Dalam konteks saya sebagai “putra daerah”, sebagai orang Bali, terang saya merasa beruntung bisa datang langsung terlibat dalam acara sekolosal Jakarta Rock Parade (JRP). Suicidal Sinatra dan Discotion Pill, 2 band yang saya “luangkan waktu khusus”, kebetulan mendapatkan kesempatan tampil di acara gede tersebut—belakangan saya ketahui, kontingen berbakat dari Bali lainnya, Nymphea, ternyata diundang main juga. Word up.
Secara pribadi, saya punya ekspektasi masif terhadap JRP. Saya sudah bosan—beberapa jengkal dari muak—dengan format beberapa acara konser yang, memang gede nan megah sih, tapi bandnya itu lagi, itu lage, itu lageeee. Belum lagi pilihan artisnya yang frontal menggambarkan “selera pasar” banget. Iya, memang, acara “patuh pada kemauan pasar” tersebut hampir selalu sukses, sanggup mendatangkan banyak orang, cuman ya gitu, jangan terus-terusan pilih penampil yang “full-selingkuh” melulu dong. Bagi musik Indonesia kebiasaan “main aman” kayak gini pelan tapi pasti akan menciptakan Indonesia nan homogen, penyeragaman selera secara masif, miskin identitas, kurang sehat, kembali ke Orde Baru. Saya makanya susah percaya dengan ujaran klasik “50,000 screaming-fans can’t be wrong”. Sang pencipta frase tersebut mungkin belum pernah mampir ke Indonesia dan pergi menonton pertunjukan musik paling akbar di negeri ini. Coba juga iseng tanya Indonesianis macam Jeffrey Winters, dia bisa jadi akan menambahkan, “50,000 people can’t be wrong? …Well, you’ve never been to Indonesia, fella…” lalu menyebutkan ratusan juta penduduk Nusantara yang hingga puluhan tahun ditindas oleh 2 diktator berbeda. 50,000 people can’t be wrong? Think again.
Sampai dimana tadi, iya, saya sebenarnya memiliki harapan ultra besar kepada JRP. Sebab Indonesia amat butuh alternatif. Skena musik Indonesia butuh bebas dari uniformitas. Publik muda Indonesia perlu acara macam Woodstock, Lollapalooza, Ozzfest, Vans Warped Tour, Hard Rock Hell, dsb, yang cukup cutting-edge, relatif lepas dari tekanan kapital besar, tak terlalu tergantung pada so-called “selera pasar”—malah sebaliknya, mendidik pasar, membangun “niche” baru.
Di banyak aspek JRP memenuhi spesifikasi tersebut:
1. Berani Berbeda
Perhatikan saja barisan artisnya, dari 100+ penampil, yang bisa dikategorikan gigantik dan ramah-televisi palingan Nidji, Naif, dan The Changcuters. Selebihnya, itu para “50,000 screaming-fans can’t be wrong” saat ditanya kenal apa tidak dengan band-band JRP lainnya, 100% garansi akan kompak menjawab: “Wallahuallam bisawab!”. Artinya manuver JRP ini adalah sebuah langkah bagus & berani, i.e. menolak penyeragaman.
2. Edukatif
Simak sisipan band lawasnya serta varian formasi reuninya. Dari kalangan veteran direncanakan untuk hadir antara lain Sharkmove, Gipsy & Gank Pegangsaan, Noor Bersaudara; generasi berikutnya ada El Pamas, Powerslaves, Voodoo, Roxx, hingga kontingen huh-say-that-again?, tenar-di-ibukota-saja-tapi-pengaruhnya-vital-dus-cakupannya-regional macam Rumah Sakit. Pula reuni Pas Band, Netral, dan sebagainya. Ini inisiatif adiluhung plus sungguh signifikan bagi kemaslahatan musik Indonesia. Dari sinilah generasi berikutnya bisa belajar mengenai sejarah perjalanan musik (Rock) Indonesia. Wih, asli tak gampang untuk mengumpulkan muka-muka lama. Saya yakin, sumpah bukan perkara mudah untuk membujuk, katakanlah, Richard Mutter, berbagi panggung lagi dengan sejawat seperjuangannya jaman dulu. Artinya, JRP secara tidak langsung adalah juga ajang pendidikan, crucial crash-course. Kepingan-kepingan penting yang membentuk musik Indonesia dikumpulkan jadi satu, publik bisa “pelajari”, “kursus kilat” cuma 3 hari. Dude, perlu bergalon Viagra untuk kerjaan sekolosal itu.
