Musikator Forum » Ide

Band Nonton Band

(67 posts)
  • Started 2 years ago by dinan
  • Latest reply from BaGonK
  1. @weekenheadbanger..nama u prima yah???wkwkwk baru tau gw...

    q tunggu update nya...
    kalo bisa di TMIF nya musikator hadiahnya cdx geeksmile dunk...jadi q bisa dapet kesempatan dapet CD gratisan,...(wkwkwkwk...maunya..)
    @dinan..saluth buat smangath45 u yahhh

    isn't anybody care??
    Posted 1 year ago #
  2. dinan
    Member

    Huahaha semangat 45 yah? yuuuk... dalam menyambut HUT RI ke sekian neh Ciet! harus semangad kaleee!. sebenernya aku hanya tidak mau nerima begitu saja dan tak mau ditelan doktrin kalo keadaan scene di Bali memble tuh disebabkan karena kebudayaan, kebiasaan, kultur dan semua hal benar yg diutarakan bung Dethu dan juga kebanyakan para pemerhati budaya lainnya. aku gak mau ada lagi ada yg ngingetin kalo anak Bali harus selalu disuapin dan sebutan pemalas lainnya. aku masih curiga ada yg salah dengan keadaan memble seperti ini, kesalahan yg kita tidak tahu apa dan tidak tahu bagaimana menyikapinya. sesuatu yg sangat misterius yang selalu ingin ku buka tabirnya. acara yg di buat bung detgu dibilang mengalami progress yg positif dikarenakan beliau banyak mengundang band2 indie baru yg memang lagi semangat2nya ngajakin pacar2nya nonton jadinya terkesan rame. tapi saat bung dethu mengundang band2 indie yg sedikit senior yg terjadi justru sepi penonton!!! yang terjadi adalah band nonton band! tidak lebih dan tidak kurang! selalu!. saya tidak tahu kenapa???, ini adalah situasi paling stupid yg terjadi di scene kita. dan belum ada jawaban yg bisa memuaskan dahagaku. arggghhhhhhhhhhhhhhhhhhh

    Posted 1 year ago #
  3. @ dinan..
    ultahnya indonesia tuh yang ke 63 mass..(neneknya udah umur segitu ga??)
    auss yah mas...apapun pertanyaannya..minumnya teh botol sosro..(pissss)

    Posted 1 year ago #
  4. hi semua...
    lama gk nongol...

    sebetulnya gw setuju bgt ama niat dinan...
    cuman...
    ya spt kata mas dethu,,
    terkadang kita perlu pendekatan yg berbeda untuk bisa menyampaikan maksud dan tujuan yg sama...
    bahkan di Bali pun ada ungkapan desa-kala-patra, tempat-waktu-keadaan...
    mesti disesuaikan dengan sikon yg ada...
    jadi gak bisa di-sama-rata-padu-padan-kan begitu saja...
    dan klo mw itung2an kuantitas penonton,,
    menurut gw seh,,
    gk salah event di ranah djawa bgtu membludak..
    secara jawa gitu loh..
    krn selain pengaruh socio-cultural spt paparan om Dethu,
    aspek kependudukan dan geografis gak bisa di kesampingkan begitu saja..
    bukannya gimana,,
    misal neh brow...
    klo di malang ada event,
    palagi ngundang band luar negeri,
    para pecinta musik asal dari daerah sekitar (spt surabaya dll) gk kan susah untuk bisa ikut ngeramein...
    lha sedangkan Bali,,
    temen kita di lombok mesti berpikir ribuan kali sebelum mutusin nongkrongin gigs di pulau dewata..

    dan sebelum terlalu jauh kita (ahemm,, maksudnya saya..)terbenam memperdebatkan perbedaan jawa-bali,
    mending kita back to problem inti dari thread ini...
    trkait dengan fenomena band nonton band,,
    mungkin sosialisasi yg gencar nan intensif bisa dipake alternatif (tambahan) selain yg sudah dijelasin om Dethu..
    teknik promosi sepertinya masih terkesan tersentralisasi, maksudnya cuman disitu2 saja...
    kasarnya,,
    hanya menyentuh masyarakat perkotaan,,
    padahal terdapat banyak kantung massa di "daerah terpelosok" (hehehee...)...
    dan padahal jg,,band yg bakal main gw yakin uda pada punya nama and dikenal seantero Bali...(minimal band pamungkasnya...)

    tapi apapun itu,,
    semoga musik bali (khususnya)semakin jaya...

    CMIIAW....

    cheeerrsss...

