Hey Dinan, I think you need to get laid every once in a while biar isi kepala gak cuman dipenuhi kabut mendung, kalut kemelut, dan negativitas. Chill, man. Kick back and relax. Ketika aku menarik kesimpulan tentang kultur orang Bali yang cenderung santai, tipikal daerah peristirahatan (resort), itu adalah dari pengamatan yang cukup lama. Tak cuma 10 tahun, tapi 20+ tahun (shit, I'm THAT old, whew). Karakter penduduk Bali (yang lahir dan besar di Bali, atau tinggal di Bali cukup lama---dan dengan senang hati terseret gaya ini, artinya mereka dari berbagai suku, tak cuman orang Bali "asli" doang), ya memang kayak gitu. Hey, Dinan, bukan berarti aku bersikap menyalahkan lho (ya kalo dari sudut pandang situ mah, hi hi... jelas aja interpretasi yang muncul adalah "menyalahkan". Dude, clear up your brain. Stay positive), tapi, sebaliknya, sikap yang aku ambil adalah MENCOBA MEMAHAMI. Nah, dari titik itu baru bergerak ditindaklanjuti, dicarikan jalan keluarnya. Kalo reaksinya sejenis menyalahkan kultur orang Bali ya ngapain juga susah-susah nyari jalan keluarnya. Tapi pasti akan bersikap ofensif, menyerang, pula overreactive (persis seperti apa yang Dinan lakukan sekarang). Lu salah. Lu harus dihukum. Paling segitu doang. Aku pribadi mah tetap bergerak, tidak menyerah, tidak mencari kambing hitam siapa yang salah siapa yang benar. Aku tidak mengambil sikap seperti Dinan yang ofensif dan menyudutkan: "Hai kalian semua kenapa sampai dibiarkan sengkarut ini terus berlarut? Apa yang sudah kalian lakukan? Jangan berdiam diri saja dong, LAKUKAN SESUATU!!!" Aku tak mengambil jalan tersebut. Aku kurang percaya manusia era milenium yang pintar-pintar bisa didoktrin, di-otoriterin, di-diktatorin kayak begitu (jaman early 90s mah bisa-bisa aja, Punk Rocker muda takut dengan Punk Rocker yang dituakan. Asas senioritas masih manjur, tapi, bung, wake up, this is year 2008 already...). Coba, let's put it this way, respon macam apa yang akan Dinan sampaikan jika 1 dari orang yang mendengar pidato Dinan yang bersemangat negatif dan bertendensi menyudutkan bertanya kepada Dinan (dengan memilih pendekatan negatif yang mirip kayak Dinan), "Siapa elu kok ngerasa punya tanggungjawab besar menyelamatkan musik Bali/Nasional/Internasional/Mars juga Venus?" Dus aku juga yakin, dengan muntahan kalimat-kalimat berapi-api nan kecut dari Dinan tersebut justru akan berujung kontra produktif. Tujuan awal Dinan most likely akan tercapai, orang akan terbangun. Tapi sesudahnya, ya sama, reaksinya ya negatif juga, "Who are you to judge me?" Sesudah orang diteriaki tersebut terbangun, reaksi berikutnya bukannya simpati yang Dinan dapatkan, tapi antipati, "When was the last time you had hot-steamy sex with a great partner? Why so serious?"
Iya, jika di daerah blood-sweat-tears masih cukup gampang memobilisasi massa, mudah mengajak mereka berdemonstrasi, relatif tidak sulit mengumpulkan orang banyak, tapi di Bali? Aku inget banget, bro, bagaimana ultra susahnya meyakinkan sejawat agar mereka mau datang menyemangati panggung demokrasi menolak RUU APP di lapangan Renon beberapa tahun silam. Dan kelompok kerjaku bukan main-main. Ada Gendo di situ (jangan tanya seberapa militannya doski, jangan tanya seberapa loyal pengikutnya). Ada Pak Ngurah Harta (punya pasukan bela diri hingga belasan ribu). Dari kalangan artis ada Nanoe Biroe (you know how krazeee his fans are). Dan masih banyak lagi orang-orang berpengaruh yang bergabung bersatu menolak RUU APP. Trus, apa panggung demokrasi itu sukses---maksudnya banyak orang dateng? Orang yang dateng memang banyak, tapi kurang memenuhi target (jika memakai standard Dinan). Tapi apa itu berarti misinya gagal? Oh, no way, man. Bali adalah daerah yang paling pertama di Indonesia yang berani terang-terangan secara resmi, mengatasnamakan daerah, bukan orang per orang, menolak RUU APP. Dan sebagian darinya mengaku siap mati demi mempertahankan keyakinannya itu. Nah, terdengar cukup militan gak buat Dinan?
Dinan, mohon tidak salah menyikapi, aku tidak menyalahkan kultur Bali. Aku juga tidak mencoba mengangkat dikotomi Jawa Bali (it's a global world today, dunia tak sesempit Jawa Bali). Aku cuma membeberkan fakta-fakta dan sudut pandangku. Kita tak punya hak untuk menyalahkan siapa-siapa. Yang bisa kita lakukan adalah bersikap adaptif, akomodatif, permisif, terhadap kekhasan lokal. Lalu dari situ baru kita konstruksikan jenis pendekatan kayak apa yang akan diambil. Mungkin Dinan menunjuk dengan tangan kiri tidak punya maksud apa-apa. Dan ketika orang lain tersinggung dengan penunjukan memakai tangan kiri---karena tangan kiri cuma buat, ahem, cebok, apa Dinan bisa langsung menuduh orang tersebut bodoh? Belum tentu kan? Bagaimana caranya agar orang tersebut bisa paham bahwa menunjuk dengan kiri itu biasa saja? Yang paling pertama adalah introsepksi diri. Buka hati dan legowo sadari bahwa kebiasaan setempat memang kayak begitu. Selanjutnya baru menyapa ramah seraya halus menerangkan gono-gini tangan kiri (dan belum tentu 10 tahun itu merupakan waktu yang cukup untuk bisa menyakinkan itu orang bahwa tangan kiri sama sopannya dengan tangan kanan). Coba kalo Dinan langsung memvonis orang itu bodoh kurang pendidikan, wih, asli konflik horizontal dah!
Act locally. Think globally. Indeed.
Bersulang, bro -DETHU