3. Aku Cinta Indonesia
Dengan menghadirkan sosok seperti Andy Tielman yang—bersama kelompoknya Tielman Brothers—merupakan band Indonesia pertama yang mampu go-international (dalam arti sebenarnya, sebab, ahem, tampil di depan TKI belumlah layak disebut go-international) pula partisipasi Young & Restless, kuintet dengan mastermind dua bersaudara asal Indonesia, Karina & Nugie Utomo, yang bermukim di Australia serta keberadaannya lumayan mahsyur utamanya di Canberra; diajaksertanya sosok-sosok tadi seyogyanya bisa membuka mata orang lokal lalu menumbuhkan kepercayaan diri kolektif bahwa Indonesia juga bisa. Setuju, kita mampu kalau kita mau. Jika memang cinta Indonesia, cukup sudah berteori dan sok menjadi pengamat. Lakukan tindakan nyata. Segera dorong perubahan. JRP (maunya) membuktikan itu: mendorong perubahan sekaligus menumbuhkembangkan nasionalisme via musik.
Jakarta Rock Parade - bersama sejawat, Superglad ada di latar belakang
Sayangnya segala elemen ideal tersebut berujung kontraproduktif, berakhir jadi fantasi semata. Duhai paceklik penonton—bahkan, ketika klimaks, kurang dari 10% kapasitas venue (Suicidal Sinatra hanya dipelototi oleh tak lebih dari 30 orang—sudah termasuk crew. Discotion Pill sedikit lebih beruntung, penikmatnya agak lebih banyak). Belum lagi, dari sisi internal, kepanitiaannya kacau balau. Selain saya mendapat bocoran dari orang dalam sendiri tentang riuh friksi horizontal, juga tampak lewat pengorganisasian jalannya acara. Band ini belum dibayar, artis itu baru dibayar setengah, liason officer yang menjalankan tugasnya dengan setengah hati. Pendeknya, mega-berantakan.
Sejak tiba di venue yang maha luas di Senayan, spirit saya spontan anjlok ke titik terendah saat disuguhi lanskap, orang Bali bilang, sepi dingkling. Padahal setting-an venuenya sudah keren. 4 panggung megah, soundsystem gahar, booth dengan pilihan makanan beragam (eh, tapi kok gak jual bir seeeh?), pokoknya, infrastukturnya relatif memuaskanlah. Namun, ya percuma saja jika sepi pengunjung. Semangat semua pihak instan ambrol. Atmosfer lunglai, patah arang, lemah syahwat, telah mencemari udara sejak senja hari pertama itu. Pergantian dari satu band ke band lain, dari satu panggung ke panggung lain, berjalan datar-datar saja. Saya yang notabene masif minat menonton band yang reguler ditulis di majalah Gadis saat Bens Leo masih berkarir di situ, Acid Speed, Rolling Stones-nya Indonesia; terlanjur disfungsi ereksi terhadap JRP. Gairah Rock sudah hampir sirna. Atraksi Acid Speed di depan mata sekali pun tak sanggup mengacengkan lagi penis Rock ‘N’ Roll saya (pardon me, Mr. Rico Jagger, we’ll catch up next time—if I’m lucky enough). Hanya 4 pertunjukan di penghujung saja, The Upstairs, Pas Band, KOIL, dan terutama Shaggydog; yang agak sanggup menghidupkan nyala api Rock di JRP hari pertama. JRP hari ke-2 saya, well, ke Senayan sih tapi, um, batal datang ke JRP lalu memutuskan membelokkan kendaraan ke Jakarta Un-Rock Parade a.k.a. diskotek X2 di Plaza Senayan. JRP hari ke-3? Another Jakarta Un-Rock Parade: nonton orang main “prosotan setan” di Mal FX, masih di bilangan Senayan. Sorry, I had lost my appetite, could not help it.
