Kalah Sebelum Berperang
Bagi sebuah band lokal, menjadi terkenal (diundang manggung ke berbagai kota, single andalan merajai berbagai chart radio terhormat, kerap tampil di televisi nasional, dsb) sering berhenti hanya sekadar jadi obsesi muluk, sebatas mimpi indah.
Angan-angan sejuk tersebut belum apa-apa macet begitu saja bukannya tanpa sebab. Kompetisi yang ultra ketat, jarak yang jauh ke pusat industri hiburan (baca: Jakarta), infrastruktur yang terbatas lagi mahal, minimnya koneksi ke sosok-sosok kunci dunia entertainment (pihak label, penyelenggara konser, orang radio, pencari bakat di televisi); menjadi barisan kendala paling wahid dalam perjalanan meraih cita-cita. Dan akibat ketidaksigapan mengatasi kerikil-kerikil penghambat itu, jamak terjadi, artis-artis lokal nan berbakat kemudian meraih gelar juara hanya di daerahnya sendiri, mentok menjadi jago kandang saja, tingkat popularitas dalam skala duhai sempit.
Hey, jangan keburu putus asa, jangan instan menyerah. Di segmen berikutnya akan kita kupas beberapa kiat menyiasati ragam masalah di atas.
Internal Affair
Dinamika persaingan di skena musik Nusantara bak medan perang saja. Sebelum berangkat ke zona pertempuran tentu harus menyiapkan segala macam senjata, musti konsolidasi ke dalam dulu.
Iya, yang paling mula adalah pembenahan domestik:
1. Nama Kelompok
Identitas ini penting untuk menunjukkan ke publik siapa diri anda, apa maunya anda. Saat anda memilih nama semacam Kangen Band anda sudah jelas mau menyasar kelompok masyarakat yang mana. Media Distorsi dari sebelum berangkat pasti telah sadar akan susah diakrabi oleh strata kuli bangunan. Benar, sejak awal anda perlu mengambil positioning yang tegas.
2. KTP Genre
Ketika ditanya jenis musik apa yang anda mainkan, sebaiknya hindari jawaban ambigu, “Kita tidak mematok pada satu jenis musik saja” atau “Bebas saja, silakan sebut sesukanya”. Lha, kalau anda sendiri tidak tahu apa yang anda kerjakan, bagaimana orang lain? Orang lain tak punya waktu untuk sibuk memikirkan/menebak/mencari tahu apa maunya anda, si artis baru. Bikin istilah yang menarik jika anda memang cukup kreatif seperti High Octane Rock dan berikutnya baru beri penjelasan what the friggin’ hell is that. Atau kutip satu genre yang sudah umum dikenal orang semisal Pop Rock lalu selanjutnya deskripsikan lebih mengerucut: “Bayangkan Sheila On 7 dengan distorsi gitar yang lebih garang”.
3. Busana
Ingat, anda berkutat di dunia hiburan. Publik sudah terlanjur menaruh harapan berbeda pada anda. “Glam & Glitter” adalah nama tengah anda yang baru. Jadi hindari berpakaian terlalu biasa. Bedakan penampilan ketika nongkrong di warung kopi dengan ketika anda beraksi di panggung. Tampil di sebuah konser musik dan pergi membeli Indomie di mini mart depan rumah dandanannya kudu berbeda. Pula, sebisanya genre yang anda mainkan klop dengan tampilan visual anda. Jangan mengenakan pakaian nan futuristik, pseudo-astronot, jika rumpun musik anda termasuk Pop Balada.
4. Rekan Kerja
Bangun team work yang solid. Ketika dana adalah kendala utama, bentuk yang paling sederhana dulu: personel band + manajer + soundman. Personel band selain bertugas menjadi penghibur juga bisa merangkap menjadi crew bagi dirinya sendiri. Manajer selain mengurusi hal-hal administratif (menindaklanjuti kesepakatan kontrak, follow up technical riders, dll) lazim beralih fungsi menjadi crew. Soundman, biarkan beliau selesaikan dulu urusan ladangnya. Jika memang ada celah luang (yang notabene amat jarang), bisa saja beliau membantu sekedarnya di departemen lain.
