TMIF # 12
by musikator on 07/03/09 at 8:04 pm
TMIF telah genap satu lusin. Yup, ini edisi Thank Musikator It’s Friday yang ke-12. Sekadar mengingatkan, mulai TMIF ke-10 kita sepakat menyudahi jawaban dengan pilihan “a” atau “b”. Kita memang hendak membiasakan sejawat Musikatorians menjabarkan apa yang ada di pikiran tanpa harus diarahkan terlebih dahulu. Dan ternyata benar perkiraan kita, dengan hampir tanpa beban rekan-rekan semua berlomba menjelaskan sudut pandangnya. Ingat, di sini tak ada soal siapa yang salah siapa yang benar. Yang diminta adalah inisiatif, keberanian untuk mengemukakan pendapat. Yang diharapkan adalah kita anak muda ramai-ramai menolak tabiat bawaan generasi sebelumnya: “nrimo”, digimanain juga kagak protes sambil bilang, “Ah, biar nanti Tuhan yang membalasnya. Yang baik pasti akan menang pada akhirnya…” Padahal dari sejak jaman Soeharto hingga sekarang belum juga terbukti orang baik yang jadi pemenang. Whew.
Oh well, baiklah, kami umumkan dulu kawan-kawan yang diberkahi anugerah bingkisan dari Kaos Kutang, yaitu:
1. anto head
2. WishNoize
3. male unwisely
Dan satu hadiah hiburan buat Andrix.
Bersulang bagi kalian yang telah terpilih. Silakan kontak Igo theblado@musikator.com serta c.c. ke Rudolf Dethu suicidaldjdethu@musikator.com
Mohon informasikan alamat domisili serta nomor telepon anda.
Nah, untuk TMIF # 12 ini kita masuk ke sebuah fenomena:
Harganya termasuk relatif mahal, sekitar Rp 9.000-an untuk 30 hari saja. Berdurasi tak lebih dari 30 detik dan tidak bisa dinikmati sendiri secara langsung. Nada sambung pribadi a.k.a. ring back tone laris manis. Jauh lebih kencang daripada harga jual sebuah album penuh yang, kalau diakumulasi, sebenarnya lebih murah. Jujur saja, sekalipun senang karena musisi bisa meraup pemasukan tambahan, tapi kerap terlintas, um, y’know, kenapa ngga bikin lagu berdurasi 30 detik saja?
Silakan berkomentar mengenai fenomena tersebut. Positif, negatif, bakal bisa bertahan lama, atau sekadar trend sesaat lalu sirna, atau apa, terserah, bebas paparkan saja pendapat kalian.
Bagi 3 orang dengan paparan penjelasan paling menarik/kontroversial/brutal/whatever masing-masing akan diberkahi sebuah paket dari THE HYDRANT berupa:
- 1 cakram digital (cd)
- 1 kaos
- 1 stiker
Selebihnya, sama seperti sebelumnya, perhatikan juga ujaran signifikan di bawah ini:
Syarat & Ketentuan
1. Jawab pertanyaan dan beri komentar di kolom komentar di bawah ini
2. Setiap peserta hanya boleh mengirim 1 (satu) komentar untuk setiap edisi TMIF—pastikan komentar kamu komentar yang kickass!
3. Berdomisili di wilayah Indonesia
4. Biaya pengiriman hadiah ditanggung sepenuhnya oleh Musikator
5. Keputusan pemenang dipilih oleh tim Musikator, dan tidak dapat diganggu gugat
6. Pemenang diumumkan pada edisi TMIF berikutnya dan akan dihubungi via e-mail oleh tim Musikator
Musikator Bandidos never die!





15 Komentar
aRYa
Mar 8th, 2009
Hoi.. dats POP. people luv to try something new. its preeety good for now cuz sometimes its such a damn boring while waiting the call with.. tooot…tooot….. hahaha…
but its too short! why the privider not to try to make it longer. example: take the whole verse or reff.
But as what i said, its POP culture. will be dissapeared within 3more years.
Balas
male unwisely
Mar 8th, 2009
wah.. sekali lagi terima kasih buat musikator.com atas appresiasinya..