    Posted 1 year ago #
  5. dinan
    Member

    Hi Rippo Hi Citra... Absolutely Right, pada intinya ada yg salah dengan pendekatan kita selama ini, apa yg dethu dan anda kemukakan 100% benar, mari kita salahkan cultur bali (berarti yg jadi kambing hitam, culture bali dunk? hehe...).
    sudahkah anda coba diskusikan hal ini dgn teman2 sejawat? aku sdh 10 tahun mempertanyakan hal ini pada teman2 di komunitasku, jawabannya sama dengan anda dan dethu, mari kita salahkan kultur bali!!!. bukannya aku sok membela kultur bali yg maha dahsyat ini tapi pokok permasalahannya tidak sesimple itu, aku masih curiga ada yg salah dengan komunitas kita (saya lebih suka mengkambing hitamkan diri sendiri daripada mengkambing gelapkan sesuatu bernama kultur) yes, ada yg salah dengan kita! hanya saja butuh 10 tahun bagi aku untuk menyadarinya (how stupid I am, bro!)... sepuluh tahun lalu aku tanyakan "kenapa kok sepi yah?" jawabannya ternyata tak begitu jauh perbedaanya dgn saat aku ajukan pertanyaan ini beberapa saat waktu yg lalu. lucunya lagi hampir 80% semua menuding kata kultur sebagai biang keladi dari semua keadaan seperti ini, sisanya menyalahkan band yg tampil (itu-itu aja katanya, padahal yg ga itu-itu aja juga tetep sepi hehe), ada juga yg menyalahkan penyelenggara yg mengadakan acara, tempat yang jauh, tiket kemahalan, dan segala dalih kelas teri lainnya.
    aku bukan membandingkan jawa-bali secara sosial apalah tapi aku membandingkan perkembangan music secara nasional bahkan kalo perlu secara internasional (biar sekalian puyeng... hehe), kenapa hanya di Bali yg padahal memiliki 1000 talenta musikalitas tapi acara musik lokalnya tetep keukeuh kosong melompong!??? hayoooo kenapa tuh?.
    Im sorry to say, semalam aku ke twice menyaksikan Born By Mistake, Two Ice Queen dan Audio Kills band yg saya sebutkan diatas sdh jangan di bilang lagi deh berapa lama mereka malang melintang, sudah rilis album lagi (malah BBM akan rilis alb ke 2) tapi penontonya hanya bisa di itung jari, kenapa tuh? aduh Kenapa ya huhu.... bisa gila aku mikirannya!!!, tapi hey hebatnya lagi band2 kita di Bali walo disaksikan segelintir penonton aja mereka tetep gahar loh!.
    sekali lagi masalahnya bukan hanya ini, its so complicated.... somebody please hit me!

