Kata “gratisan” bagi saya adalah laknat dan tidak glam. Sebuah ujaran duhai ofensif bagi The Beautiful People. Jadi lebih baik kita hindari membahas hal tersebut—walau sejujurnya harus diakui bahwa agresivitas membagikan album secara cuma-cuma adalah ultra radikal untuk skena musik Nusantara. Sensasi jitu, bikin publik haru-biru kelojotan kaget. Tapi, hey, jangan buru-buru memberondongkan puja-puji wangi seraya menyebut manuver KOIL cerdas lah, tepatguna lah, Hermawan Kartajaya-esque lah. Karena—ok, be my guest, let’s bitch about this, sucka—kalau dibilang gratis juga tidak sepenuhnya benar: Anda kudu rela menyisihkan beberapa lembar sepuluh ribuan, harus membeli majalah Rolling Stone dulu, sebelum bisa memiliki album ini.

Tepat guna? Ah, Anda tahu kan lapisan masyarakat mana yang akrab dengan Rolling Stone? Jelas, kalangan bukan “rawan pangan” yang tidak terlalu terpengaruh dengan tetek bengek pra-sejahtera bertitel “gratisan”. Plus mereka jugalah tipe orang yang sejak dulu/dari sononya/selalu bertangan terbuka menyodorkan sokongan kolosal terhadap KOIL pada khususnya, serta musik Indonesia “rasa baru” pada umumnya.
Pun ketika lagu-lagunya dipersilakan untuk riang ria bebas-bea diunduh di jagat maya. Well, kalangan tajir Jack Daniels-friendly rata-rata terfasilitasi dengan kualitas koneksi internet faster-than-thou. Mentransfer Depeche Mode-cum-Industrial “Semoga Kau Sembuh part 2” sepanjang 7:39 ke i-Pod cuma butuh kurang dari 5 menit. Bagaimana dengan fakir miskin dan anak-anak terlantar? Yang pertama si ekonomi morat-marit akan terhambat oleh pengumuman yang jamak terpampang di tembok warnet: “Mohon Tidak Melakukan Aktivitas Download Pada Jam-Jam Sibuk”. Artinya obsesi menghiasi perangkat MP3 murahan miliknya dengan tembang so-White Zombie-it-hurts, “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi”, musti menunggu lewat tengah malam, saat bukan hari sekolah, dengan kecepatan (kelambatan?) yang duh gusti sungguh dusta pada asas “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Belum lagi kendala dana yang cekak. Pake acara ngimpi ngoleksi seisi “The Blacklight Shines On”… Mat Solar, ente butuh satu kwartal dus rahmat Tuhan Yang Maha Esa!
Memang, strategi bonus “buy 1 get 1” (not at all “gratisan”, jerk) ini tidak berarti “menggarami air laut”, bukan sebuah langkah percuma. Tentu tetap efektif akibat penetrasi masif ke segala strata serta penyebaran yang begitu menggurita. Tapi—paling tidak di kacamata saya—tidaklah seefektif, selancar-jaya yang banyak orang prediksikan. Sebab perkara krusial di sini bukan gratisan. Yang maha penting di sini adalah KOIL. Baik eksistensinya maupun karya seninya. Yang lain cuma gimmick tidak (begitu) penting. Benar, daya gegarnya adalah K.O.I.L., entitas itu sendiri.
Mungkin iya, KOIL bukanlah pencetus gaya busana Gothic sedemikian rupa. Tapi konsistensinya serta taste-nya memang adiluhung. Banyak band lokal mencontek arah dandan Koil (dan, horeee…, seluruhnya gagal). Bahkan yang menggelikan, seolah beredar anggapan, untuk mendongkrak citra Rock/Metal/Gahar terhadap sebuah band, itu para fashion stylist nan metroseksual bak berlomba mendandani band tsb agar mirip KOIL. Rock = (dandanan a la) KOIL. Weird. Tidak percaya? Buka lebar mata Anda lalu lihat sekitar. Atau, paling gampang, perhatikan band pelajar peserta festival Rock: KOIL Bangeettss banyak bangeettss.