Tema TMIF#12 kali ini adalah Nada Sambung Pribadi a.k.a RBT, well, that’s cool dude!!!
mari kita simak risalahnya terlebih dahulu..
Banyak juga para musisi yang menyatakan kontra alias tidak setuju dengan RBT, tapi banyak pula yang setuju.. (mayoritas malah..), Kalau Bli Robin, Bli Dethu dan Bli Igo?? Gmana?? hayoo.. saya tunggu balasannya..
Bisnis ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan ketik reg (spasi) apaanlah itu.. sama maksudnya ya melalui fasilitas mobile phone pastinya.
sama yang kedua, dalam bisnis ini yang paling “sugih” tentunya operator atau providernya sendiri. Korban RBT pastinya Artis itu sendiri, jikalau sadar dan bener2 menyimak sharing revenuenya.. tapi.. ahh.. masa bodoh!! yang penting artis atau band bisa kaya mendadak.. sebut saja Band-band seperti Nidji, Samsons, Republik, Yopie N The Nuno, etc, anggap saja mereka bisa dapet 1500 perak per satu unduhan, dan jikalau dalam satu bulan ada 1Juta pengunduh.. berapa yang mereka dapet?? dan pastinya yang paling banyak dapet ya operator / provider.. Masalahnya mereka yg saya sebutkan tadi adalah band2 tenar, bagaimana dengan band-band baru?? atau band-band lokal (indie) kita di Bali?!
Saya tidak menolak dengan bisnis RBT ini, yang saya sayangkan adalah permainan yang tidak “fair” di sharing revenue nya.. yah..namanya saja bisnis..
Bisnis RBT ini cenderung menempatkan artis dalam obyek penderita (atau bisa dikatakan sapi perahlah..), meskipun pada kenyataanya inisiatif berasal dari artis / band sendiri, yah.. itung-itung mendongkrak image, mencari tambahan pemasukan, dan sekaligus promosi band sendiri.
Akan tetapi, ada beberapa kekhawatiran saya akan dampak negatif yang muncul dari bisnis RBT ini kemusisi sendiri, yang terparah adalah musisi jadi malas berkarya, orientasi berkarya lebih ke profit, karya yang dihasilkan sendiri jadi tidak berkualitas. misalkan pada lagu yang diciptakan memang khusus untuk RBT, yang enak didengar pada reffnya saja. Dan musisipun lebih condong mengeluarkan single daripada full album, pastinya janganlah berharap akan ada album yang benar2 terkonsep dengan ide2 gila.
Terakhir dari saya, segala sesuatunya tergantung dari individu kita masing-masing. Jika berminat monggo.. provider / operator hanya menyediakan fasilitas..
Sekian dari saya..
Terima Kasih..
Salute to Musikator team..
Balas
anto_head
Mar 8th, 2009
RBT…salah konten yg lg booming d negara super bobrok ini,dimana hampir setiap orang punya hp. Dan ini adalah salah satu pasar potensial bagi provider buat jualan kontennya.
Dengan bayar Rp 9.000/bln, kamu akan dapat 1 nada sambung artis pujaan lo..
Dan ini bisnis sangat menggiurkan bagi label, provider dan artis itu sendiri. Seperti kita ketahui, industri musik sekarang lagi anjlok. Penjualan album secara fisik sudah menukik tajam,label sudah mulai melirik bisinis lain seperti manajemen artis dan RBT buat nutupin ongkos produksinya..(ato malah mungkin mengeksploitasinya kelak…)
Disaat penjualan album cuma laku puluhan ribu keping, tapi penjualan RBTnya bisa ratusan ribu bahkan sampe 5 jutaan, seperti yang dialami Samson dan Vagetoz…label untung, artis untung dan provider juga untung..
trus gimana dengan para pemakai RBT?…apa mereka juga untung?
itu kita kembalikan kepada individu masing2…kalo emang enjoy silakan,..monggo..go head..ga masalah atuh !!!
