Hentikan Upaya Pembuktian Diri, Percuma…

by on 03/03/09 at 1:14 am

rockstar-solo

Sejak dulu hingga sekarang, saya masih sering terjebak dengan Upaya Pembuktian Diri bukannya Berbuat yang Terbaik. Bodoh sih tidak, alami iya. Meski alami tapi tetap saja tidak produktif dan membuang-buang waktu.

Ini tidak hanya terjadi kepada musisi, yang menurut logika saya lebih mudah tergoda untuk membuat musik menjadi ajang pembuktian diri. Tapi terjadi pula pada kaum non musisi. Saya bisa bilang begitu karena saya sudah menjadi orang non musisi selama 7 tahun terakhir, dimana sebelumnya saya jadi musisi aktif selama 14 tahun.

Perbedaaan antara keduanya? Ada, dan signifikan:

Upaya Pembuktian Diri

Saya definisikan sebagai upaya-upaya untuk menunjukkan ‘siapa gue’. Objeknya orang lain. 

Sementara itu,

Berbuat Yang Terbaik

Saya definisikan sebagai upaya-upaya untuk melakukan apapun dengan sungguh-sungguh. Objeknya adalah diri sendiri.

Perbedaan Hasil

Sangat jelas. Kamu bisa nilai sendiri mana yang produktif, mana yang tidak.

Jika kamu memperlakukan musik sebagai ajang pembuktian diri, saya berani taruhan, kamu tidak akan pernah berhasil. Kenapa? Karena masih ada saja orang di luar sana yang menganggap remeh prestasi kamu. Padahal, misalnya, kamu sudah melakukan segala upaya untuk menjadi musisi hebat. Seingat saya, ketika saya sedang sering-seringnya berusaha membuktikan diri, saya malah sering kecewa. Dalam hati saya sering berkata, ” perasaan, gue udah bener, koq masih ada aja yang nganggep remeh band gue?”. Seperti teori saya diatas, pembuktian diri itu bukan mengacu pada diri sendiri, tapi ingin menunjukkan bahwa kamu hebat di mata orang lain. Hebat di mata fans, industri, manajer, orang tua, pacar… dan lain sebagainya.

Sementara itu, ketika saya ‘hanya berusaha berbuat yang terbaik’, saya tidak perduli lagi apakah hasil upaya saya baik, atau upaya saya bisa membuat orang senang. Saya benar-benar tidak perduli. Hasilnya, orang lain yang melihat dan menghargai upaya saya akan dengan sendirinya memuji, menghargai dan menghormati (atau setidaknya memberi semangat).

Mohon dicatat, kebanyakan orang sebenarnya tidak bodoh dan mengerti mana orang yang hanya menjadikan pekerjaannya sebagai ajang pembuktian diri dan mana yang hanya ingin melakukan yang terbaik.

Bagaimana seorang Rockstar Melakukan yang Terbaik dan tidak terjebak dengan Upaya Pembuktian Diri:

Seperti saya bilang diatas, tidak mudah. Tapi ada upaya-upaya yang bisa kamu lakukan agar musik tidak menjadi sekedar ajang pembuktian diri:

  1. Ketahui keinginan kamu. Mau main band sekedar dapet groupie atau apa?
  2. Tentukan tujuan. Main band mau sampe mana (nafkah, sekedar ada ‘kegiatan’, atau sampai jadi musisi profesional) dan untuk siapa sebenarnya kamu main musik.
  3. Jabarkan tujuan (lebih bagus tertulis atau terekam dan tersimpan di media yang bisa kamu baca/dengar ulang – personal blog juga bisa jadi pilihan), dan lakukan upaya-upaya untuk mencapai tujuan tersebut.
  4. Belajar dari orang lain. Bukan, kamu bukan dan tidak akan pernah menjadi rockstar terhebat di dunia, sadari itu. Masih banyak orang lain di luar sana yang bisa melakukannya lebih baik dari kamu. Jangan jadi rockstar dungu dan sana belajar dari mereka!
  5. Bagian tersulit: Lakukan semua kegiatan musikal kamu secara sungguh-sungguh. 