Ingat, posisi soundman ini sangat vital sebab beliaulah “pengantar pesan” anda. Seberapapun adiluhung dan menariknya permainan anda, jika suara yang keluar dari sound system-nya berantakan niscaya segala atraksi akrobatik anda jadi percuma semata. Sebagai perbandingan, untuk acara-acara di luar kota dengan bayaran pas-pasan, cukup kerap terjadi di sebuah band, yang diberangkatkan hanya personel band DAN soundman. Manajer disimpan dulu di rumah, hanya ditugaskan menyelesaikan tetek bengek perkara administratif sebelum tim diberangkatkan. Soundman? Itu tadi, sehidup semati dengan band. Band berkemas, soundman juga berkemas.
5. Attitude
Duh gusti susah sekali berinteraksi dengan penganut “budaya Timur” seperti bangsa Indonesia ini. Terlalu riuh ewuh pakewuh. Kelewat berlimpah rambu-rambu haram dan halal. Memegang kepala orang tua tidak boleh tapi membuang bayi ke got adalah kebiasaan lumrah. Dan komentar yang sering segampang itu muncrat dari suku Melayu: “Sombong banget tuh orang!” atau “Baru segitu aja udah besar kepala…”. Berpangku tangan, menunjuk dengan tangan kiri, berkacak pinggang, miskin basa-basi, kontan dicap arogan. Ribet memang. Tapi ada cara untuk menyiasatinya. Usahakan di dalam kelompok anda paling tidak sang manajer (this is a must) + 1 personel band (it would be nicer) sanggup menjalankan peran sebagai humas yang ramah dan hangat. Jika sebagian besar personel band bawaan lahirnya memang introvert, lebih suka menutup diri, biar saja. Let them be. Publik masih agak-agak bisa mengerti dengan tingkah polah mereka. “Yah, namanya juga seniman…”, begitu biasanya permakluman yang muncul. Namun jangan sampai seluruh entitas band mencitrakan kesan angkuh/congkak/pongah. Di sinilah fungsi Public Relation jadi maha penting dalam mendongkrak imej anda sebagai artis. Dengan berinisiatif menjadi sosok yang ramah dan bersahabat paling tidak anda akan lebih mudah dibukakan pintu hati, lebih berpeluang diberi kesempatan oleh lawan bicara. Apa susahnya sih untuk tersenyum lebih sering dan lebih lebar?
6. Lagu
Tulis, gubah, karang lagu yang kuat. Well, Anda lebih paham tentang apa maunya anda. Subjek berkesenian, itu wilayah anda paling asasi. Adalah asusila jika saya sampai mengintervensi. Saya hanya bilang, boleh-boleh saja Anda mengikuti trend asal jangan terlalu larut dengannya. Walau berjuta artis lain melakukan hal yang sama, silakan saja kembali menulis lagu tentang cinta sebab pada dasarnya tema cinta memang cenderung tak lekang oleh waktu. Namun harus diingat, saat sudah sebegitu berjubel artis lain berkisah tentang selingkuh, anda jangan masih turut berdesakan menyuarakan hal tersebut. Momentumnya sudah kadaluwarsa, bung. Ambil sub-tema cinta yang lain misalnya—sekalian konfrontatif—kesetiaan. Atau backstreet love. Atau asmara jarak jauh. Atau jatuh hati pada hijaunya negeri (makna cinta yang lebih lebar). Matter of fact, yang paling baik sih tidak terpaku pada cinta melulu. Eksplorasi, bung, eksplorasi.
7. Materi Publikasi
Selalulah siap dengan cakram digital sebagai perangkat promo yang ringkas namun efektif. Tulis biografi/press release anda—lengkap dengan contact person, diskografi + gigografi—dengan singkat, padat dan tetap menarik (kalau perlu sisihkan sedikit uang anda untuk membayar penulis yang cakap di bidang ini). Sertakan juga satu atau dua lagu (berikut judulnya) + videoklip (jika ada) sebagai pelengkap introduksi. Sinopsis yang atraktif umumnya jitu menggaet minat orang untuk mengenal Anda secara lebih dekat.