    Posted 1 year ago #
  6. Hey Dinan, I think you need to get laid every once in a while biar isi kepala gak cuman dipenuhi kabut mendung, kalut kemelut, dan negativitas. Chill, man. Kick back and relax. Ketika aku menarik kesimpulan tentang kultur orang Bali yang cenderung santai, tipikal daerah peristirahatan (resort), itu adalah dari pengamatan yang cukup lama. Tak cuma 10 tahun, tapi 20+ tahun (shit, I'm THAT old, whew). Karakter penduduk Bali (yang lahir dan besar di Bali, atau tinggal di Bali cukup lama---dan dengan senang hati terseret gaya ini, artinya mereka dari berbagai suku, tak cuman orang Bali "asli" doang), ya memang kayak gitu. Hey, Dinan, bukan berarti aku bersikap menyalahkan lho (ya kalo dari sudut pandang situ mah, hi hi... jelas aja interpretasi yang muncul adalah "menyalahkan". Dude, clear up your brain. Stay positive), tapi, sebaliknya, sikap yang aku ambil adalah MENCOBA MEMAHAMI. Nah, dari titik itu baru bergerak ditindaklanjuti, dicarikan jalan keluarnya. Kalo reaksinya sejenis menyalahkan kultur orang Bali ya ngapain juga susah-susah nyari jalan keluarnya. Tapi pasti akan bersikap ofensif, menyerang, pula overreactive (persis seperti apa yang Dinan lakukan sekarang). Lu salah. Lu harus dihukum. Paling segitu doang. Aku pribadi mah tetap bergerak, tidak menyerah, tidak mencari kambing hitam siapa yang salah siapa yang benar. Aku tidak mengambil sikap seperti Dinan yang ofensif dan menyudutkan: "Hai kalian semua kenapa sampai dibiarkan sengkarut ini terus berlarut? Apa yang sudah kalian lakukan? Jangan berdiam diri saja dong, LAKUKAN SESUATU!!!" Aku tak mengambil jalan tersebut. Aku kurang percaya manusia era milenium yang pintar-pintar bisa didoktrin, di-otoriterin, di-diktatorin kayak begitu (jaman early 90s mah bisa-bisa aja, Punk Rocker muda takut dengan Punk Rocker yang dituakan. Asas senioritas masih manjur, tapi, bung, wake up, this is year 2008 already...). Coba, let's put it this way, respon macam apa yang akan Dinan sampaikan jika 1 dari orang yang mendengar pidato Dinan yang bersemangat negatif dan bertendensi menyudutkan bertanya kepada Dinan (dengan memilih pendekatan negatif yang mirip kayak Dinan), "Siapa elu kok ngerasa punya tanggungjawab besar menyelamatkan musik Bali/Nasional/Internasional/Mars juga Venus?" Dus aku juga yakin, dengan muntahan kalimat-kalimat berapi-api nan kecut dari Dinan tersebut justru akan berujung kontra produktif. Tujuan awal Dinan most likely akan tercapai, orang akan terbangun. Tapi sesudahnya, ya sama, reaksinya ya negatif juga, "Who are you to judge me?" Sesudah orang diteriaki tersebut terbangun, reaksi berikutnya bukannya simpati yang Dinan dapatkan, tapi antipati, "When was the last time you had hot-steamy sex with a great partner? Why so serious?"
    Iya, jika di daerah blood-sweat-tears masih cukup gampang memobilisasi massa, mudah mengajak mereka berdemonstrasi, relatif tidak sulit mengumpulkan orang banyak, tapi di Bali? Aku inget banget, bro, bagaimana ultra susahnya meyakinkan sejawat agar mereka mau datang menyemangati panggung demokrasi menolak RUU APP di lapangan Renon beberapa tahun silam. Dan kelompok kerjaku bukan main-main. Ada Gendo di situ (jangan tanya seberapa militannya doski, jangan tanya seberapa loyal pengikutnya). Ada Pak Ngurah Harta (punya pasukan bela diri hingga belasan ribu). Dari kalangan artis ada Nanoe Biroe (you know how krazeee his fans are). Dan masih banyak lagi orang-orang berpengaruh yang bergabung bersatu menolak RUU APP. Trus, apa panggung demokrasi itu sukses---maksudnya banyak orang dateng? Orang yang dateng memang banyak, tapi kurang memenuhi target (jika memakai standard Dinan). Tapi apa itu berarti misinya gagal? Oh, no way, man. Bali adalah daerah yang paling pertama di Indonesia yang berani terang-terangan secara resmi, mengatasnamakan daerah, bukan orang per orang, menolak RUU APP. Dan sebagian darinya mengaku siap mati demi mempertahankan keyakinannya itu. Nah, terdengar cukup militan gak buat Dinan?

    Dinan, mohon tidak salah menyikapi, aku tidak menyalahkan kultur Bali. Aku juga tidak mencoba mengangkat dikotomi Jawa Bali (it's a global world today, dunia tak sesempit Jawa Bali). Aku cuma membeberkan fakta-fakta dan sudut pandangku. Kita tak punya hak untuk menyalahkan siapa-siapa. Yang bisa kita lakukan adalah bersikap adaptif, akomodatif, permisif, terhadap kekhasan lokal. Lalu dari situ baru kita konstruksikan jenis pendekatan kayak apa yang akan diambil. Mungkin Dinan menunjuk dengan tangan kiri tidak punya maksud apa-apa. Dan ketika orang lain tersinggung dengan penunjukan memakai tangan kiri---karena tangan kiri cuma buat, ahem, cebok, apa Dinan bisa langsung menuduh orang tersebut bodoh? Belum tentu kan? Bagaimana caranya agar orang tersebut bisa paham bahwa menunjuk dengan kiri itu biasa saja? Yang paling pertama adalah introsepksi diri. Buka hati dan legowo sadari bahwa kebiasaan setempat memang kayak begitu. Selanjutnya baru menyapa ramah seraya halus menerangkan gono-gini tangan kiri (dan belum tentu 10 tahun itu merupakan waktu yang cukup untuk bisa menyakinkan itu orang bahwa tangan kiri sama sopannya dengan tangan kanan). Coba kalo Dinan langsung memvonis orang itu bodoh kurang pendidikan, wih, asli konflik horizontal dah!

    Act locally. Think globally. Indeed.