Jakarta Un-Rock Parade - berpelesir ke X2
Menurut saya, faktor terbesar dari kegagalan JRP adalah harga tiket yang terlalu tinggi. Bandingkan saja dengan, katakanlah, Soundrenaline. Lepas dari masalah selera, simak deretan bintang-bintang yang ditampilkan. Slank, Padi, Dewa19, Sheila On 7, Peterpan, Samson, dkk. Dengan pilihan band-band seperti itu, tanpa perlu otak sekelas Einstein di atas kertas band-band tersebut akan mendatangkan massa berjumlah besar. Pasti acaranya jadi ramai, penuh penonton. Tapi apa iya, jika harga karcis dinaikin jadi Rp 200 ribu, akan tetap bisa menciptakan tumpah ruah manusia? Belum tentu kan? Biar kata dia Slankers, Sobat Padi, atau Baladewa nan militan, menghabiskan uang sejumlah Rp 200 ribu ya musti menyesuaikan dengan Upah Minimum Regional pribadi, atau membujuk ortu dengan histeris, atau berantem gede-gedean dulu dengan bini. Di negeri miskin-kacrut bernama Indonesia, Rp 200 ribu itu nilainya hampir setengah bulan gaji. Pilih kasih makan anak istri atau berdendang mengikuti Ariel Peterpan? Kecuali anda penganut Habibienomics (baca: skala prioritas di luar logika), maka dengan mudah anda menjatuhkan pilihan, tahu mana yang harus didahulukan. Dengan sorot perspektif sesederhana dan sebegitu banal, maka gampang diprediksi ketika JRP menetapkan harga tanda masuk semenjulang itu, Rp 200 ribu, maka JRP niscaya akan melarat di kuantitas penonton. Saya berani menyimpulkan demikian sebab, dalam skala kecil, saya juga lumayan reguler menyelenggarakan pertunjukan musik, utamanya Rock (meaning: tough, difficult, very small money, vertigo-guaranteed). Saya selalu lebih memilih menawarkan harga tanda masuk semurah mungkin, sebab saya amat sadar bahwa komunitas Rock ini sangat price-sensitive. Jika ternyata dari hasil kalkulasi dan negosiasi ternyata pertunjukan yang hendak saya buat, misalnya harga tanda masuk menurut saya over price maka saya lebih memilih untuk membatalkan niat bikin acara. Daripada acara saya sepi dingkling, mending nonton aja sambil beer-drinking. Dan itu pun dari sebegitu rutin bikin acara—dengan format berpikir murah-meriah tadi—tak juga menjadi jaminan bahwa pertunjukan yang saya bikin akan berujung sukses, selalu banjir pengunjung, apalagi untung. Trus, bagaimana dengan konser seperti My Chemical Romance, kan harga tiketnya anjing banget tuh, sampe setengah juta lebih, kok tetep rame aja? Itu jenis penontonnya sedikit berbeda (dan tak mengenal Suckerhead atau Fable, pastinya), DAN konsepnya mengikuti selera pasar. Hanya saja levelnya di high-end. Dipahami?
Oh well, walau bisa disebut gagal, saya pribadi masih berharap akan diadakan lagi Jakarta Rock Parade seri 2. Sebab konsepnya sudah amat bagus: pelesir campur pendidikan, simultan berjalan berbarengan. That’s totally awesome.
Terakhir, semoga sudut pandang ini bisa jadi salah satu bahan pertimbangan seandainya ada yang nekat menyelenggarakan Jakarta Rock Parade seri 2 atau pertunjukan “berbahaya” sejenis. Jangan dulu putus asa, maju terus musik Indonesia!
Senang sekali baca report Jakarta Rock Parade dari Dethu,gw sebagai putra daerah sebenernya pengin banget nonton ke Jakarta,tapi berhubung jarak yang dipisahkan lautan…apa daya baca report dah senang..terlepas dari kekurangan seperti yang Dethu ceritakan,acara JRP sangat beda banget macam Soundrenalin (nama acara doang yg cadas,tp line upnya menyedihkan).Smoga acara JRP ada kelanjutannya,sapa tau gw bisa nonton ke Jakarta…he he he..berharap sekali.
Ulasannya sangat transparan, menyentil & menggugah…
Anyhow, Konsep JRP sendiri memang patut diacungi jempol.