klo ga suka, ya udah..ga usah pake,ga usah ngedumel…
kalo gw emang dari dulu ga suka pake RBT, sayang duit Rp 9.000 untuk hal yang ga bisa kita nikmatin…mendingin buat beli beer sambil buka musikator…he he he
Balas
Prima_boogie
Mar 9th, 2009
lagu berdrasi 30 detik mungkin akan sulit dicerna, kecuali video atau film 30 detik mungkin masih bisa dicerna. aku pernah denger lagunya nofx yang durasinya kurang dari 1 menit (gak 30 detik sih) tapi aku gak begitu ngerti mereka buat tu lagu buat tentang apa.
mungkin instrumental 30 detik masih bagus,daripada harus di isi lirik.
tapi kalau gak salah nelpon sampai nada sibuk kan sekitar satu menit, tapi kenapa RBT cuma di kasi jatah 30 detik gak memuaskan,
tapi keuntungan RBT, bisa menambah penggemar bagi penelepon yang baru denger tu lagu.
RBT salah satu cara mencari keuntungan ditengah tingkat pembajakan yang semakin tinggi.
(katanya sekarang penggunaan software bajakan mencapai 84%)
(wah kukira tmif dah sebulan sekali)
Balas
MadeJunes
Mar 9th, 2009
Kalo mengutip Efek Rumah Kaca : “Pasar Bisa Diciptakan”, yah beginilah pasar yang diciptakan oleh provider telekomunikasi, label, musisi, dan konsumen. Ya konsumen juga berperan signifikan dalam nge-trend-nya RBT. Dari lubuk hati yang paling dalam saya sebenernya gak begitu suka dengan adanya RBT (walopun saya juga pake RBT-nya SID-Kuat Kita Bersinar). Kenapa gak suka, ada sedikit kejadian yang saya alami beberapa waktu belakangan ini, album terbaru SID (Angels and The Outsiders), udah dirilis duluan RBT-nya tapi album dalam format fisik (cd) gak juga dirilis-rilis, bikin penasaran aja gimana sih lagu-lagu barunya, masak saya harus nyobain RBT semua lagu SID yang baru? Trus pas albumnya dirilis, eh saya malah ga ketemu cd-nya di toko-toko cd di sekitar Bandung (atau sekarang udah ada ya)?
Kalo saya sih mendingan album dari suatu musisi bisa di-download kaya albumnya Koil yang terakhir daripada di-RBT-in.
**saya baru nyadar kalo cd bisa dipanjangkan jadi cakram digital**
Balas
rockettekno
Mar 9th, 2009
gmn yawh,kalo diitung2 rbt tu skalian promosi,contohnya kalo kita ditelp ma spa gtu,nah kita pake rbt band indie yg blum tentu orng yg dri luar ato dlm bali tw…tu kuntungannya dia pasti bkal tnya rbt km apa,nah dri situ kita bsa bantu indie bali bwt berkembang tnpa disadarin kita ngajak dia bwt dnger lgu2 yg ada di rbt,memang wktunya cma detik.tp tu bsa bwat yg nelpon jd pnasaran kalo dia ngerasa asik dia pasti bkal tanya2 tntang band tersebut…
nah kalo segi negatifnya,ya duit abis buat bbli pulsa bwt byar rbt… kita ga dnger yg dnger malah yg nelpon…hehehe…
ya kalu baiknya,bilang bsa bantu2 band indie bali. biar kita ga ktinggalan kita jg bisa ga arus mayor label..lawat indie kita jg bisa ngasilin karya yg lbih bgus dari mereka…
go..go..indie bali…
thx
Balas
spon2emo
Mar 11th, 2009
ga setuju.. enak aja motong lagu yang aslinya bagus sesukanya, durasi pendek, mahal, bikin kreativitas musisi ( band, penyanyi ) jadi jeblok.. cukup bikin 1 lagu aja (single) yang bagus, bikinin RBT, duit ngalir, udah selesai. males bikin album jadinya..
menghancurkan kreativitas musik !!!