    Bersulang, bro -DETHU

    Posted 1 year ago #
  7. dinan
    Member

    Siap komandan, aku hanya ingin membakar Bali saja (thats the point) huhuuuuu.......
    siapa lagi kalau bukan dinan yg mau dan harus di cemoohkan? tak ada yg bersedia sih! hahahaha.....
    aku jadi inget 10 tahun lalu, anak2 punk dps menganggap jerman itu basisnya punkrock, bahkan ada anak metal yg keukeuh bahwa jerman adalah negara asal mulanya punk rock hehehe jadi curhat neh, aku sih tidak menganggap ini bodoh aku menganggapnya well ini harus diluruskan, so saat aku bergabung di TOP Fm. mulai deh sedikit menginformasikan gini loh punk rock asal muasalnya.... huhu
    yg paling militan saat itu yg kusebutkan adalah logo nazi dan redneck bukan logo punk itu adalah logo paling bodoh yg pernah di pakai anak2 punk disini yg memperlihatkan jati dirinya sbg anak punk dgn memakai logo tsb sbg ikon, bahkan ada yg dijadikan tattoo (ya tuhan) aku jelaskan juga (mungkin secara militant) bahwa itu salah!.
    tau apa yg terjadi? apa yg bli dethu utarakan diatas 100% absolutely right, bukannya org say thx tapi malah ada anak punk gak terima dan mau Nyakcakin (ngeroyok) aku gara2 cara penyampaianku itu. hahahahaha... do I regret? ya ngga lah!, buat apa takut kalau kita selalu memiliki tujuan benar, betul bli?.
    tapi thx god akhirnya setelah 10 tahun ada juga yg berani mengutarakan say thx atas info logo nazi tsb, hahahahaaa
    kalo bli dethu mungkin secara pasifis kalo aku lebih suka secara militant, dua-duanya gak ada yg salah selama tujuannya positif! betul gak? hehehehe...
    sebetulnya dinan org yg pasifist juga kok, apalagi kalo sdh bertatap muka! hahahaha
    (word sharper than act, terkadang gitu looo) huehuehueeeee....
    merujuk permintaan kawan2 supaya aku agak sedikit slowdown, baiklah... kuangkat dulu gelas arak ini dan mulai menerawang 'why im so fuckin serious?', mungkin besok di hari liburku akan kuajak anakku nonton batman di 21.....
    cheers and respect, fight and proud

    Posted 1 year ago #
  8. Vote Dethu for President ! nyeh.nyeh.nyeh....
    cheers...

    Posted 1 year ago #
  9. dinan wapresnya???
    wkwkwkkw..
    thx dethu 4ufuckinanswer.
    thx dinan 4urfuckin argument.
    kesimpulannya??
    why so serious???
    kayaknya virusnya joker berkembang dg subur di indonesia

    Posted 1 year ago #
  10. om robin menteri luar negeri merangkap PR nya :p
    hek.hek.hek.hek...bantu sundul ahhh (alahh..kaskus benjettt)
    cheers..

    Posted 1 year ago #
  11. gw jadi apanya dunk??
    sekretaris negara ma juru bicara negara aja wezzz..
    wkwkwk
    andre apa yah?menteri ekonomi dan blablabla aja wezz..
    hauaauahuauahuha
    OOT!!!!

    Posted 1 year ago #
  12. kimun666
    Member

    isyukisyuuukkkk...robin rumaha damay? hehehehe...sono bro!
    ikutan ah...

    pertama kali ke bali thn 1997. sy manggung sm sonic torment di amphitheater nusa dua bali. zaman itu SID masih bawain greenday kalo ga salah, dan band paling hardcore di bali masih bawain lagunya ugly kid jeo (itu cover lagu black sabbath, judulnya entah, sy lupa lagi). saat itu gig sgt kondusif dan lumayan rame yg liat. bahkan bule2 pun antusias dtg. sy smpt berkenalan sm bbrp bule dan smp skrg jd penpal sy.

    ada ganjalan saat itu. sy g ngeliat komunitas2 musik di bali berpadu selayaknya kaum minortitas yg saling bahu membahu berjejaring, membentuk sel-sel kecil untuk saling dukung komunitas satu denga lainnya. smp kini sy g tau sebabnya. mungkin krn faktor budaya bali yg sgt kuat, komunitas2 di bali g bisa bersatu.

    namun, di bandung, terutama ujungberung--tempat sy besar--akar budaya sbtlnya tak jadi alasan. kami berasal dr beragam akar budaya yg kuat dan justru itu yg sekarang kami majukan. bandung deathfest 2 dan 3 dibuka oleh rajah pamuka, salah satu ritual doa sunda kuno memohon keselamatan dan menyisipkan berbagai seni tradisional di pergelaran death metal, seperti tarawangsaan, karinding, pencak silat, bahkan debus--sebuah seni tradisional yg menurut max cavalera hardcore bgt!

    sy kira kami bisa bersatu--bahkan kami di ujungberung sgt dekat dgn kelompok adat sunda (ujungberung rebels diberi gelar oleh kelompok kampung adat sunda dgn nama kelompok adat sunda underground)--karena satu persamaan : persamaan nasib. sama sama dipinggirkan oleh tata budaya modern, tata budaya baru, pemerintah, bahkan masyarakat secara luas. banyak terjadi diskriminasi diantara kami, bahkan ketika ivan scumbag vokalis burgerkill masuk rumah sakit tahun 2006,ia tak mendapatkan perawatan yg layak, hanya karena ia dianggap preman dan dicurigai korban overdosis. hingga ia meniggal...

    saya jd bertanya-tanya, adakah persamaan nasib di kalangan komunitas2 bali????

