Ian Who?

Minggu senja, 1 Juni 2008, saya datang ke pesta perpisahan salah satu karib saya, Almira, yang hendak melanjutkan studi ke San Diego, Amerika Serikat. Dari sunset-bbq party di Petitenget, Krobokan, Bali kemaren itu terdapat kejutan menarik, semacam hadiah perpisahan dari saya buat Mira: penampilan unplugged Ian Stevenson (dibantu Windu—kibordis yang belakangan banyak diminta/dirayu/dikerjapaksakan menjadi additional player di sejumlah band keren di Bali).

Ian, bagi yang belum mengenal dekat, adalah mantan frontman kelompok alternative rock, KAIMSASIKUN. Sebuah grup yang sebenarnya super potensial namun tersimak agak tertatih-tatih dalam meraih popularitas. True, indeed, salah satu bakat tajam Kaim itu terdapat di diri Ian. Dan Ian membuktikannya malam itu.

Hanya dengan gitar bolong serta keyboard + sound system kapasitas kecil Ian sanggup mempesona para hadirin yang berjumlah tak lebih dari 25 orang itu.

Ian Stevenson

Ian dan Windu di farewell party Almira

Silakan tanyai kawan saya yang lain yang hadir petang itu, 100% garansi mereka semua pasti masih menggeleng-gelengkan kepala saking takjubnya menyimak performa Ian. Selain tentu saja dengan gemilang membawakan tembang-tembang Kaim—menjadi dirinya sendiri, pula Ian bersenandung layaknya troubadour flamboyan nan kharismatik. Suatu saat dia menjadi Robert Smith. Lain kalinya Thom Yorke. Lalu Rivers Cuomo. Berikutnya Eddie Vedder. Semua dilakoni dengan—I kid you not—ultra brilian. Sangat Vedder. Pseudo-Yorke. Quasi-Cuomo. Siluman Smith. Mendesah, menggeram gagah, berbisik pedih, sesekali menjerit lantang, merdu menyanyi dengan gestur tenang dus terukur. Si tuan rumah yang duduk berdekatan dengan saya tak henti-hentinya membisiki saya seraya melontarkan puja-puji wangi terhadap showmanship Ian yang tanpa cela tsb. Mario, kolega dekat saya juga—sambil jejeritan gembira karena Ian menyanyikan salah satu lagu B-side yet non radio-friendly-nya Radiohead— menambahkan bahwa Ian duhai apik ketika membawakan Morrissey di sebuah mini gig di Kuta beberapa waktu silam. Saya, yang memang punya respek menjulang kepada Ian, belum pernah menyaksikan dia sebegini sophisticated. He’s so friggin’ amazing. Totally breathtaking.

Sumpah, derajat hormat saya pada Ian jadi meningkat masif.

Mungkin saya terdengar terlalu berlebihan, but, lemme tell ya, once and time again, on Sunday nite, he was THAT great. I joke you not.

Di kesempatan berikutnya Ian sudah berjanji akan mendendangkan lagu Rialto buat saya. Can not wait, dude.

Ian in Concert

Ian Stevenson di sebuah konser—saat masih bersama Kaimsasikun

*Foto adalah milik Almira (farewell party) dan Lakota Moira (konser)


cietra said,

June 7, 2008 @ 4:25 pm

haa??sekeren itukah mas??
jadi penasaran..(maklum..diriku blm pernah denger KAIMSASIKUN)

ed-eddy said,

June 10, 2008 @ 11:43 pm

wah….kalau yang ini sih emang jagoannya,ngak perlu di ragukan deh…,eh denger denger ian ama dangkie navicula buat band baru ya….?

cietra said,

June 11, 2008 @ 8:54 pm

hhhmmmm…..iya kah??
(tambah penasaran)

Windu said,

June 18, 2008 @ 8:45 am

Dear Folks,

Suatu kehormatan buat saya bisa men-support Ian. Penampilan dia kemaren sungguh buat saya grogi.

Tahun 2001, waktu kita berdua masih di RadioPlus (Bung Aldo, masih inget saya?), Ian pernah ngajak saya gabung ke Kaimsasikun (dulu namanya masih Rubbernek, kemudian Emotunes). Tapi saya yang dahulu masih terlalu naif, lugu, dan kegirangan karena baru aja gabung dengan band Top40 yang bisa menjamin cicilan motor dan sewa kos saya, dengan sopan menolak.

Belakangan saya nyesel setengah mati. Setelah lagu-lagu mereka diputer di radio-radio, saya berharap bisa punya band dengan materi sekeren mereka.

Era debut mereka (kapan itu ya? 2003?), setiap saya ketemu Ian, kita selalu mengangankan bisa ngeband bareng. Dan wacana-wacana itu terus berlanjut setelah saya kerja di Sampoerna dan aktif di A Rock Society.

Saya pikir dia cuma berbasa-basi beramah-tamah.

Pada saat Sindikat Mawar Hitam tampil di Launching Ed Eddy & Residivis, I knew I was almost there.

And there it was. Ketika Ian menawarkan saya untuk mendampinginya di acara Almira, saya berusaha untuk nggak terlalu excited.

Ah, paling-paling batal lagi.

Dan selanjutnya, you know what happened later .

Who the hell is Rialto anyway?

igo said,

June 18, 2008 @ 6:06 pm

Saya juga penggemar berat dua musikus ini…
Salam hormat.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI


Ada Pendapat? Silahkan berkomentar. Gratis, Bebas, Bertanggung Jawab dan sesuai dengan Kebijakan Komentar Musikator Dot Com. Cheers!