Not fun yah? Kedengarannya memang tidak. Tapi paradoks bermain-main di dunia musik ya begitu. Kamu harus ‘tidak fun‘ menjalankan dunia musik kamu untuk bisa ‘have fun‘. Remember, no such thing as free lunch, do your best dan nikmati musik kamu.

Semoga berguna.

Foto oleh Lloyd Budd.

13 Komentar

saylow

Mar 3rd, 2009

Wow, this article rock. Rock Star wannabe got be read this article. Hail Musikator.

Balas

MoronCoder

Mar 3rd, 2009

pemikiran yang smart kang! salute! bisa diaplikasikan bukan hanya di musik kan? bisa sih kalo menurut saya..

Balas

Prima

Mar 3rd, 2009

Tambahan untuk nomor 5, selain sungguh-sungguh saya rasa musik harus bisa dipertanggungjawabkan, Musikator memang BATU!

Balas

male unwisely

Mar 3rd, 2009

Begitulah pak robin realita sesungguhnya yg ada..
Menurut pendapat saya, ada 3 faktor umum sebagai penyebab (yg saya rasa logis dan dapat dibuktikan kebenarannya) tentang mengapa seseorang sering terjebak dalam “Upaya Pembuktian Diri” tersebut:
1. Faktor Psikologis, faktor ini berupa sikap mental atau jiwa yg masih labil yang dipengaruhi oleh usia, rentan waktu pasti sikap mental yg masih labil yakni dari 13 – 20Th, sikap mental yg seperti ini tentunya masih diliputi sisi “Egoisme” yang kuat. (setuju atau tidak, saya pun terjebak dalam lubang “upaya” yg sangat dalam pada usia-usia tersebut.
2. Faktor Pendidikan (formal maupun non formal), pendidikan yang berorientasi pada kompetisi dan prestasi, dan saya menyebutnya “sisi negatif” dari pelaksanaan sistem pendidikan seperti itu.
3. Faktor lingkungan/pergaulan, lingkungan yang sudah terpola oleh sistem pendidikan di atas.

Upaya pembuktian diri, menurut saya suatu keharusan yang harus dijalani dan pastinya itu alami. Sekarang pertanyaannya, apakah upaya pembuktian diri bisa dihentikan?? hehehe.. Sangat bisa kalo menurut saya, akan tetapi amat sangat tergantung dari individu masing-masing, serta membutuhkan waktu yang bervariasi pula, langkah-langkahnya seperti yg Pak robin sebutkan di atas..
Ada satu siklus yg harus dilalui sebelum kita mencapai ending dari “upaya” tersebut, siklus ini mirip dengan piramida terbalik, dimulai dari titik umur yang bervariasi tapi secara umum rentan waktu yg saya sebutkan di atas, kemudian berjalan menurun dengan puncak (lembah terdalam) tentunya disini yg ada 3 K (Kecewa, Kecewa, dan Kecewa) sama seperti yang saya dan pak robin rasakan :D . Akan tetapi harap dicatat pula, titik inilah merupakan titik balik, disini kita sudah mulai menyadari akan “kekeliruan yang kita jalani selama ini” dan sesegera kurva siklus ini akan menanjak kemudian dan endingnya?! sampai kita benar-benar tidak ber-”upaya” lagi.
Satu lagi tambahan dari saya, Faktor psikologis adalah faktor alamiah, dan hanya bisa dimodifikasi tidak dapat dihilangkan, modifikasi yg dimaksud erat sekali kaitannya dengan sistem pendidikan di atas tadi. Idealnya pendidikan yang tepat bukanlah pendidikan yg berorientasi pada Prestasi maupun Kompetisi, akan tetapi pendidikan yang berorientasi pada dedikasi. Pendidikan prestasi dan kompetisilah yang saat ini menghasilkan konflik-konflik saat ini, akan tetapi pendidikan yang berorientasi pada dedikasi pasti melahirkan “melakukan yang terbaik”.