Balas
atenxrock
Mar 14th, 2009
ada baiknya juga sich. . .
lewat RBT juga bisa promosin lagu dari sebuah band itu sendiri. . .
apalg RBT untuk band indie juga udah ada, . .
sesuatu haljuga pasti ada sisi baik buruknya, sama kayak pembajakan. . .
jadi nikmatin ajalh, lagin ada beberapa temen saya yang maunya nelpn trus dengern RBT WE ARE THE OUTSIDERS( pnya trio pangeran kuta rock city) ini gak jadi nelpun, trus sms bilang “”jangan diangkat,cuma pengen denger RBT lu aja””
ha ha ha
Balas
erwin
Mar 15th, 2009
Wih!!! TMIF telah berjalan 12 langkah..
Selamat,bro!!dan mari kembali ke topik hangat kita,kontroversial RBT..
Coba kita liat dari 3 sudut haluan yang berbeda.
1. musisi.
Positif:
Boleh dibilang Ring back tone sekarang sebagai pemasuikan utama para musisi dengan mengkesampingkan bayaran manggung dan jualan kaset/Cd yang kerap kali dibajak secara seronok, copi paste burn dan kemas!! Tak anyal dan tak mau mengelak bahwa sekarang mereka tidak bisa lagi bergantung dan memohon pada hasil jualan kaset untuk menghidupi anak istri dan beli beer.
Negatif:
Konon banyak musisi yang hanya seliweran dengan single tanpa album yang jelas, kontan menyeruak pendapat akan Cuma mau keruk untung lewat RBT. Padahal yang paling ditunggu dari senimaan layak musisi adalah 1 paket album yang telingkup rapih, unik, beda,dan paling aduhai.
Bagi band2 yang tak dikenal banyak orang dan memilih berjalan sendiri a.k.a indie gmna?ugh, bingung juga.. mereka tak bisa dapat pemasukan dari RBT. Karena tanpa label besar-nama besar-lagu tenar operator tak akn mau menyediakan RBT. Dan mereka hanya bergantung pada ongkos panggung dan jualan Cd door to door.
2. Konsumen.
Ini masalah selera saja, dan agak sedikit ribet jika mengutak atik diskripsi konsumen ,kenapa? Karena ini menyangkut pribadi dan sangat intim. Tak bisa menghakimi RBT layak dibeli ato tidak, layak dipake ato tidak.Rbt ato kaset Cd?bingung!!
Positif.
Konsumen bisa mewarnai nuansa berkomunikasi dengan dendangan dari biduan kesayangan. Hati senang dan penelpon juga riang. Menunggu angkatan telfon dengan lagu bisa menghilangkan rasa bosan.
Negatif.
Konsumen hanya bisa mendengarkan pada sisi reffain tanpa sisipan seluruh melodi dari awal. Dengan hrga rata2 8rb/bulan dan hanya berkutat pada reff belaka. Bisa dibandingkan dengan membeli kaset tape? Cd seharaga 20rb-30rb yang berisi kisaran 12 lagu full tanpa minus. Plus bissa untuk selamanya(asal gak rusak aja!!)
3. Operator
positif.
inilah efek kecanggihan teknologi. Siapa yang membuat itulah yang akan meraup semua keuntungan. Dari sisi bisnis, pemasukan dari konsumen dari pembyaran RBTjelas meluncur deras ke kantong. Dan baru dibagi sesuai perjanjian dengan para musisi.
Negatif.
Hampr tidak ada efek negatif RBT bagi operator.
Balas
rippo
Mar 16th, 2009
wahh…
tidak terasa sudah menginjak episode 12…(kayak sinetron aja…)
ikut urun opini ahh…
berbicara masalah RBT, pada dasarnya hal ini merupakan salah satu strategi operator dalam bertahan dalam kompetisi dengan sesamanya selain permainan tarif yang makin memusingkan saja.
dimana dalam hal ini, kalo saya perhatikan, sebenernya mendapat sambutan cukup hangat bagi khalayak ramai, khususnya kalangan insan muda. mungkin RBT merupakan salah satu cara untuk menunjukkan karakter mereka yang “gaul” melalui lagu pilihannya, atau sekadar biar tidak dikatakan katrok. Hari gini masih denger “tuuut…tuuutt” ?? mungkin barangkali begitu.