    Posted 1 year ago #
  13. kimun666
    Member

    100% arak bara bali!
    hellyeah!!!!

    Posted 1 year ago #
  14. kimun666
    Member

    oh satu lagi...fenomena menarik di bandung yg kemudian membentuk jejaring komunitas yg mempersatukan bandung adalah kesadaran band2 bandung dlm menempatkan merchandise sbg senjata perjuangan komunitas dalam seluruh kompleksitasnya. ujungberung bahkan kini punya merk rokok sendiri yg akan jd identitas bersama : morbid nixcotine!

    sepuluh tahun kesadaran itu terbangun sejak 1997 dan kini konsumen bandung (dgn tipe genuine consumers) lebih bangga berkaos lokal yg diproduksi sendiri drpd kaos2 band luar tapi produk palsu. lebih bangga dgn merk teman tp asli dan diproduksi sendiri drpd merk terkenal tp bajakan. sy kira mentalitas ini jg penting diperhatikan.

    kemudian yg unik, bandung tetap mempertahankan alur terbangyunnya scene smp hari ini. mulai dari sharing info dgn anak2 baru yg selalu haus info, tradisi zine (krn dr 30.000 massa musik bawahtanah bandung, 80% anak jalanan dan tak mampu pergi ke warnet, browsing, dll. bagi mereka duit di dapat di jalan. drpd meluangkan 10rb rupiah duit mrk utk browsing mending beli miras! makanya zine hrs ttp ada, gratisan, dan diusahakan sampai ke anak2 jalanan!), event2 musik, sampai kesadaran pentingnya selalu berkumpul. krn itu, ruang2 berkumpul yg sem,pat hilang ketika kloting tumbuh subur di bandung, kini direvitalisasi. ada commonroom kini. ada tobucil. ada pieces distro. ada ultimus, taman2 kota, toko2 buku independen, distro2, kloting, dll.

    saya tau, bali bukan bandung. keduanya adalah tempat berbeda. tapi semangat bawahtanah di manapun dia berada, still remains the same!

    all hail! all hail!

    Posted 1 year ago #
  15. Kimung,

    Kenalin diri dulu atuh sama yang lain?

    Nuhun.

    Robin Malau
    Share, Care and Welfare
    http://www.musikator.com
    Posted 1 year ago #
  16. Kimung,

    Terimakasih join diskusinya, selamat datang di Musikator Forum.

    Terimakasih juga menyadarkan saya bahwa diskusi ini polanya ternyata ngga nyambung dari awal. Terlepas dari kontribusi rekan-rekan yang join debat disini, terimakasih terimakasih dan terimakasih sudah aktif dan berpartisi.

    Anyway.

    Yang pasti Ujung Berung = BAGIAN dari komunitas Bandung, bukan komunitas Bandung. Begitu pula dengan Common Room = BAGIAN dari komunitas Bandung. Setahu saya, masih banyak komunitas lainnya, yang secara keseluruhan disebut sebagai Komunitas Bandung. Jadi, Ujung Berung dan Common Room adalah Sub Komunitas di Bandung.

    Sementara itu, diskusi disini bukan komunitas tertentu atau Sub Komunitas di Bali. Tetapi mengarah ke komunitas musik Bali secara umum (keseluruhan), yang varian masalah dan problematika sosialnya lebih banyak dan lebih rumit daripada varian masalah Sub Komunitas. Kalau mau mecahin masalah Komunitas Bali, saya rasa lebih banyak pihak lagi yang harus join diskusi ini.

    Nah. Jika bicara Sub Komunitas di Bali, setahu saya, banyak koq Sub Komunitas yang berjalan dengan normal. Pengertian normal disini adalah SK tersebut dengan continue mengadakan konser (ngga mewah dan ngga megah tapi jalan), mendapat apresiasi dari penonton; baik menghargai dengan bernyanyi dan membeli tiket dan apresiasi-apresiasi lain yang dibutuhkan oleh sebuah Konser Musik yang Baik.

    Jadi, balik ke awal thread forum ini, seperti disampaikan oleh Ade Putri, Bali-nya sebelah mana? Band-nya apa?

    Dalam hal ini, menurut saya Dinan ngga bisa generalisasi. KOMUNITAS BALI, komunitas Bali yang mana nih? Saya khawatir diskusinya jadi ngga pararuguh, karena akar masalah yang diungkap Dinan juga ngga jelas dan ngga pararuguh.

