, dan “Penari”. Padahal, ketiga itu masuk dalam chart Fariz Top 10 versi saya. Jika sedang luar biasa, lagu-lagu Fariz RM begitu memukau hati.
Kita akan membuat lagi semoga di bulan November.
God Bless Vs Koes Plus.
Setuju?
@ mas Adib: Super Setuju!!! I don’t dig Koes Plus sih. Tapi menurut Ameng, penampilannya kemaren bagus sekali. And, God Bless? What should I say? They’re one of the greatest. Jadi, again, Super Setuju!
Waduh.. dua Tuhannya musik Indonesia.
Siapa sih yang sanggup menolak?
FARIZ RM SANG MULTI INSTRUMENTALIS, MULTI BAND. MANGGUNG LAGI donk DENGAN MEMAINKAN SMUA ALAT MUSIKNYA…!!!
KEREN ASSSYIK
ANAK MUDA SKARANG HAYO MANA YG TANGGUNG JWB DAN KONSEKWEN SBG PMUSIK SJATI SPERTI FARIZ RM(BIKIN ALBUM DARI BUAT LAGU, LIRIK, ISI MUSIK, REKAM, SAMPAI JUAL SNDIRI)
Singkat aja..Fariz adalah idola saya sejak dari SD..lagu2nya enak2..pas ama musik n vocalnya bang Fariz yang khas..Fariz termasuk pelopor musik keren Indonesia yang khas n unik..Ayo bang Fariz keluarkan “taring” mu seperti dulu..kangen bang ama lagu2 barunya!
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
archy said,
July 28, 2008 @ 3:16 pmkeren .. keren.. keren..
duh.. bener2 konser pelepas rindu.. (hallahh)
bahkan klo mo jujur dibanding konser emasnya fariz di 2005, yg konser the anthology lebih mengena.. terutama buat yg ngefans sama karyanya… walau cuman 14 lagu.. tapi hampir mewakili konsep musik fariz.. dan lebih murni karena tampil hanya dalam bentuk band, tidak diiringi orkestra dan macem2 lainnya..
ada 2 kekecewaan malam itu…
1. hiks.. hiks.. camdig gw ketinggalan…
2. hiks.. hiks.. lagu2 favorite saya (astoria, musik rasta, jumpa ke dua) malah enggak ada yg dinyanyikan..
salute to fariz rm..
thanks for blog.. and numpang unduh fotonya.. he.he..he..