Mencintai Badai

by on 01/07/09 at 7:46 am

Di panggung beralas kain hitam tidak tampak botol minuman atau gelas berisi air. Bahkan, beberapa meter di luar jangkauannya. Usai acara pun perempuan bergaun pink itu hanya terlihat menenggak air mineral gelas. Bukan berderet-deret botol seperti layaknya di konser pop yang sering Anda lihat. Namun seluruh suara yang terdengar tetap mendarat mulus di telinga tanpa cela. Dialah diva pop Indonesia sejati, Berlian Hutahuruk. Di samping kiri Yockie Suryo Prayogo begitu khusyuk menghajar tuts grand piano hitam mengkilat. Edi Kemput pada gitar dan Irfan Chasmala pada synthesizer sempat kabur sebentar ketika penonton menuntut lagu Badai Pasti Berlalu kembali dilantunkan. Berlian sibuk memanggil nama mereka agar kembali ke panggung.

Berlian HutaurukPenonton terus berteriak seakan kecanduan lagu yang hit pada 1977 itu. Saya salah satu yang semangat berteriak. Setelah susah payah naik ojek dari kantor, rasanya saya tidak ingin badai musikal yang indah ini berakhir cepat. Berlian sempat mengelak proposal ”We want more” dari penonton. ”More apa? More practice?” sahutnya seraya tertawa. Tak lama mereka luluh juga. Badai Pasti Berlalu kembali menggelegar di Bentara Budaya Jakarta. Lokasi mencerminkan empunya acara, tentunya sehubungan ”Ulang tahun Kompas ke 44” sekaligus peluncuran buku Cerpen Kompas Pilihan.

Deret bangku pertama terlihat wajah yang familiar namun klasik yakni Bre Redana, Jajang C Noor, N. Riantiarno, Nungki Kusumastuti, Mohammad Sobary, Ratna Riantiarno, dan sekitar 200 tamu dari keluarga besar Kompas, jurnalis, pekerja seni, dan tentunya undangan. Mereka berkumpul untuk acara ”Pop Ruwatan: Badai Pasti Berlalu”. Kata ”ruwatan” pun layaknya Kompas yang terasa Jawa. Sesuai pula dengan ”Badai Pasti Berlalu”. Ruwatan biasa digelar untuk menolak bala. Malam itu mungkin untuk menolak ”badai” terulang lagi di negara ini. Apalagi mengingat konstelasi politik mulai memanas menuju Pilpres 2009.

Apapun maknanya, kolaborasi dan interpretasi ulang tembang-tembang dari musik pengiring film “Badai Pasti Berlalu” terasa megah tanpa perlu sesak dengan orkestra. Senin (29/6) malam denting-denting piano Yockie memberi banyak ruang penonton napak tilas menaiki mesin waktu mengingat kejayaan album yang menjadi cetak biru dunia musik pop Indonesia. Album ini tergolong aneh pada masanya. Bahkan, Berlian pun merasa musik itu terlalu maju pada zamannya. Sayangnya, pada zaman maju mengapa musiknya tidak turut maju? Malah tampil serupa.

Jemari Yockie liar menari seperti memang terjadi badai pada tuts piano. Begitu Berlian buka suara, maka layaknya berlian pula dia bersinar. Saya hanya pernah mendengar suaranya lewat kaset Badai Pasti Berlalu yang mulai usang termakan usia. Ada rasa aneh menyergap ketika menyaksikan secara langsung. Absurd! Suara Berlian begitu menggetarkan dengan pengkhayatan yang mendulang atmosfer syahdu. Tanpa perlu sedu sedan dia mampu menyuguhkan emosi lagu. Tiap gerak jemari, tangan, kepala, hingga bungkuk badan menawarkan kolaborasi teatrikal dengan musik yang membahana. Pita suara Berlian prima menjangkau nada C-tinggi hingga merinding bulu roma.

Lagu Matahariku diaransemen lebih pelan. Sayang, kurang Chrisye. Tentu karena beliau sudah meninggal. Namun tembang Pelangi tidak lantas hilang. Karena badai tidak akan jelas akhirnya tanpa pelangi. Berlian membagi suara jernihnya mengganti vokal penyanyi pria yang meninggal karena sakit itu.

Berlian lantas memaparkan pemaknaannya terhadap lagu ciptaan Erros Djarot, Ketika Cinta Kehilangan Kata. Kemudian, Yockie memberi koreksi,

Erros kebanyakan nulis lagu cinta sampai cintanya sendiri kehilangan makna

Berlian pun menangkis,

Itu kan interpretasi penulisnya. Ini interpretasi penyanyinya

Bahkan, penonton pun ada yang colongan curhat tentang jodoh yang tak kunjung datang. Seakan konsultasi kehidupan cinta, Berlian pun menyambut dengan mendoakan pria tersebut mendapat jodoh yang baik. Tembang Lestari ciptaan Leo Kristi membuat  Yockie menyumbang suara. Malam itu akhirnya benar-benar usai ketika Yockie telah berdiri, Berlian memberikan lambaian, Edi Kemput melepas gitar, Irfan Chasmala melangkah pergi, dan penonton memberikan standing applause dengan meriah. Semoga badai krisis di negara ini akan segera ditutup keindahan pelangi Bhinneka Tunggal Ika, dan matahari yang cerah tanpa ancaman Global Warming.

____________________

*Tulisan ini adalah kontribusi Karlina Octaviany—panggil dia Alin—yang kedua untuk Musikator
*Foto—konon dari kamera ponsel—merupakan jepretan Alin juga. Bukan yang terbaik, memang. Tapi persetanlah. Yang penting spiritnya dapet, eh?

1 Komentar

tya

Jul 3rd, 2009

ihuy! yang pertama komen..ahahaha..
emang suara berlian bikin merinding..
bahkan denger dari video youtube pun oke pisan..
gimana live yah..??

Balas

Silahkan Berkomentar