    Kalau akar masalah ngga jelas, jadi masalah mana sebenarnya yang harus dipecahkan wong masalahnya juga ngga jelas (ngga bisa di identifikasi)? Ujungnya, diskusinya jadi ngga puguh. Kalau diskusi ngga puguh, ngapain diskusi?

    Diskusi itu bagus, jika puguh.

    Kalo ngga puhuh nanti diskusi kita juga menghasilkan outcome salah kaprah dan kita malah tidak bisa memecahkan masalah. Cukup ah. Saya bosan dijajah dengan ketololan yang namanya Salah Kaprah.

    Sekarang pertanyaan kembali ke Dinan lagi nih nan. Bisa lebih spesifik masalah yang kamu maksud ada di (sub) komunitas mana? Band-nya apa? Bali-nya disebelah mana? Cageur Nan?

    Silahkan dilanjut, hatur nuhun.

    Posted 1 year ago #
  17. wah, diskusi yang menarik, maaf saya lama tidak mengikuti forum ini. fyuh, kebanyakkan facebook euy! pernyataan saya tentang band yg manggung cuma itu2 aja adalah pendapat saya pribadi, melihat dari pengalaman saya selama menonton konser(underground?) di denpasar dan kuta. saya sih orangnya, kalo suka ya beli tiket, kalo tidak suka ama bandnya ya mending diem di rumah sambil buka2 facebook (lagi!!!). salut buat teman2 yg ada di forum ini, dethu-dinan-robin-prima! you guys rocks! ohya, sampe kimung pun ada, saya fans burgerkill, dari demo, kompilasi: breathless, independent rebel, ticket to ride, sampe album dua sisi rilisan riotic saya koleksi! setelah itu, saya tidak nge fan lg, sorry to say. karena sdh tidak old-school HC lg kang... dan saya juga baca liputan tentang komunitas underground di ujung berung pada koran kompas minggu beberapa waktu yang lalu dimana akang kimung diwawancara. pokoknya mah salut sama scene disana! rock on!
    less talk more rock
    -lecir-
    penggemar melodicpunk

    Posted 1 year ago #
  18. dinan
    Member

    <-- (Neh dia Provokatornya) Hai Semua sebelumnya tyang mau ucap salam sejahtera RAHAJENG GALUNGAN DAN KUNINGAN, Juga Met Berpuasa bagi yg Muslim. menjawab pertanyaan bli Rob-Low ttg kembali ke akar permasalahannya. "Band Nonton Band" adalah sebuah fenomena aneh bin ajaib yg terjadi dikomunitas Underground Bali (Indipendent music di Bali). yah karena tyang baru 10 thn di Bali jadi kadang suka pengen banget ada kemajuan sehingga fenomena ini berangsur berubah jadi ngga hanya "band nonton band" mulu. kapan gitu yah kita ditonton fans, dijubeli ribuan penonton maksudnya. hehehe....
    sebagai mantan penyiar radio yg muterin music underground, sebagai mantan penulis komunitas musik underground via magic wave, sebagai event organizer yang juga pembuat clothingan dan merangkap mc di acara music metal, plus penyanyi di band yg ga pernah bikin lagu impian saya cuman satu "Ingin Komunitas Ini tambah Seru", seru yg artinya tambah rame dan tambah asoi geboi. gitu loh, soal komunitas yg mana, acara yg mana, band siapa aja yg manggung, linkup wilayah yg mana. nah ini dia problematika gak jelasnya. kejadianya semuanya ada di BALI, ngga peduli tempat acara, atau acara dari komunitas Punk, Metal, HC, Indie ataupun Classic Rock. semuanya aku tabrak lari dah ..(ngga semuanya sih sepi penonton) intinya dari 10 acara yg digelar tiap bulan pasti hanya 1 yg rame (itu juga karena disupport band asing yg terkenal atau ada band yg lagi trendy). rumit juga yah.... mmmm aku setuju bung dethu, kimung (dosen sejarah dan penulis buku neh), juga Rippo, Lecir dan Om Low-Rob, kita butuh lebih banyak orang dari berbagai komunitas untuk membicarakan masalah pelik nan lucu ini. Nah siapakah yg bersedia membuat forum yg lebih besar untuk masalah ini?, adakah kawan senasib? yg mau buka forum ini ke tempat yg lebih luas? semoga aja ada yah? kalau bukan kita ya siapa lagi dong yg peduli Hanya Orang Bali Yang bisa Merubah Tatanan Ke Underground an di Bali. Kamu, Aku dan semuanya....