Tapi yang jelas, semua itu dilakukan operator adalah untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dan tidak beralih ke pesaing, disamping sebagai opsi sampingan dalam mengejar target finansial.
Beralih ke sudut pandang sang musisi, menurut pendapat saya, disini yang terjadi adalah hubungan harmonis nan saling menguntungkan dengan para operator. Bagi operator, tentu nama besar musisi/band adalah jaminan laris-manisnya RBT mereka. Bagi para musisi sendiri, RBT bisa menjadi ajang promosi murah meriah dan menjajikan. Bagaimana tidak, dengan modal sepotong lagu saja, mereka dapat meraup keuntungan yang lumayan (walupun memang keuntungan yang diterima operator lebih lumayan lg), paling tidak jika dibandingkan dengan hanya sekadar melempar hits ke dunia maya untuk dapat di unduh secara cuma-cuma, strategi ini memiliki “keuntungan ganda” (dilihat dari sisi komersil). Disamping, RBT sendiri dapat meningkatkan popularitas dari lagu yang bersangkutan. Dan saya rasa, hubungan baik antara operator-musisi akan bertahan lama, paling tidak dalam beberapa tahun ke depan.
namun diluar hubungan yang bersifat mutualisme antara operator-musisi, yang memeliki peluang untuk mendapat efek negatifnya adalah konsumen sendiri. Ya, terkadang operator berlaku kurang fair terhadap “kontrak” RBT dengan pelanggan. Tanpa konfirmasi terlebih dahulu, pihak operator seenaknya memperpanjang masa berlangganan (padahal konsumen sendiri belum tentu berniat memperpanjang RBT-nya) dan begitu saja memotong pulsa pelanggan sebagai kompensasinya. Disamping itu, ada juga dampak tidak terduga yang bisa terjadi, contohnya seperti yang di alami kerabat saya. Dia mendapat teguran dari dosennya, hanya karena pada saat sang dosen menghubungi dia, seketika saja terdengar musik ajeb2 yang menurut sang dosen tidak lebih dari sekadar bunyian aneh, berisik, dan tidak jelas. Hahaa.. kedengarannya lucu, tapi Perlu kita perhatikan disini, yang “menikmati” RBT tersebut bukan kita, so hati-hati dalam memilih lagu, karena tidak semua orang memiliki selera yang sama.
mungkin sekian saja.
Balas
bobby
Mar 27th, 2009
andaikan saya sebagai….
1.musisi komersil
saya akan buat single dan edarkan video klip menarik dengan bintang cantik dan tampan lagi berantem.. untuk menarik perhatian khalayak. agar RBT laris manis bak jagung bakar di musim hujan. tak perlu keluar uang banyak. yang penting pemasuakn melimpah ruah.lwt RBT tentunya.!!
2.musisi baik.
saya akan mengedarkan beberapa lagu saya secara gratis lewat netlabel dunia maya, agar semua orang bisa mendengar karya saya. bukan maksud mengahncurakan industri musik yang sudah mapan, tapi hanya sebuah terobosan agar semua orang bisa tau dan menilai karya saya. gak peduli pemasukan dari rbt atau kaset. yg penting orang bisa menyukai krya saya. bila mereka suka. twaran manggung akan terus berdatangan dan jadi modal pemasukan utama.
3.musisi bijak.
tetap bikin karya dan ide2 gila dalam bentuk cd/kaset dan tidak mengedarkan lagu secara gratis untuk didownload.lewat jalan aman. pemasukan dari jualan kaset/cd juga tak ktinggalan raupan dari RBT. plus ongkos manggung. karena menurt saya kraya yang telah saya buat harus dihargai. inilah jerih payah saya.hasil kerja keras!!!jika khalayak suka dan membeli karya saya entah itu lewat RBT ato kaset. yang penting khalayak telah menunjukan penghargaan atas karya yang telah saya buat.