!Achtung: Bio maksimal terlampir di 2 halaman saja. Paling cihuy jika bisa tercakup semuanya di satu halaman. Ah, tak perlulah anda sebutkan berita picisan macam pernah tampil akustik di ulang tahun Ketua RT yang kebetulan karib Ayah anda. Data remeh temeh tadi belum perlu. Nanti ketika anda sudah menjadi artis besar baru deh ungkit-ungkit, napas tilas rekam jejak historikal Anda.
8. Ramah Jagat Maya
Di jaman serba elektronik ini berjabat erat dengan teknologi internet adalah mutlak, tanpa bisa ditawar-tawar. Selain relatif murah juga jangkauannya tak terbatas (sky is the limit, if you understand what that means). Masih berhubungan dengan tajuk sebelumnya, anda bisa berpromosi gratis lewat jejaring virtual seperti Myspace, Friendster, Multiply, Facebook, dsb. Bayangkan berapa dana yang habis untuk mengirimkan promo kit ke Kazakhstan dibanding mengiklankan diri lewat internet. Katakanlah label rekaman di Jakarta, begitu rumor tentang anda semerbak di skena musik Nusantara, mereka bisa langsung mencari tahu apa dan siapa anda via dunia maya. They can just google you. Simple as that.
Jika semua persiapan di atas sudah matang, baik dan benar; selanjutnya adalah tahap ekspansi penaklukan jazirah bernama Blantika Musik.
Tora! Tora! Tora!
(in progress)
***Lanjutan dari topik bahasan ini dapat disimak di acara seminar “Strategi Band Lokal Go-National” pada hari Sabtu, 15 Maret 2008, pukul 3 sore, di Ozigo Country, Renon, Denpasar; serta selengkapnya akan di-upload minggu depan di Blog Direktori Musik Indonesia www.musikator.com.
Pembicara: Rudolf Dethu (what the f…) + Dedy Kristian (music director CDBS FM dan penulis lepas The Beat).
Sebelum membaca artikel ini, ijinkan saya mempersembahkan Ucapan Terima Kasih yang sedalam-dalamnya kepada para Penulis yang dengan sangat mulianya membagi ILMU yang sungguh sangat berguna bagi kami penikmat,pembuat,pencinta musik di Jazirah Negeri ini. Salam
Sejawat Terhormat, saya amat girang dengan respons positif anda sekalian. Jika Bali mau, Bali pasti bisa. Now share. Because you care. Cheers -RD
Saya browsing kesini setelah membaca artikel tentang Bli Dethu di Harian Radar Bali tempo hari, dan bertambah ingin untuk browsing lebih dalam setelah hari ini saya mendengar Bli Dethu siaran di Salah satu Radio di Bali. Salut untuk Web-nya.
Hey Blijunk Armstrong, the Sanglah Hospital man! (You still workin’ there, eh?) Glad to know that you’re still alive and kickin’, dude. Terima kasih banyak atas sokongannya. Btw, jika Blijunk tidak sibuk sempatkan datang ke Sarasehan “Band Lokal Go National” Sabtu besok ya. Mulainya jam 3 sore, di Ozigo. Acaranya gratis. Terus Minggunya nonton Efek Rumah Kaca. This band totally rules, man. I personally admire them big time. Thanks and take care -RD
Ahhh… ini yang paling ditunggu2 sejak lama… berbagi ilmu bersama untuk bisa maju bersama… semangat!!! yap… saya setuju banget dgn semangat Dethu:: Kalo Bali mau, Bali pasti bisa… sampai jumpa di hari sabtu, 15/4/08 jam 3 sore. TO :: MBONK BKJT :: ayo! ayo! ayo! saya penggemar band kalian.