    Posted 1 year ago #
  19. waduh2..apa inih???
    @ kimung..still remains the same..(judul lagu yah??pumya led zep..)
    @ mas robin.. diskusi itu bagus, jika puguh..(puguh nama guru sma q euy..)
    @ dinan..ini dia provokatornya...(BANTAI,....heuheuuehuehu..)

    piss ah!

    Posted 1 year ago #
  20. kimun666
    Member

    citra : still remain the same itu kata2 penutup pacar saya tiap kali dia nulis surat cinta buat saya hehehehe....

    ah bin, hell with uberebels, hell with commonroom...

    yg jelas update bandung mah skrg makin asoy geboy ajeh hehehehe...kmaren bandung youth park festival penutup helarfest walopun dihentikan magrib lantaran cuaca tak mendukung (hujan gede pisan trus polisi parno liat penonton yg banyak bgt menyemut di sekujur saparua lapangan baik gor) adalah kristalisasi upaya kaum independen bandung untuk memetakan kembali sarana-sarana pengembangan kreativitas dan kaum muda bandung. kaum independen yg saya maksud adalah bandung creative city forum (BCCF), terdiri dr berbagai disiplin keilmuan yg tumbuh dr kultur independen, dari arsitek, musisi, penggiat literasi, kelompok kampung adat tradisional, bikers, pengusaha kloting, pengusaha transportasi terutama angkot, desainer, pemerintah (pemerintah kami anggap sbg komunitas juga di sini yg bisa masuk asal bisa cair dgn anak-anak), dll-dll. dari perumusan BCCF itulah kemudian lahir helarfest 2008 yg di dlmnya terdiri dari 31 event selama satu setengah bulan. untuk info ttg BCCF dan helarfest yg baru usai mangga dilihat di blog helarfest dan BCCF.

    begitulah dinamika pergerakan komunitas independen di bandung...yg pasti akan dipush adalah peluncuran rokok morbid nixcotine, penerbitan tiga buku tentang bawahtanah bandung, pameran2 kompilasi 1997-sekarang dimulai dr masaindahbangetsekalipisan (duh nostalgiaan bin nya...), dan revitalisasi sarana publik dan kesenian tradisional.

    tentang bali, oktober ini sy rencananya akan ke bali sebagai bagian dari riset enulisan buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels (jieunkeun web na bro hehehehe...). sebetulnya ini adalah bagian dari riset Jogja-Malang-Surabaya-Bali. untuk tiga tempat sebelum bali sy lumayan berlink dgn mereka dan semua komunitas di sana bersedia membantu bahu membahu. pas sy nyari info ttg bali--krn sy baru ke bali taun 1997 ajah--selain tentu banyak hal positif yg diceritakan kawan2 di bandung, tnyata ada hal miring juga mengenai komunitas2 di bali, seperti : sok parasea lah, tidak saling supportlah, kalo kita maen sama komunitas A ntar kita dimusuhin komunitas B lah, pokonya ada rumor-rumor kondisi komunitas yg ga kondusif untuk berkembang di bali. sy trus kontak kawan2 lama sy di bali, trutama yg dr bandung, biar lebih objektif pandangannya. beberapa info menyangkal, tp beberapa info mendukung.
    krnnya saya jd punya kesimpulan sendiri : "ada beberapa hal yg khas mengenai komunitas di bali yg harusnya bisa digali, dipertemukan, dan kemudian dikembangkan bersama." saya kira konflik adalah bagian terpenting dari proses menuju keseimbangan asal kita bisa mengelola konflik yg terjadi dgn cermat.

    abu nidal, walohualam...sy ga tau tapi saya sangat ingin tahu. sy sangat menghargai beragam kekhasan, terutama bali, krn sy cinta arak bali hahahahaha...saya kira pertanyaan "komunitas mana, atau bali yang mana?" adalah pertanyaan yg sifatnya spasial, bahkan temporal yang pada akhirnya cuma akan memetakan bali dlm sebuah konstalasi yang tidak dinamis karena tentu saja tiap komunitas atau bagian bali punya kekhasan masing2 yg kadang tak harus disamakan satu sama lainnya. saya lebih tertarik dgn pertanyaan "bagaimana kita buat agar band tak lagi nonton band di komunitas manapun di bali, di bagian manapun di bali..."

    sekali lagi maapkan jika saya lancang...hampura biiiin... diiiin.....
    tapi saya bener2 ingin tahu ttg scene ini...

    thx :)

    Posted 1 year ago #
  21. kimun666
    Member

    to lecir : minta alamat imel dong bro, ada bbrp hal yg ingin sy tanyakan...thx!