Balas
budi
Mar 27th, 2009
whooaaa…
maaf telat!!hahaha..
wah sebelumunya..conrats buat TMIF untuk masa ke 12 nya!!
oya..sekedar info..isue RBT bebrapa minggu ini kerap diperbincangkan di TV(saya sudah melihat 3 acar TV yang mmbahas RBT dalam semninggu kemarin ) tapi musikator ttp yang paling pertama lwt TMIFnya!!!
lets check out this opini..
wah,,emang gak ada matinya ngebahas ricuhnya RBTdalam dunia musik indonesia.
mungkin kebyakan bayak yabf yang tidak meyukai RBT dan kerap dianggap merugikan konsumen karena cuma menyajikan penggalan lagu berdurasi tak kurang dari setngah menit. but well..musisi adalh orang kreativ dan berdaya imaji tinggi. mereka menggunakan segenap kemampuan dan daya pikiran untuk bikn krya yang beda dan gokil!! dan itu tidak gratis!!mereka juga butuh uang untk hidup dan sebagai modal untuk karya2 berikut yang pastinya bakal lebih gila dan penuh terobosan!! dan dengan mengesampingkan penjualan kaset yang semakain lesu dan bombardiran bajakan. bayaran manggung dan RBTlah hasil pemasukan terbesar mereka. belum lagi bila ada operator nakal yang denagn seenaknya mengontrol pemasukan RBT mereka. karena musisi tidak tau, berapa banyak konsumen yang mendownload RBT mereka. bisa saja operator nakal mengurangi hasil RBT seenakanya.musisi hanya bisa nrimo apa yang dikatakn si operator..band ini di download segini konsumen dan dapat pemasukan segini.apa reaksi musisi?percya saja. toh mereka juga tidak bisa mengecek berapa konsumen yang mendownload RBT mereka tnpa izin da4ri si operator!! liat betapa susahnya jadi musisi yang karya2 mereka kerap diombang ambing dan tidak dihargai..
dan sekali lagi RBT emang Layak ada!!!hargai hasil karya musisi walaupun cuma 30 detik!!hidup permusikan indonesia!!
Balas
andrix
Mar 27th, 2009
ok.. wah thx yah musikator buat hadiah hiburan tmif kemaren..lumayan lah.. skrg RBT y? makin seru nih!.. hheheheh
RBT ato ring back tone menurut gw bgus bgt ya buat promosiin lagu… selain itu bisa dapet duit..lets see.. apa seh positivx RBT buat para musisi?
selain menghasilkan duit seandainya nih para musisi ato pencipta lagu bikin lagu2 yg dirasa bisa ngehits trus dijadiin RBT, gw rasa enakx bakalan sulit dibajakoleh para pembajak y gk? tapi gw jga mikir, apa kalo begitu bisa dikatakan menurunkan totalitas musiknya karena ga bikin album?he..ya cuma pemikiran aja sih..kalo soal knapa ga bikin lagu 30 detikan ajamungkin bukan maksud para musisi, kan yang motong lagu judi30 detik kan operatorx.. maksud mereka kan buat mromosikan lagu nya..bukan bikin lagu lewat rbt. rbt kan cuma saranabuat mereka promosi plus dapet duitselain dapet duit dari penjualan album yang makin merosot dan tawaran konser yang tak kunjung datang,ato side job mereka yang ga jelas… heheheheh…ya musisis mana yang g mau duit? mereka kan juga manusia biasa yang butuh makan.. biasanya sih para musisi kan bilang gini.. selama masih ada duit.. its okay … weekeekkekekekeek…(musisi nya udah rada gebleg ikiy..)
satu lagi yang sangat menguntungkan dari RBT.. buat penggunanay tuh bisa mengungkapkan perasaan lewat RBT, contoh.. gw lagi kecewa ma cwe gw.. gw pasang aja RBT kecewa nya discotion pill.. secara ga langsung kalo cwe ku telpon, trus dia denger, dia kan bisa tau kalo aku kecewa ma dia.. wekekekkekekekke
Balas
nyomEN
Oct 9th, 2009
wah lama tak ditengok dah selusin aja nih TMIF-nya. biasanya cuma manggut2 dan tertohok mengiyakan komen2 yg pedas dan mendalam. kali ini(mumpung ini masih friday) saya beranikan diri untuk coba ikut cuap2, hehe…
sebelumnya kl boleh usul pada pembahasan kali ini jangan gunakan istilah RBT, terkesan menyerang satu pihak karena RBT cenderung digunakan oleh provider X*, seperti halnya NSP (nada sambung pribadi) adalah merk dagang Tlkmsl dan I-ring pada INDST, saya takut yg terlibat dalam diskusi kali ini akan di-prita-kan, yah untuk jaga2 saja… better newbie make admin change the title of this discussion so they wouldn’t get sued, kan? (n_n)V
maaf sebelumnya, saya rasa tidak berhak kita menjudge musisi jadi langsung kurang kreatif dan berpikir “mending” bikin single aja. itu kembali ke pribadi musisinya masing2, kl dia profit oriented dan gak mau repot ya mungkin iya. tp banyak musisi yg mengemas karya mereka dengan baik, misal Tingkerbell band asal jakarta yg menngemas CDnya dalam bentuk karton pizza, atau TIKA and the “pembangkang” [haha..spelling-nya susah, oh iya the dissident! thx uncle google
] yg mengemasnya menjadi diary sehingga multifungsi dan collectable.. sehingga membuat orang tertarik selain menggunakan “nada tunggu”-nya juga membeli kasetnya
mengoleksi CD asli, membeli merchandise, datang ke gigs mereka, menjadi fanspagenya di myspace ato FB, “mengiklankan” band2 yg dirasa berkualitas ke teman2 adalah dukungan/support kita kepada band tsb, seperti juga menggunakan “nada tunggu” (semoga blm ada provider yg menggunakan istilah ini
) mereka, walau pembagian keuntungannya sangat tidak adil. tp itu kembali kepada konsumen masing2, kl mereka mau dan rela ya gunakan, kl enggak ya udah.
saya punya teman yg tidak mau membeli CD aseli dan memilih mengoleksi MP3 karena menganggap membawa dan merawat CD2 itu ribet apalagi mengingat dia yg sangat “nomaden”, tapi dia sangat semangat mempromosikan band tersebut bahkan jadi pengurus fanzine-nya, jujur saya sendiri juga terkadang merasa gak worthed kl beli CD yg didistro2 dijual 2x harga di label, [hei..mereka kn cuma majang doank!! masak dapet persenan yg sama dg musisi yg susah payah latihan genjrang genjreng?!?]. terkadang kaum kapitalis memang tidak memberikan kita pilihan. jika kita mau ya beli, jika masih mampu kenapa tidak bikin sendiri? [mengutip dari sebuah site papercraft local]
besar harapan saya untuk bisa mendapat merch dari the hydrant, mengingat kemarin waktu pulang ke bali merch+kasetnya blm keluar dan TMIF yg berhadiah – DVD konser NAvicula beberapa waktu lalu saya+teman gak berhasil menang T_T
NB: oiya ada yg punya info dimana mesen ato beli DVD konser NAvicula tsb? thx sebelumnya..
Balas
nyomEN
Oct 9th, 2009
oh iya tambahan (sekaligus curhat). saya gak keberatan pulsa saya kepotong untuk eR-Bi eh..nada tunggu karena saya memasangnya dengan sadar, cuma agak kesel aja belakangan begitu nyambung bukannya langsung memperdengarkan nada tunggu malah terdengar suara gadis manja “mau ini jadi RBT kamu? tekan 5..” baru kemudian reff Cerita Dunia-Psychofun (nada tunggu saya) terdengar, jadi misi saya untuk mempromosikan lagu tersebut kepada orang yg menelpon saya menjadi gagal mengingat terkadang belum sempat nada tunggunya terdengar udah keburu saya angkat duluan. nah dari sini terlihat kerakusan provider untuk menyabet lahan promosi artist demi promosi mereka sendiri.
PS : mengingat hanya boleh posting 1 komentar, silahkan jawaban ke2 saya ini dianulir (tapi kl bisa sih dimuat juga biar suara hati saya tersuarakan. juga ini kn bukan jawaban, cuma tumpahan kekesalan semata, peace kk dethu..)
Balas
Silahkan Berkomentar