Optimis itu penting, tapi terlalu optimis juga bisa bikin terbanting…
Masih terngiang di telinga saat beberapa hari sebelum Hari-H, salah seorang Panita sempat menjawab pertanyaan tentang tingginya HTM. He said,
“…Tiket sebesar 200 ribu itu juga untuk mensortir penonton, supaya biang2 rusuh pentas musik rock ngga pada bisa masuk…”
What your response about that f*ckin silly answer??
a. Orang Miskin Dilarang Nonton?
b. Orang Miskin = Biang Rusuh?
c. 3000 personel Keamanan tidak sanggup menangani jika terjadi rusuh?
d. Penonton akan amatsangatmembludakbangetsekalipisan sehingga perlu disortir?
*Pick your respons above*
Faktanya, Hari ke-3 HTM turun menjadi Rp.50.000,-, dan biang rusuh pentas musik rock yang disortir-pun tak kunjung datang…
setelah mendengar beribu2 komentar yg menghujat jakarta rock parade…akhirnya boz gw ini memberikan komentar yg menyejukan bgt..sangat bijak menurt sya pribadi … sebtulnya sya salut banget sama ni acra…yg brani nampilin banyak band bgt termasuk 3 band bali(discotionpill,nymphea n sucidal sinatra).(walupaun sayA tak jadi ikut kejakrta untuk mendampingi discotion pill, karna harga tiket pesawat yg menjulang tinggi,yang akhirnya jatah saya,saya berikan pada head crew DP.)
N SAAT DISCOTION PILL balik dr jakarta..saya langsung ngbrol ma dizta(voc.DP).katanya acranya sebenarny bagus bgt..dr sound n panggung yg megah bgt…hal yg sama jg di ucapkan oleh kape sinatra n ozom rocket rockers yg kebtulan berlibur ke bali lg..
tp kata mereka yg salah cuma 1 aja…HARGA TIKET YG MAHAL BUUUUUUUANGET….yg membuat tak ada penonton…
tp pribadi saya salute bgt bt JRP yg berani bt acra segede ini tanpa sponsor tunggal…gile dah….hehe
saya ingat kata2 orang bijak yag bilang :
KEGAGALAN ADALAH AWAL DARI KEBERHASILAN…
MUDAHAN AJA AKAN ADA JRP KE 2 yg jauh lebih teroganisir.N LEBIH BANYAK LAGI BAND BALI YANG DI UNDANG…
SEPERTI KATA BOZ dethu..NEVER SAY DIE JRP…
CHEERS…
Kalo mau bersaran/ kritik seharusnya berpikir dasar dahulu……
karena musik indonesia gak akan pernah berkembang kalo salah satu faktor yang mempengaruhi itu kandas. banyak faktor yang mendukung hal itu. jakarta Rock parade emang event yang keren, penuh talenta, no komersial n true skill.
tapi yang saya sesalkan secara umum (di indonesia) sekarang adalah banyaknya para komentator musik yang cenderung ikuit komersial. dalam artian mereka hanya bisa ngomong doang. sepenglihatan saya, banyak orang mengidolakan musik rock. juga beranggapan musik rock adlah musik cadas, musik lelaki, musik kaum pemberani. tapi saat mereka berada di lapangan. musik rock diinjak-injak dengan pengkhianatan2 nyata. industri musik anti dengan musik rock, karena mereka lebih memilih uang. para fans akan memilih musik easy listening daripada rock saat ada acara musik yagn bersamaan, tapi saat mereka disodori pertanyaan, mereka lantang menjawab dengan jawabana “saya rocker”. saya muak dengan hal ini. alternatif pemecahan sangat bagus sekali seperti Jkrta musik parade, industri musik yang non komersial (salut dengan Log zhelebour),,, coba kita pikir dulu siapa kita sebelum berkomentar.
JANGAN PERNAH BERKOMENTAR TENTANG ROCK JIKA KALIAN BUKAN ROCKER…..
hhhmmmm…sebenernya pas tau ada JRP q dah tertarik bgt mau nonton..tapi dg kalkulasi haraga tiket 3 hari yg sebesar 600rebu q jadi ogah dee,n then sebenrnya bukan ga da yang minat buat ke JRP,temen2 kampus juga banyak bgt yang pengen ksna,cuma ya itu tadee…duitna ga daa..
nice concept se sbnrx,
q ma perner q berharap kedepan bisa ada acara yg konsepnya kayak gini cm dg harga yang sesuai dg kantong nak kuliah(secara penikmat musik2 non komersil di dunia anak2 kuliah tuh buanyak bgt)
soo…buat selanjutnya SEMANGADHH
A’a Death….