Simplenya seperti ini, ini adalah hukum sebab-akibat:
Sebab = berdedikasi dan melakukan yang terbaik
Akibat = Dikenal, Jadi Rock Star atau whateverlah..

Melakukan yang terbaik adalah proses, pembuktian adalah hasil.
Jangan pernah berharap makanan yg kita masak akan enak, kalau kita tidak bisa memasak, bukan masalah bahan-bahannya yang tidak mendukung tapi cara memasaknya.

Setuju???

Balas

Robin Malau Reply:

Ya.

Tapi saya ingin konfirmasi agar saya sendiri tidak salah mengerti:

2. Faktor Pendidikan (formal maupun non formal), pendidikan yang berorientasi pada kompetisi dan prestasi, dan saya menyebutnya “sisi negatif” dari pelaksanaan sistem pendidikan seperti itu.

Musisi (dan non musisi for this matter) banyak yang salah mengartikan kritik ini, termasuk saya waktu jadi musisi. Akhirnya, saya ingat pada masa-masa itu, saya jadi anti sekali dengan kompetisi dan prestasi. Akhirnya hidup bermusik saya jadi basi.

Sejauh pengetahuan saya, Kompetisi dan Prestasi itu elemen penting dalam hidup, bermusik tidak bermusik, karena jika bijak, bisa bikin hidup semakin hidup.

Syaratnya, Kompetisi dan Prestasi jangan dipandang sebagai orientasi. Begitu ya?

Balas

male unwisely Reply:

Benar sekali, kompetisi dan prestasi memang penting, dan bukan harusnya jadi orientasi. contoh simple saja karena ingin berkompetisi dan berprestasi, orang sering melupakan “melakukan yang tebaik”, karena orientasi kompetisi dan prestasi jugalah yang menyebabkan seseorang “menghalalkan” segala cara.
Akan tetapi perlu juga dicatat, hal ini sangatlah tergantung dari individu itu sendiri, dan ini bisa dilihat dari penggalan argumen pak robin “…karena jika bijak, bisa bikin hidup semakin hidup.”itulah mengapa saya menambahkan “sisi negatif” dari pernyataan saya di atas.
Kompetisi dan Prestasi hanyalah media untuk pembuktian diri.
Akan tetapi dengan berbuat yang terbaik , kompetisi, prestasi, dan pembuktian diri akan mengikuti dengan sendirinya.

Balas

Oddie

Mar 13th, 2009

Saya selalu menjalankan project musik saya dengan cara yang terbaik dengan tujuan mendapatkan groupie yang terbaik. I think that’s a valid enough reason to form a band. Uh huh. Wink wink.

Balas

Robin Malau Reply:

It is bro, hahah…!

Balas

eric

Mar 19th, 2009

Hal ini lah yang jadi pemikiran gue hampir setahun ini…

gue udah ga mau lagi menerima tantangan pembuktian diri lagi dari siapapun, terhadap kerjaan yang gue ga suka, cuma demi menunjukan gue bisa.

hehe.

thx Bin dah nulis artikel ini.

Balas

Robin Malau Reply:

Sama-sama Rik. Cheers!

Balas

amild live wanted

Mar 31st, 2009

setuju..
mending ga usah maen musik kalo cuman jadi sampah
wew…!!

Balas

Aji The Billy

Mar 31st, 2009

Bener juga Bin, gua setuju artikel lo ini..lol
Kalo kita tepaku pada naluri untuk “membuktikan diri” bahwa kita juga BISA, terkadang setelah hal yang kita inginkan kita capai maka kita cenderung akan sulit untuk mempertahankannya..Ya, karena dalam naluri pembuktian diri kita tersebut hanya sebatas untuk mencapai target yang diinginkan, gitu ga man?!!?..dan bukan merupakan usaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik..

\go. psycho/

Balas

Robin Malau Reply:

Spot on. Cheers bro.

Balas

Silahkan Berkomentar