Navicula feat. Kikan Cokelat & Serba Serbi Bazaar
by Robi Navicula on 05/12/08 at 10:39 am
Malam minggu, tanggal 22 November 2008, ada yang seru di Balai Banjar Gemeh, Denpasar. Acara bazaar untuk penggalian dana buat organisasi pemuda banjar Gemeh ini, dimeriahi dengan live musik. Sejumlah band: Dialog Dini Hari, Marmar & Friends, The Cheers diundang main, dan Navicula perform terakhir menutup acara.
Navicula feat. Kikan
Serunya, kita ngundang Kikan, vokalis band Cokelat, yang juga hadir malam itu untuk naik ke panggung, jamming bareng dengan kita…dan kesepakatan pun terjadi di panggung, kita mainin lagu-lagu lama dari The Cranberries, seperti Ode to My Family dan Zombie. Gara-gara yang diatas panggung adalah “artis beneran” (baca: Kikan), silau deh seisi panggung dengan blitz kamera pengunjung yang silih berganti membidik wajah Kikan, hehehe…
Selain Kikan, kita juga nampilin Ian eks-Kaimsasikun yang bawain lagu Pearl Jam, Alive.
Navicula
Navicula feat. Ian Stevenson
Sehabis lagu pamungkas Aku Bukan Mesin, penonton yang mulai mabuk meminta encore, nambah lagu, dan akhirnya diundang nyanyi bareng di lagu tambahan sebagai ending performance. Seru dan penuh gemerincing riuh botol bir, itulah khas di Bali, biar budaya alkohol merajalela, tetap aja nyantai dan nggak bikin onar!
Sound system yang dipake oke banget, karena Anom Darsana dari Antida Studio, sponsorin alat-alat buat kita sekaligus jadi sound-engineer malam itu. Oya… Anom sendiri adalah co-produser di album ke-6 Navicula yang lagi digarap dan akan rilis segera.
Dialog Dini Hari
Kelar acara, berbuntut free flow beer yang nggak putus-putus, sehingga pas pulang kita sempat sedikit berembug, siapa yang akan nyetir mobil, melalui pengakuan jujur tiap-tiap orang dengan mengingat-ingat jumlah botol bir yang dihabiskan!
Cheers and beers for all!
Sekilas Tentang Bazaar Muda-Mudi a la Bali
Entah kapan dimulainya adat-istiadat acara ini, yang jelas acara bazaar seperti ini merajalela hingga setiap pelosok kampung seantero jagat Bali…beneran… dari kota, desa makmur, hingga ke gunung-gunung ke daerah-daerah sulit air, listrik hidup-mati dan koloni masyarakat pra-sejahtera!
Konsepnya sama… acara pesta, jual makanan & minuman (…dan alkohol!), diadakan di Balai Banjar/Balai Desa (“banjar” itu seukuran sama dusun atau RW) setempat, atau di bangunan umum serba guna/wantilan. Harga yang dipatok lebih mahal dari harga umumnya, dengan tujuan menggali profit sebesar-besarnya, dan laba yang terkumpul nantinya dimasukkan ke dalam kas desa/organisasi, untuk hal dan kegiatan macam-macam, seperti perbaikan sarana/pra-sarana, kegiatan olahraga, upacara, uang suka-duka buat anggota, dll.
Marmar & Friends
Kegiatan ini selalu mendapat respon yang positif, baik internal di banjar itu sendiri, ataupun respon dan kunjungan dari anggota banjar/desa tetangga. Saling mengunjungi lah modelnya… si A dari banjar X mengunjungi si B dari banjar Y, dan begitu sebaliknya saat si B membuat acara serupa. Undangan sering berupa kupon yang dilabeli harga dan jenis makanan yang didapat, atau bisa juga datang langsung ke tempat acara dan beli on the spot, a la carte. Tapi, nggak pernah ada komplin meski harganya jauh lebih mahal.
Belakangan, ada fenomena unik… praktek “Bazaar Modern ala Bali-Amrik”, saat negara dunia ketiga seperti kita dibanjiri industri fast food kapitalis macam McD… kreativitas pun muncul dengan kongsi kerjasama suatu banjar dengan sang perusahaan junk food elit tersebut. Kerjasamanya berupa si banjar mengedarkan kupon berisi: Paket A: nasi+paha ayam+coke, atau: Paket B:nasi+dada ayam+nugget+french-fries+coke, dst… yang dilabeli harga di atas harga normal, dan kupon tsb bisa ditukar ke outlet McD terdekat dengan batas waktu tertentu. Simbiosis mutualisme alias sama-sama untung, kan?
Gembul, Turtle Junior & mikol
Si Banjar ngga perlu repot-repot keluar tenaga, waktu, tempat, dan modal buat menyiapkan bazaar, sementara produk si Fast Food company juga laku terjual.
Praktis sih… cuma kekerabatan sosialnya jadi hilang… karena ngga ada lagi pertemuan langsung, ngobrol, dan silaturahmi antar warga banjar.
Tapi, meski ada cara praktis tersebut, tetap aja praktik bazaar tradisional masih dilakukan, mengingat asyiknya berkumpul, barter gosip dan gelak senda gurau… mirip lagunya Slank Makan Tak Makan Asal Kumpul.
*Photos by: Lakota Moira








1 Komentar
marshall
Dec 11th, 2008
kapan2 di banjar ane bro..BR.PENGUBENGAN KANGIN KEROBOKAN atau di LPnya aja heheehh….
Balas
Silahkan Berkomentar