Sudut pandang anda sudah benar.
Ini yang nggak benar :
SS & DP pulang tetep aman.
Nymphea? “Jalan kaki….”
Hikks…. hukss……
Gue ditelepon panitia, agar Nymphea datang ke venue dan berjanji akan diselesaikan pembayaran. Hasilnya?
Mbelgedhesss mblekothok jrootttt…..
Astaga… Pantesan milis sepi. Ternyata pada disini.
Yyyuuuukkk Marriiii………
ikutan ngobrol dong…
mungkin bener kata om Eet Syahrani, bahwa di Indonesia musik rock sulit untuk menyaingi pop.
Tapi gw sendiri salut bgt ama nih promotor “Gila” yang mungkin pengen menyamakan kasta Rock ama Pop ato Jazz di Indonesia.
Cuma sekali lagi apresiasi penikmat musik rock yang sangat jauh dari penikmat musik pop atau penikmat Musik “ROCK Luar Negeri”. Setau gw, Jak Jazz atau Java Jazz matok harga 350rb/day (blum tmasuk special performance) itu aja udah bejibun yang datang. atau untuk nonton Duran2, MCR, MUSE, etc yang minimum harus bawa 300-500rb tetep ngejublek penonton nya. Gw sendiri agak sedih melihat bangsa nya yang lebih seneng menghabiskan duit setengah jutaan buat nonton band luar favoritnya daripada untuk mensupport karya anak bangsa “yang sekali lg gw salut” untuk ngeluarin uang 200rb untuk band-band yg 95% lokal yang tampil di acara ini.
Terima Kasih untuk panitia yang udah ngasih saran Musik Rock dengan Stage Megah, Sound Gokil, Lighting Luar bIasa
Gw akan tetep support para pemilik ide acara ini dan eksekutor JRP 2 tahun depan (mudah2an ada lagi).
Sekarang JRP 1 udah jadi sejarah (History) dengan segala kekurangannya..
Segitu aja uneg2 gw.. mudah2an panitia nya ga kapok dan terus mau Gila buat ngadain JRP-JRP berikutnya..
ato kita ajak aja para Sponsor untuk bantuin penikmat dan Musisi Rock agar JRP 2 tetep hadir di Industri Event Rock Indonesia…
Amiiinnn…
ya semoga aja dibali ada BRP tapi yang pasti dengan tiket yang murah.
Wow keren banget reviewnya, sangat mendalam !
Menurutku sih ayang sekali akhirnya Jakarta Rock parade menjadi event yang sepi penonton, diikuti juga dengan gelombang pembatalan artis. Mahalnya harga tiket masuk juga menjadi permasalahan dalam event ini. Padahal event ini cukup diharapkan, jika dilihat dari lineup yang diberikan. Cek review JRP nya kita juga ya bro. Salam.
waah… itu potokyuu…
Jaket merah yg nempel di pager itu… hihihihihi
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
Robin Malau said,
July 18, 2008 @ 3:09 pmOh i love this dude.
Sejak awal denger namanya aja gue udah excited banget sama acara ini. Sayang, mungkin karena kurang pengalaman dan sejuta penyebab teknis lainnya hasilnya jadi di bawah ekspektasi jika tidak bisa dibilang buruk.
Tapi kalo ngga ada yang mulai, band di Indonesia, bahkan band yang merasa ‘keren’ pun ‘merasa keren’ jika manggung di ehem… semodel Soundrenalin. Puihhh…, apa kerennya Soundrenalin? Ya itu kerennya, karena ngga ada pilihan mereka jadi keren. Gue berharap banget Jakarta Rock Parade bisa jadi pilihan. Sayangnya…
But all in all, mudah-mudahan ada panitia dan organisasi yang bisa jadi penerus ide ini, yang bisa bikin acara sejenis dan bikin alternatif-alternatif tontonan musik di Indonesia. Dimulai dari acara kecil-kecil dulu juga ga papa… Yang penting ada terus, konsisten dan eksis!
Secara pribadi, gue setuju banget. Never Say Die MF!!