
Coba sama-sama kita renungi. Di Indonesia, berapa band bagus muncul setiap bulan? 4? 5? atau 10?
Diantara band-band bagus dan berbakat tersebut, dimana posisi band kamu ? Apakah pengikut? Just another Rock Band? Atau eksistensi band kamu tidak terganggu oleh kehadiran band-band baru itu?
Tentunya setiap band yang ingin maju, berkembang dan membesar, harus tampil unik. Unik disini ngga harus 180 derajat berbeda dari yang lainnya, tetapi band kamu punya ’sesuatu’ untuk diingat orang. Dalam definisi band, tampil unik tersebut adalah bagian dari kegiatan sebuah branding (coba lihat lagi check list di Strategi Band Local go National dari Dethu).
Secara sederhana, BRAND adalah kumpulan imajinasi dan ide yang mewakili sebuah produsen secara ekonomis; dimana orang dapat mengasosiasikannya dengan simbol-simbol konkrit seperti nama, logo, slogan dan skema disain (baik image maupun musikal dsb). Sementara itu BRANDING adalah kegiatan untuk membangun imajinasi dan ide-ide tersebut.
Salah satu contoh terbaik yang ada di Indonesia menurut saya adalah Slank. Slankers (fans-nya Slank) akan beli album Slank tiap mereka rilis sesuatu yang baru. Name it: musik, video klip, dsb. Meski albumnya butut, Slankers akan tetap beli. Mengapa? Karena Slank itu ‘brand’ bukan sekedar ‘band’. Brand tersebut akan membantu orang berasosiasi. Misalnya asosiasi tersebut adalah album baru Slank = Rock and Roll, Kaka dan Bimbim yang cool, dan seterusnya.
Membuat Rock Brand cenderung lebih sulit daripada Rock Band. Untuk membuat Rock Band, kamu hanya perlu nama band, lagu sekedarnya dan panggilan manggung atau audisi.
Sementara itu untuk membuat Rock Brand, kamu harus memikirkan lebih banyak hal daripada sekedar membuat band. Contoh:
Jika band kamu adalah sekedar sebuah band, meski mendirikannya lebih mudah, hasilnya juga mudah ditebak: Kamu punya BAND. That’s it, so what?
Sementara itu, keajaiban sebuah Rock Brand sering bikin hasil yang ngga masuk akal. Contoh kecil, coba jawab pertanyaan dibawah ini:
Saya yakin, orang yang menjawab punya kaosnya lebih banyak daripada orang yang mendengar lagunya. Mengapa? Karena Fugazi adalah brand, bukan sekedar band.
Sekarang, coba lihat band kamu. Kamu punya Band atau Brand?
Foto: The Green Head.
Ya, setuju. Visual meets audio, itu paduan mediumnya. Bahkan mungkin perlu pula aroma. Seperti Baygon atau Pepsodent.
yah… mungkin gigs di bali perlu lebih di buat sesering mungkin..
nah ni kan ud deket agustusan.. gmn kl bikin
orkesan… hehehehehe…..
mas jarojarwo.. di bali ngga perlu nambah gigs karena tiap minggu juga sudah ada, di bali yg perlu tuh bukan brand dan band karena dua-duanya juga sudah komplit, yang diperlukan di bali adalah PENONTON!….
jaman sekarang orang banyak omong about music but there is no movemen.kita negara ke-3 jangan terlalu berlebihan. If you want to improve about music in our country, do it!!!
don,t just talkin bullshit, because Ubud band already done it eventhough only in Bali but becarefull we are a virus!! you got it!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
red_rhapsodee said,
July 22, 2008 @ 3:05 pmwell.. then again… visual meets audio nih..