    Posted 1 year ago #
  22. kimun666
    Member

    oh iya ada yg lupa..
    kenalkan ke semua forum diskusi ini...saya kimung, dari bandung. sy mengurus sebuah bacaan kecil, namanya minorbacaankecil, dan juga sebuah self publisher namanya minor books.
    saya guru dan juga menulis untuk zine2 di bawahtanah bandung. kadang saya bikin film, kadang saya melukis walopun lukisan sy ga pernah ada yg jadi hehehe..., tapi sekarang lagi nyiapin materi2 buat band saya nicfit dan sonic torment, juga lagi nulis tg sejarah ujungberung rebels dan bawahtanah bandung, juga lagi digarap penerbitan buku Purnawarman Noise Rock Fever (saya yg nulis dibantu Ojel, Zaki, dan Ajo), sejarah musik elektronik bandung (rencananya yg nulis Krisgatha tp ga tau sy blm ktmu lg sm dia, kl dy g jadi, yg nulis berarti anak2 open labs), dan ttg kompilasi bandung 1995-2008 (ini yg nulis idhar, wartawan ripple), juga lagi iseng2 nulis kronik2 ga penting tapi lucu dan mengharukan bertema komunikasi yg khas antara komunitas metal ujungberung rebels dengan kelompok kampung adat sunda. buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels akan rilis desember ini hampir berbarengan dengan buku novel karya addy gembel "Luther" dan buku kompilasi penulis2 muda bandung-lampung-malang "Dari Bawahtanah, Oleh Bawahtanah, Untuk Semua" sementara buku2 yg lain akan terbit secara berkala sepanjang tahun 2009. Bawahtanah Bandung, tentu saja tahun 2010 kalo sy panajng umur hehehehe....mohon doanya kawan2 semua ya :)

    demikianlah mungkin nya bin....
    senang ikut berdiskusi di sini :)

    hellyeah! 100% arak bali!

    Posted 1 year ago #
  23. to kimung: silahkan email saya di: wprasta@yahoo.com

    all the best
    Wiraprasta aka lecir

    Posted 1 year ago #
  24. kimung, nanti kita minum araknya di twice bar ajah...!!!

    Posted 1 year ago #
  25. halloowww..
    wah salam knal sebelumnya utk smua teman2 di musikator..
    :)
    nuncep dsni...
    :D

    band nnton band ya..??
    hmm...iya ini emang skrg sdang hit ya d bali...
    (*mungkin d luar bali juga..hehe..)
    Om dethu bagus skli tanggapan nya sya stuju lah Om..
    ayo kita sama majukanmsik indie bali...
    ayo semangat...
    oiyaa...1 lagi..jgn nnton konser mau nya gratis mulu..
    minta invit dll..
    fiuhh..
    huhuh,,

    *nuncep

    Posted 1 year ago #
  26. Mita
    Member

    Hai semua...salam kenal juga
    setuju sama ncep...katanya mau support band indie, tapi kalo pas event minta tiket gratisan ato invitation...yg parah kalo pas launching jg minta album nya gratisan...kapan majunya...band nonton band? y gpp juga, band member kan jg manusia yg butuh hiburan tapi jangan ngerepotin yg punya hajatan...

    Posted 1 year ago #
  27. waahhh..rame lagii....

    >>>>>gratisan itu enak...tapi aku seumur2 cuma dapet gratisan 3 kali th..CD telephone dari musikator,tiket pensi adek kelas,ma tiket nonton bola...hahahuauhau

    Posted 1 year ago #
  28. @mita
    salam knal mit..aje gile, minta CD gratis sgala, yah klo yg launching itu ortu kita mah gpp minta..hihih..
    ayo beli yg asli.. biar yg dgang CD enak, biar semangat dan bergairah bermusik..ihhhaaaaa..

    @Cietra..
    halooww mba cietra..ini yg d myspace add sya kmaren ya..??
    *sotoy..sotoyyyy..hewhew..
    gratisan emang enak BANGET, tp praturan nya kan klo nnton gig mesti beli tiket, baru deh masuk..
    emang uda khas ya PRATURAN itu utk di LANGGAR..
    hahaha....
    aje gilleeeeeee..
    :)

    Posted 1 year ago #
  29. @ nuncep..
    kayake aku sek 18 tahun deh...
    kok dipanggil mbak seh?hikkkzzzzz
    iyo..aku seng add myspacxe u kmrn..

    ingat,...ini INDONESIA...dimana segala hal yang berbau GRATIS sangat di gemari..
    kayak kejadian bagi2 zakat di pasuruan kmrn yang makan korban 21 manusia..
    sumpah tragis...

    innalilahi wa inna ilaihi rojiunn

    Posted 1 year ago #
  30. @cietra...
    heuu.. iya itu bagi zakat maut..
    hihih..

    tp ya sebisa mgkin jgn minta gratiiiss...
    :)
    heuu...

    ting..tinggg

    Posted 1 year ago #

RSS feed for this topic

Reply »

You must log in to post.