Selamat Tinggal Digital Aggregator

bye

Per hari ini, tanggal 1 Maret 2016, layanan distribusi digital kami hentikan. Berikut cerita singkat dibaliknya.

Misi

Saya, bersama beberapa teman yang sekarang sudah meninggalkan Musikator, memulai aggregator di penghujung tahun 2012 dengan misi agar “semua musisi Indonesia, tidak terkecuali, bisa mendistribusikan lagunya ke kanal digital”.

Sebenarnya misi tersebut tercapai tepat waktu, yaitu dalam 2 tahun. Setelah berhasil membuka pendaftaran online, otomatis tidak ada lagi musisi Indonesia yang tidak bisa mencapai Digital Service Provider, atau biasa disingkat DSP, lewat Musikator. Setelah misi tersebut tercapai, tentunya misi harus diperbarui, yaitu mencari profit. Karena sudah banyak sekali uang yang dikeluarkan untuk mencapai misi pertama. Sayangnya, misi ini tampaknya memang tidak akan pernah tercapai.

Besar Pasak Daripada Tiang

Sebulan, saya bisa mengeluarkan uang 10-15 juta untuk menjalankan operasi aggregator. Sementara itu penghasilan tidak pernah bisa lebih dari 500 ribu rupiah. Saya sempat sampaikan ini lewat kanal Facebook pribadi saya. Lah, hitungannya bagaimana? Seharusnya kan sudah sejak awal bisnis ini tidak usah dimulai sama sekali aja dong kalau tahu bakal merugi…

Itulah. Dari awal saya tidak tahu ini bakal merugi. Karena perkiraannya, dalam beberapa tahun lagi Musikator bisa beruntung, ketika konsumsi musik lewat kanal digital di Indonesia mulai mapan. Sayangnya, nafas sudah habis. Habis sebelum waktunya.

Sebelumnya, saya punya bisnis lain yang sudah punya penghasilan konsisten, yang saya gunakan untuk membiayai operasi aggregator. Tapi, per Februari 2015, aggregator menjadi operasi yang mandiri.

Mencari Partner Baru

Sejak itu, saya mencoba berpartner dengan beberapa pihak. Setelah mencoba beberapa kali, ternyata gagal terus.

Di penghujung tahun 2015, saya memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Tapi, partner saya terakhir pun akhirnya menyerah. Uang cash-nya terputus karena salah mengambil keputusan di bisnis lain, akhirnya dia harus berhenti membantu saya membiayai operasi aggregator.

Oh well.

Akhirnya saya menyerah. Karena saya sudah tidak bisa memberikan apa-apa lagi. Sudah tidak masuk akal lagi kalau saya tetap paksakan. Akhirnya mungkin nanti bukan saja merugikan diri saya sendiri, tapi juga bisa merugikan orang lain. Jadi sampailah layanan aggregator di ujung jalan. Seperti saat ini.

Ini Salah Siapa?

Andaikan ada mesin waktu, mungkin saya akan tetap memulai digital musik aggregator di akhir tahun 2012. Yang membedakan, saya akan:

  1. Membuat PT yang beroperasi sendiri sejak awal.
  2. Memisahkan kawan dan bisnis dengan lebih teliti.
  3. Mencari partner yang lebih mapan, bukan sekedar karena teman.
  4. Bertindak tegas terhadap Creator yang tidak menghormati kontrak.

Saya lebih sering menyesal terhadap hal-hal yang tidak saya lakukan daripada apa yang sudah saya lakukan. Jadi meski merugi relatif besar, saya tidak menyesal saya sudah pernah menjalankan bisnis yang tidak banyak dilakukan orang, terutama di Indonesia. Meski akhirnya gagal, I gave it a try. Dan saya bertempur hingga titik darah penghabisan.

Catatan:

Untuk tindak lanjut soal administrasi, silahkan klik link ini.

6 Comments

  1. Pingback: Ketika Musik Bisa Menyalak Tapi Tidak Bisa Menggigit - Robin Malau

    1. Robin Malau Reply

      Terimakasih banyak, senang sekali jika saya bisa menginspirasi. Sayangnya niat baik saja tidak cukup ya, banyak lagi faktor yang diperlukan untuk bertahan! :)

  2. Tonggo Simangunsong Reply

    Saya termasuk yang mengikuti pergerakan Musikator. Sayang sekali misi Bang Robin terhenti. Saya pun pernah terobsesi membangun sebuah website untuk musik, tapi setelah pikir sana sini, memang tidak mudah.

    Tetap semangat bang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *