Denpasar, 27 April 2008, pukul 09.18 Wita, bis 25 kursi sudah berangkat membawa aku dan pasukan band KANAN LIMA bergegas menembus jalanan jantung kota Denpasar yang selalu sepi di Minggu pagi untuk menjemput kontingen band A/B dari Kupang dan Sayap dari Mataram. Band-band tersebut lolos dari audisi A Mild Live Wanted 2008 seleksi regional Bali-Nusra – digelar tadi malam di pelataran Ramayana Mal Bali Denpasar - sebagai tiga besar yang bersiap menampilkan aksi maksimum malam ini di kota Singaraja, tempat dimana team juri Rising Stars 2008 akan memilih satu band terbaik yang berhak mengantongi uang tunai 10 juta Rupiah sekaligus mewakili Bali-Nusra untuk bersaing dengan 9 wakil regional lainnya pada gelaran Grand Final di Jakarta 10 Mei mendatang. Sebagai info tambahan, regional Bali merupakan bukaan baru. [baca: tahun sebelumnya Bali & Nusra masih berada di bawah regional Jawa Timur]. Perlu diingatkan juga, bahwa 1 band terbaik di grand final bakalan dijejali dengan duit 50 juta cash, sebuah mobil bertuliskan nama band, kontrak rekaman satu album dengan Musica Studio’s dan masa promosi bersama A Mild Live selama setahun tiga bulan. Sedangkan 9 band lainnya akan dibuatkan sebuah album kompilasi.
12.30 Wita. Kembali ke bis kecil yang terengah-engah melintasi perbukitan cengkeh Bedugul nan curam, terjal dan berliku berusaha mencapai kota Singaraja di ujung Utara pulau Bali. Seluruh anggota band, manager dan awak panggung terkapar di kursi masing-masing yang agak sempit setelah perut diisi penuh dengan makan siang nikmat di daerah lembah Baturiti yang sejuk indah 20 menit yang lalu.
Arlojiku menunjukkan 14.25. Mata dan kepala pusing tak terhingga. Dan ternyata bis ini sudah memasuki pusat kota masih banyak menyisakan arsitektur bangunan lama. Mengingatkan aku bahwa kota ini adalah ibukota Bali ketika jaman penjajahan Belanda dahulu kala. Menepi sebentar menanyakan alamat hotel tempat kita menginap, dan sekejap kemudian bis sudah menepi lagi untuk menurunkan semua penumpang dan barang. Sebagian beristirahat sedangkan sebagian lagi memilih untuk berlatih di studio musik terdekat.
Kalau sudah begini, waktu terasa terlalu singkat untuk sekedar meluruskan kaki dan punggung. Aku harus segera mengingatkan semua pasukan untuk segera menuju venue. Karena sms yang aku terima dari panitia, tegas menyatakan bahwa semua band harus sudah stand-by di belakang panggung selambatnya jam 5 sore.
Mengingkari rundown, acara baru dibuka selepas jeda magrib dengan penampilan KATHY & THE GALATIANS [bukan THE MARVEL dan band-band lokal seperti apa yang dipublikasikan secara besar-besaran sebelumnya]. Dan jujur saja, performa Kathy dan teman-temannya sangat mengecewakan. Maaf.
Finalis pertama: A/B dari kota Kupang tampil kemudian untuk mengawali ajang audisi penuh gengsi ini. Setelah membawakan lagu original Lupakanlah Aku, mereka berkesempatan membawakan Hanya Dirimu [Andra & The Backbone]. Berkolaborasi dengan Stevie sang gitarisnya bikin suasana jadi seru, tapi sayang vokalis A/B – mungkin karena grogi - lupa beberapa liriknya. Dan itu fatal di mata team juri. Berikutnya ANDRA & THE BACKBONE tampil lengkap , keren dan sempurna membawakan Muak, Lagi & lagi, Main Hati, Sempurna, Terdalam, dan diakhiri dengan Musnah.
Begitu juga dengan finalis kedua: SAYAP asal Mataram. Main bareng Thomas-nya Gigi di lagu Janji setelah sebelumnya membawakan lagu sendiri Tentang Cinta. Sebuah catatan: lagu dari Gigi yang diinfo ke para peserta adalah Terbang. Dan mendadak diganti dengan Janji, pada saat pelaksanaan seleksi regional. Berarti hanya sehari saja kesempatan buat band berlatih lagu tersebut. Tapi Sayap tetap tampil cukup memukau dengan karakter vokalnya yang khas. Sekejap kemudian, penonton sudah terbuai terpana. Siapa lagi kalau bukan GIGI penyebabnya. Apa perlu dijelaskan lagi?
Next, gilirannya Kanan Lima. Berbekal posisi runner-up di seleksi tingkat kota dan berhasil tembus ke panggung Rising Stars sebagai tiga besar, tentu memicu semangat mereka. Terbukti dengan Buruan Nembak Dia dan Bila Aku Jatuh Cinta [kolaborasi dengan bassist Nidji] yang berhasil dibawakan dengan sempurna plus penguasaan panggung yang luar biasa, kontan membuat seluruh penonton – yang pastinya mendukung satu-satunya wakil tuan rumah ini – meneriakkan nama band ini ketika team juri [Indra K Thamrin/Chief Editor Majalah Rolling Stones, Anton Wahyudi/Music Director Radio Prambors Jakarta, Anasthasia/Musica Studio's, dan Harry 'Koko' Santoso/Deteksi Production dan Krisna J Sadrach selaku ketua tema juri nasional], menaiki panggung untuk mengumumkan pemenang yang berhak melenggang ke grand final. Dan benar saja, Kanan Lima sukses meraihnya. Segenap lelah lenyap seketika, sekalipun mereka harus mengikuti jadwal photo session, press conference, dst malam itu juga. Ditambah lagi harus bertolak kembali ke Denpasar jam 3 pagi buta untuk memburu jadwal brief dan penandatanganan kontrak rekaman [1 lagu] jam 8 pagi keesokan harinya di bilangan Seminyak, Bali.
Selamat dan salut buat gelaran spektakuler ini. Karena benar-benar membuat semua band berbakat diseluruh penjuru nusantara memiliki kesempatan serta peluang yang sama untuk bisa maju di tingkat nasional. Kembali ke dalam tenda pers di belakang panggung, suasana selebrasi masih riuh, meninggalkan hingar-bingar NIDJI dan ribuan penonton yang sedang bergembira bersama tinggal sayup-sayup saja. Maaf, aku tak banyak tau suasana panggung di depan sana, karena aku juga sedang ikut terbawa euphoria bersama pasukan Kanan Lima.
… ini memang ironis banget. Lebih ironis lagi: olah raga disponsori rokok.
Tadi malam [10/05/08] 10 band Finalis bertanding mewakili regional masing2 di Grand Final WANTED 2008. Acara digelar di Backstage Pantai Karnaval, Ancol. Juaranya akan diumumkan pada acara malam penutupan Rising Stars di JICC, nanti malam [11/05/08].
Pengumuman Pemenang WANTED 2008
Plennary Hall, JCC, Senayan
Minggu, 11 Mei 2008
Juara 1 : MAGNETO [Regional Indonesia Timur Wanted 2008] Juara 2 : BUTTERFLY [Jateng]
Juara 3 : BLAST [Jatim]
Juara Favorit : KANAN LIMA [Regional Bali Nusra]
Selamat buat para pemenang.
sebuah event music yang tergolong GRAND yang akan menelorkan band-band baru dengan music yang total entertainment dimana spirit dan support terhadap music telah dilakukan secara total disini, sangat membanggakan sekali berada di sana melihat semangat band-band baru itu serta didukung pula oleh band papan atas yang turut mensupport spirit mereka, tetapi hal naif yang terjadi adalah kenapa music-music yang baru muncul tersebut masih mengekor kepada ritme atau karakter ‘melo’ yang seperti melakukan pengulangan terhadap karakter yang sudah ada sehingga terkesan seperti Peterpan wanna be…apakah dari para peserta band tersebut tidak ada karakter music seperti : Ed Eddy n residivis(bali), steven n coconuts tree(jkt), endang soekamti dan shaggy dog (jogja)atau se extreme musicnya Bondan Prakoso, yang mana akan lebih menambah warna music yang ada…patut di cermati brother!!! justru mereka kurang laku di pasaran, kenapa!! karena otak kita telah terbiasa dengan hal hal manja sehingga pola pikir kita menjadi melo!! jawabannya sok idealis!! kemarahan dan kekecewaan yang di curahkan ke music sulit diterima masyarakat, kenapa!!! jawabannya adalah Basic!!! kita terlalu lama dicekokin oleh hal-hal yang melemahkan!! sehingga hal baru yang justru membangun dianggap terlalu ribet!!! my good!! apa yang terjadi pada masyarakat bangsaku!!! saya yakin para musisi-musisi baru itu mampu membuat perbedaan pada pola music dan karakter mereka untuk membuat yang lebih garang!! tetapi mereka tau konsekuensinya, apabila hali itu dilakukan maka mereka tidak akan menang dalam kompetisi karena syarat utama agar bisa menang adalah music yang di usung harus MENJUAL!!! sehingga keinginan dan upaya untuk menyalurkan bakat mereka bisa terbiayai yang berarti bisa dipakai untuk hidup.. itulah yang terjadi, industri juga ingin untung kan?? jadi tidak ada yang benar dan salah… karena kebudayaan dan kebiasaan dalam menerima music tidak bisa berubah dalam hitungan detik, menit, hari, mingguan, bulanan bahkan tahunan!!! dan yang penting industri musti tetep jalan agar mereka bisa tetap berkarya… jaya music indonesia (eko indra- praktisi photography prifesional-awam dalam dan merasakan music hanya dari otak sebelah kanan)
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
47isdead said,
May 10, 2008 @ 5:06 amprogram yang bagus, sayangnya kenapa yang mau invest di musik anak muda cuma perusahaan rokok…
padahal bisa dikatakan bahwa semakin banyak generasi muda yang merokok, semakin hancur pula masa depan generasi muda indonesia
jadi musisi anak muda jaman sekarang(yang ikut konser rokok) secara tidak sadar telah mencerahkan masa depan perusahaan rokok… (sama orang pajak yang korupsi pajak rokok hehehe)