Pula didukung oleh attitude personel KOIL yang tersimak nihilistik, muram, ditunjang dengan lirik cerdas-lugas-sinis. Fuck-you attitude at its best.
Jika bicara musik, penetapan pilihan pada Industrial secara jiwa dan raga (walk like it, talk like it, smell like it) juga sangat tepat. Tercatat sangat sedikit band yang bergelut di jalur ini. Niscaya KOIL bisa lebih bebas melenggang menuju bintang. Makin fenomenal ketika eksekusi KOIL pada Industrial diselesaikan dengan baik-benar-bijak bestari (smoke like it, drink like it, fuck like it).
Not to mention the hard-working KOIL Killer management, the super effective Department of Public Relation. Keberadaan institusi ini punya peran signifikan terutama dengan kelincahannya menjalin hubungan vertikal & horizontal.
Nah, bagi saya, kombinasi sadar busana + attitude + totalitas x departemen humas yang kuat, sinergi tersebut sudah cukup untuk mengukuhkan eksistensi KOIL agar menjulang. Sudah cukup buat saya untuk memberikan respek gigantik kepada KOIL. I kid you not, sampai reinkarnasi ke berikutnya pun saya pikir saya tidak akan pernah bisa fair dalam menilai KOIL. Persis seperti penghormatan yang saya berikan kepada Leonard Cohen & Lloyd Cole. Leonard & Lloyd can do no wrong. KOIL, as well, are always right. Persetan gratisan.
RUDOLF DETHU
SUICIDE GLAM ~ Maximum Rock ‘N Roll Couture
www.suicideglam.net
Koil emang mak nyossS…
hmmm… emosi mas rudolf dethu kenapa sangat menggebu-gebu ya dalam membahas KOIL?
bukan karena dendam pribadi kan?
hehehehhe….
Ya tapi sah-sah saja sih membahas sesuatu secara subjektif atau objektif.
Namun terlepas dari kontradiksi K.O.I.L minded atau bukan, band Indonesia memang seharusnya disokong oleh manajemen yang mumpuni.
Bukankah anda salah satu yang termasuk mumpuni itu?
heheheh…
Semangat!
He he.. terima kasih atas tanggapan anda, rusakparah. Namun sepertinya anda kurang tepat menginterpretasikan tulisan saya. Jika anda lebih seksama membacanya, justru tulisan saya bernafaskan kecintaan yang terlalu berlebihan terhadap KOIL. Yang saya kurang sukai adalah langkah “gratisan”. Selain tidak glam (hiks), manuver bagi-bagi album secara cuma-cuma siapa bilang akan selalu mendapat respons penuh semangat? Ah, belum tentu. Coba saja band plagiator macam Angkasa, atau kolektif kelas kambing macam Radja atau Kangen Band bagi-bagi album gratisan, apa anda yakin akan jadi rebutan? Gak juga kan? Palingan yang histeris kegirangan adalah segmen mereka doang. Penggila cutting edge, aktivis musik alternatif pasti tak peduli, tak akan membuang waktu berharga mereka untuk mendapatkannya.
Dendam pribadi dengan KOIL? Beberapa minggu silam saya berpelesir dengan mereka ke negeri jiran menonton Motley Crue (tunggu artikelnya). Would you consider that as “dendam pribadi”? Dude, there’s a fine line between “personal” and “professional”.
Bersulang, sejawat rusakparah!
Saya punya 3, satu dari Rolling Stones, satu dari Mosh magz dan satu lagi saya unduh dari internet. Album yang ajaib.
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
yudhikovich said,
April 15, 2008 @ 6:14 pmselamatkan musik ROCK indonesia dari serangan band-band “cengeng”