To.Bli Dethu…Hehe rupanya Bli Dethu masi ingat, iya saya masih ijunk yang itu. Trims ajakannya, sebetulnya saya sudah mempersiapkan diri untuk datang ke acara tadi sore, tetapi hujan yang deras menahan langkah saya, serta lingkaran di kalender yang mengingatkan saya untuk sangkep jam 18.00 mengganggu saya. Akhirnya saya putuskan untuk diam dirumah sembari membaca-baca tulisan Bli Dethu yang saya save dari web ini.
Saya sudah membaca rangkuman acaranya di salah satu halaman di web ini, wah kelihatannya acaranya rame dan asikk. Untuk besok saya akan datang bersama pasukan, sampai jumpa di Venue
untuk bli RD.
kalo tampang jadi strategi juga atau tidak??..
saya bingung dgn musik jaman skrg ini,.
asal ganteng pasti laku..
asal cantik n sexy pasti ngetop..
tanpa melihat kualitas musik itu sendiri sampai sejauh mana..
cheers..!!
keep this web rad!!
acara yg gini yg mesti dibanyakin lg frekwensinya. Setuju ga teman2..
buat dethu: ayo RD buat lg acara seperti ini.itung2 sharing pengalaman n nambah ilmu..kita tunggu acara selanjutnya
Bocoran: panitia (baca: Igo dan Dethu), mulai malam tadi saat Downtown Groove sudah mulai me-lobi beberapa sponsor untuk bikin tour acara ini! Keliling, ngga hanya di Bali. Isn’t that great? Let’s wish them luck!
Hey Tonkz, tampang bening memang jadi nilai tambah untuk sebuah produk (dalam konteks ini: artis/band) agar bisa diminati orang. Tapi hukum tersebut tidak berlaku mutlak kok. Lihat saja Jimi Danger, vokalis The Upstairs. Attitude serta karya musikalnya yang benar-benar “ajaib” (paling tidak untuk standar musik Indonesia), mampu menjungkirbalikkan paradigma umum. Saya pernah menyaksikan sendiri begitu banyak Jimi-jimi lain di pertunjukan live The Upstairs. Anak-anak muda bak berlomba mengikuti Jimi. Ya gaya dandannya. Ya cara berdansanya. Sinting.
suport bwt dethu dan igo cs. artikel “strategi band lokal go nasional emang sinting. salut…
kalo bisa, ga cuma band yang di angkat.tapi gimana kita bisa buat sebuah rumah yang bisa ngejual mereka. sayang banget band bali banyak yang ok, tapi di bajak tanah seberang..
bali ga kebagian lagi…aku tantang kalian buat budaya ngorol untuk band bali!!!cherrz…kapan2 aku mampir..
besok saya kesalon ah…
lol..
thx masukannya bli..
saya jd pede..
^^
to WENA… tx banget bro buat supportnya, ya…
ditunggu banget waktu luangnya Wena u. bisa mampir n ngobrol lebih banyak lg di Suicide Glam Renon…
chrz
to Igo.
yup..banyak yang perlu di obrolin..aku pengen ajukan beberapa penawaran ke Igo.cs
mudahan bisa diterima..
kalo file2 uda siap, aku ke dpz..
i will rock u !!!cheerz
to Wena…
kami tunggu di dps. mudah2an banyak yg bisa dikerjakan bareng. chrz, igo
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
mbong wirayudha BKJT said,
March 13, 2008 @ 8:54 pmArtikel tersebut di atas dan acara sarasehan yang akan diadakan selanjutnya sangatlah berguna bagi band-band indie yang akan ikut berperang di kancah musik nasional, ‘kita’ yang berangkat perang tidak lagi cuma berbekal nyali tapi sudah memiliki bekal amunisi yang cukup. Siapa tau band indie bali bisa memunculkan lagi SID-SID yang lainnya atau Bali sendiri bisa menjadi salahsatu pusat industri musik di indonesia. Terimakasih dan ROCK’N'ROLL!!