TMIF # 14
by musikator on 11/05/09 at 9:20 am
Ini kali yang ke 14 bagi TMIF. Bagi dewan redaksi Musikator, dari sebegitu banyak berondongan opini yang Musikatorians telah suarakan, tambah menebalkan kepercayaan kami bahwa anak muda Indonesia telah makin piawai dalam menelaah berbagai isu yang berkembang di masyarakat. Para anak muda (beserta kalangan yang lain) sudah pintar untuk memilah-milah, sudah jago membaca situasi, serta—ini yang paling menggembirakan—sudah tak mudah lagi disetir/digiring/didoktrin baik oleh elit politik, petinggi partai, maupun pemerintah. Bukti yang amat signifikan tampak jelas ketika Partai Demokrat memenangi pemilihan legislatif. Bukan soal Partai Demokrat itu adalah pilihan tepat atau bukan, baik atau buruk, tapi yang bisa dipelajari di sini adalah penduduk di bumi Nusantara ini TIDAK (halo para pejabat teras partai, jika anda masih buta huruf dan miskin nurani, mari saya eja: te-i-de-a-ka, TI-DAK) patuh, tidak tunduk, tidak mengangguk pada instruksi, saran, anjuran, petuah, propaganda maupun fatwa yang dimuntahkan para orang-orang “besar”.
Te-i-de-a-ka. TI-DAK.
Benar sekali, siapa pun tak pernah menduga bahwa partai bau kencur macam Demokrat bakal sukses menjungkalkan dua buldozer ini: si penegak status-quo Golkar, & PDI-P yang mengaku sebagai, ahem, pembela wong cilik. Yang makin bikin bengong adalah fakta bahwa organisasi politik pemula yang dikomandoi SBY itu digdaya dengan prosentase kemenangan yang duhai mencengangkan. Peta perpolitikan langsung berubah drastis. Golkar & PDI-P, yang tadinya merupakan musuh besar di jaman Orde Baru, segera saja saling berjabat tangan seolah-olah tewasnya puluhan orang saat kisruh 27 Juli 1996 (Kudatuli) cuma insiden kecil belaka. Urat malunya sudah mati banget. Begitu pula Wiranto & Prabowo, masih segar dalam ingatan rakyat bagaimana para purnawirawan tersebut saling mendiskreditkan, agresif menjelek-jelekkan satu sama lain, lewat buku masing-masing plus berlanjut perang urat saraf di media massa. Namun gara-gara kejayaan Partai Demokrat, mereka kemudian duduk manis berdampingan lalu berpelukciuman. Diikuti oleh partai-partai lain selanjutnya mereka membentuk koalisi yang disebut sebagai “Koalisi Besar”. Lengkap dengan limpahan tinja dari para petinggi yang terhormat: ini semua untuk kepentingan bangsa dan negara.
Yeah, right.
Tidak ada kawan atau lawan yang abadi di politik. Yang ada hanya kepentingan yang abadi. Sak karepmu, ‘cuk, silakan berteori basi sesukanya. Sekarang, coba buka kuping & mata hati, kami rakyat Indonesia, anak muda Nusantara, menegaskan kembali kepada anda semua wahai orang “penting”, bahwa kami:
1. Tidak patuh
2. Tidak tunduk
3. Tidak mengangguk
Ok, sudah dulu orasinya. Ayo masuk ke TMIF. Mari kita pilih dulu pemenang TMIF # 13, mendapatkan paket hadiah dari kontingen Rapcore asal Bali, GEEKSSMILE. Nama-nama tersebut yaitu:
1. Dhani Rawkz
2. Rude Boy Dodix
3. Lecir
Hadiah hiburan untuk Erwin, Andrix, & Cietra.
Bersulang bagi sejawat cerdas yang telah terpilih. Silakan kontak Rudolf Dethu suicidaldjdethu@musikator.com serta mohon informasikan alamat domisili serta nomor telepon anda.
Nah, untuk TMIF # 14 argumen yang diminta dari Musikatorians adalah tentang:
Mengikuti Sri Bintang Pamungkas menjadi Golput atau sebaliknya: menggunakan hak pilih?
Jika memilih Golput sebutkan alasan kenapa. Jika berkeputusan mendatangi TPS dan menusuk gambar capres/cawapres beberkan dalih anda. Beri juga solusinya, jangan protes aja. Ingat, jangan pernah takut atau segan memuntahkan isi pikiran. Tidak ada benar atau salah. Apalagi Soeharto sudah mati. Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi. Negara RI sudah reformasi. Biasakan berdiri tegak menantang dan bersilang pendapat. Demi tegaknya Demokrasi. Demi majunya negeri ini. Yang penting tetap berkepala dingin.
Tiga pemapar perspektif terbaik akan digelontori bingkisan menarik terdiri dari cd, kaos, serta pin dari kontingen street rock Surabaya, BLINGSATAN.
Plus, sama seperti sebelumnya, perhatikan juga ujaran signifikan di bawah ini:
Syarat & Ketentuan
1. Jawab pertanyaan dan beri komentar di kolom komentar di bawah ini
2. Setiap peserta hanya boleh mengirim 1 (satu) komentar untuk setiap edisi TMIF—pastikan komentar kamu komentar yang kickass!
3. Berdomisili di wilayah Indonesia
4. Biaya pengiriman hadiah ditanggung sepenuhnya oleh Musikator
5. Keputusan pemenang dipilih oleh tim Musikator, dan tidak dapat diganggugugat
6. Pemenang diumumkan pada edisi TMIF berikutnya dan akan dihubungi via e-mail oleh tim Musikator
Dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat!




18 Komentar
male unwisely
May 11th, 2009
Selamat Pagi Musikator..
Ada yang berbeda kali ini tidak seperti biasanya, terlalu runcing bahasanya kali ini, siapakah eksekutor TMIF#4 di senin pagi kali ini??
Oke argument saya sedikit saja, Saya tidak patuh, tidak tunduk juga pada penghuni beranda partai, saya hanya patuh pada Konstitusi negara ini. Undang-Undang Dasar 1945, dan Ideologi Pancasila..
Konstitusi mengamanatkan saya, “bahwa setiap warga negara berhak dipilih dan memilih..
Golput bukanlah solusi yang tepat untuk bangsa saat ini, meskipun kita dihadapkan pada beberapa pilihan, dan kesemuannya tidak ada yang berkenan dihati, KITA TETAP HARUS MEMILIH YANG TERBAIK DARI YANG TERBURUK!!! Fungsi kita sebagai Warga Negara Indonesia adalah menjalankan amanat konstitusi, dan kita juga mempunyai hak kontrol terhadap kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh petinggi pemerintahan. Jika tidak sesuai konstitusi mari kita kritik..
Sekian dan Terima Kasih.
Mari KONSISTEN dengan KONSTITUSI
Balas
rudolfdethu Reply:
May 11th, 2009 at 8:23 pm
Rekan Male Unwisely, yang memuntahkan kalimat-kalimat najis seolah gak pernah makan bangku sekolah itu—sejak edisi pertama hingga yang termutakhir—adalah tulisan saya. Makin ke sini memang makin kurang sopan. Saya aslinya memang begitu, udah bawaan lahir (hiks, kok malah bangga ya?). Apalagi terhadap Soeharto (juga keluarganya), mantan presiden kita yang telah menguras kekayaan negeri ini dan bikin rakyat menderita—selain juga mengebiri habis hak asasi baik lawan-lawan politiknya maupun rakyat jelata—wih, sumpah serapah penuh tinja terhadap si Eyang Genosida pasti susah saya tahan. Saking kurang ajarnya komentar-komentar saya terhadap Mbah Kanibal, beberapa rekan saya sampai-sampai mengingatkan agar saya lebih santun sedikit. Jangan terlalu nyelekit ngata-ngatain orang yang lebih tua (apalagi dia sudah mati). Namun menurut saya, kita memang harus berani berkata benar. Yang jahat dibilang jahat, yang baik disebut baik. Jika seseorang itu memang amat berjasa bagi negeri ini maka saya akan respek, full frontal. Sementara jika dia memang sungguh buruk seperti Soeharto ya dibilang buruk. Ewuh pakewuh gak perlu diberlakukan terhadap penjahat. Itu pendapat saya. Walau begitu, Male Unwisely, terima kasih atas masukannya. Bersulang -RD
Balas
cietra Reply:
May 16th, 2009 at 2:29 pm
sabar ooommm
Balas
anto_head
May 11th, 2009
Sebuah topik yg panas,sepanas-panasnya parpol yg lg cari koalisi di pilpres juli mendatang…
Gw ga akan ngikutin Sri Bintang Pamungkas jadi golput,dr jaman orba ampe skrg SBP cuma koar2 golput tp ga pernah kasih solusi..(jgn2 dia koar2 krn ga kebagian jabatan kalee ya…).
Kalo mau bangsa ini maju, kita harus gunakan hak pilh kita. Baik pilih anggota dewan ato presiden…(tp pilih yg jujur dan kompeten dibidangnya…)
Kalo gw liat,orang2 yg golput itu sukanya teriak2 dng kebijakan pemerintah,demo,..tp ga kasih solusi. Kalo golput ya udah,ga usah teriak2,diem aja…milh juga ga,maunya didengar suaranya.
Dengan memilih, setidaknya gw telah mempercayai orang tersebut buat menjalankan negara ini biar bisa maju. Kalo ntar ga maju2 bangsa ini, baru gw demo nuntut hak gw yg telah gw percayain ma mereka…
Emang ga bisa dipungkiri,golput untuk pemilu legislatif kemarin mencapai hampir 47 juta pemilih,melebihi perolehan Demokrat. Kalau suara golput ini disalurkan, niscaya kita bisa mengcounter para fundamentalis di parlemen.
Apakah kalian mau negara ini diberlakuakan syariat seperti di arab sana,setelah UU pornografi disahkan.,kelak akan muncul UU yg mengebiri kebebasan kita,yg meluluhlantakkan NKRI,perpecahan dan SARA…maka dari itu suara anda sangat diperlukan disini untuk mengcounter para fundamentalis.
Bersulang bwt semua sejawat musikator….
Balas
dinan
May 13th, 2009
Mengikuti Sri Bintang Pamungkas menjadi Golput atau sebaliknya: menggunakan hak pilih?
who the hell is Sri bla bla bla????
sejak saya diberi kuasa memilih puluhan abad yg lalu, sekalipun saya tidak pernah memilih siapapun. saya penganut paham ANARCHY, saya pendukung pemerintahan tanpa pemerintah!, pemerintahan tanpa penguasa dan pemerintahan tanpa senjata.
so apapun yg terjadi di bumi ini selama permainan badut-badut politik ini seperti ini, bicara tentang hal-hal muluk yg tak pernah sekalipun berpihak pada kepentingan mayoritas, saya hanya mau bilang F@#k U and F@#k em ALL…
Balas
cietra Reply:
May 16th, 2009 at 2:32 pm
kek mana itu pemerintahan tanpa pemerintah?? apakah bisa di sebut sebagai pemerintahan kalo ga ada yang me merintah???
Balas
poxaxctz
May 13th, 2009
ya harus pake hak pilih dunk
secra negara kita tercinta ini negara demokrasi
dengan kita pake hak pilih kita berarti kita sudah ikut serta dalam menjalankan demokrasi di negara kita ini
kita juga harus berani menyampaikan aspirasi kita jangan pernah takut
jangan cuma golput trus protes terus tanpa memberi solusi
negara kita ada tangan kita sendiri bukan di tangan para pejabat yang tidak punya nurani key
Balas
atenxrock
May 15th, 2009
ini merupakan kesempatan pertama saya untuk ikut berpartisipasi dalam menentukan nasib indonesia kedepannya(gak muluk2 sih,cuma pengen indonesia ini bener2 merdeka). . .
tapi masih belum tau harus menggunakan hak pilih saya atau gak, say sebagai rakyat kecil yang slalu menjadi tameng dari sikap ketakpedulian mereka, masih belum percaya dengan sumpah sampah mereka, contonya megawati yang dulu sudah pernah memimpin negara kita tapi sekarang beliau kembali lagi mencalonkan diri menjadi presiden dan kembali menggunakan janji2 palsunya…
kalau emang gak palsu, kenapa gak pada waktu beliau menjadi presiden saja melakukan tindakan tindakan mulia tersebut ! !
ITS ALL SHIT ! ! !
Balas
cietra
May 16th, 2009
heeeahahhhh… masih bertahan untuk tetap eksis memberi ruang bagi para pemuda indonesia menyalurkan pendapatnya!!!
salut buat musikator!!!
kalo musti milih golput ato menggunakan hak pilih kalo aku jelas milih GUNAKAN HAK PILIH!!! karena apa???
- bener kata male unwise.. itu udah di atur ma UUD45
- hidup itu pilihan, jadi kalo aku punya hak pilih tapi ga milih brarti ga hidup
- secara langsung meskipun presentasenya 0,00000000000001% menentukan kemana arah bangsa kita indonesia tercinta selanjutnya… seenggaknya aku milih sosok buat jadi presiden ntar bukan gara2 partainya tapi personalnya.. skarang mah dah ga jaman kita fanatik ke satu partai.. lebih lihat personal aja sih… kek contohnya aku dukung pak SBY bukan gara2 dia partainya demokrat tapi lebih ke personalnya yang tegas,punya wibawa dan lain sebagainya, aku ga dukung megawati bukan gara2 dia pemimpinya PDIP tapi lebih ke omongannya yang mencla-mencle.. sok2an ga dukung BLT tapi di iklan ngegambarin kalo PDIP berperan langsung di BLT!!heuuhhhh…
- kalo pemilu kan mesti libur,jadi daripada bengong di rumah mending ke TPS buat nyontreng.. wkwkwkwk(ga blas alesanx)
yah intinya ntar pemilu presiden ntar aku milih lah!!
ayo nyontreng!!!
Balas
wicaksana
May 16th, 2009
– Pilih lah…. negara ini butuh pilihan…
Balas
erwin
May 18th, 2009
Ugh..begitu Sentimentil tajuk terpilih TMIF#14 kali ini,,dan rasa nasionalisme peduli terhadap bangsa akan semakin teruji lancip untuk memaparkan pendapat, ingin Golput a.k.a tak Mencontrreng atau digdaya penuh keyakinan memilih pilihan sesuai keinginan tanpa paksaan apalagi iming2 uang?
Well, inilah periode pertama sejak lahir, saya, diberi hak untuk memilih wakil rakyat-terkadang merasa bangga karena 1 suara saya akan ikut menentukan nasib bangsa-terkadang pula takut salah memilih dan malah jadi boomerang di kemudian hari. But its normally Feeling!!
Dan saya bulatkan tekad untuk TIDAK GOLPUT , tetap memilih salah satu calon Legislatif hingga pemilihan Presiden kelak. Pastinya tidak dengan partai yang totally telah gagal atau petinggi yang sudah tau belangnya. Karena golput bukanlah formula tepat untuk kemajuan bangsa ini, dan memilih bukan berarti tunduk-nurut dan patuh. Saya ingin memberi cara pandang lain bagi sejawat yang mengkin mendoktrin, “ah, saya tidak percaya dengan partai2 pemberi janji bualan itu, ngapain saya nyontreng, saya gak pengen munafik-membohongi diri sendri dengan mencontreng salah satu partai.titik!!”. Coba buka mata kalian, tegakkan kepala dingin anda… kita adalah rakyat, kita punya hak dan kewajiban mengawasi setiap kebijakan yang dibuat pemerintah, bila menyimpang silahkan kritik-Lawan dan beri solusi, bila sudah bagus, mari kita support dan jalankan. Ingatlah, Dari rakyat -Oleh rakyat-Untuk rakyat.
Dari rakyat: kita yang memilih wakil2 rakyat untuk mengemban aspirasi kita.
Oleh rakyat: Kita yang mengontrol jalannya pemerintahan
Untuk rakyat: dan semua kebijakan pemerintah harus untuk rakyat(pro rakyat) bukan kepentingan golongan.
Negeri ini milik rakyat, bukan hanya milik orang yang duduk santai di kursi Senayan sana. Kita bisa merobohkan kekuasaan korup dengan bersatu layak reformasi 1998,,kita bisa meruntuhkan rezim soeharto,,dan akan masih banyak lagi yang akan kita lakukn bila pemeritahan telah jauh menyimpang dari kemajuan., jadi jangan takut untuk memberikan suara kita. Setidaknya kita percaya sbagian atau satu orang diantara wakil rakyat itu. Absolutly,Ini Demi ibu pertiwi, Indonesia.
Musikator, Totally Love Indonesia..
Nb: Setelah saya membaca dari Kutipan musikator Diatas” Jika berkeputusan mendatangi TPS dan menusuk gambar capres/cawapres beberkan dalih anda”. Ada kalimat ’menusuk’, ini seolah2 cara memilih kita masih mencoblos, bukan mencontreng, yang sudah dipakai di pemilu Legislatif kemaren dan akan dipakai di Pemilu Presiden nanti. Atau mugkin hanya saya yang terlalu sensitif terhadap tiap kata. Hahaha.Thx!!
Balas
rudolfdethu Reply:
May 21st, 2009 at 7:14 am
Mohon maaf. Saya masih agak old skool neh. Baru Pemilu kemaren ini cara memilihnya dengan “mencontreng”. Sebelum-sebelumnya, from way back when, ya “menusuk”. Musti harus dibiasakan neh. Once again, sorry, mate. Will be more careful in the future. Cheers -RD
Balas
Oze_Oka
May 19th, 2009
Here I am back again, after couple months struggling with a very limited connection, and then I finally open this favorite page.
Bicara masalah politik, adalah = setara sejalan pun selaras dengan masalah kepentingan yang berbuah dengan konflik dan konspirasi. Butuh waktu yg lama bagi semua parpol untuk berunding or bahasa trendnya kawin-politik – tawar-menawar – lobi dsb dll pada ajang politik tahun ini and you know why. Semuanya akan kembali pada satu kata – POWER.
Kita semua tahu, mereka pada awalnya menaruh diri sebagai Capres, lini pertama. Kini beberapa mundur dan “bersedia” mendampingi di lini kedua. Tak ayal kisruh perpecahan SBY-JK akan terjadi pada “perkawinan politik penuh tawar menawar”. Politik lambat laun akan mengikuti prinsip dasar hukum ekonomi. Dan para parpol pengusung koalisi tak lebih dari barang komplementer politik. Are you with me???
Lalu apakah kita sebaiknya milih atau ga milih?
SILENCE IS GOLDEN –… dan saya akan sangat senang untuk duduk diam dan melihat bangsa ini berjalan dalam kabut tak berujung. Karena sampai saat ini belum ada pemimpin bangsa yg mampu menjejakkan kaki begitu kuat pada kepentingan rakyat. Hanya Soekarno yang mampu menyelenggarakan festival akbar SEA GAMES/ASEAN GAMES – ketika negeri ini baru masuk akil balik dan berdana pas-pasan, diperhitungkan kekuatannya diantara Negara-Negara se-Asia Tenggara. Sayang semua superpowerskill itu stop pada diri Soekarno.
Tapi saya akan menjadi sangat berdosa, apabila hanya duduk diam dan sumpah serapah orang2 yg maju jadi Capres. Apabila memang hancur, ya hancur sekalian…pilih yg terbaik dari yg buruk – buruk yang ada – at least we may still live longer, lalu setelah itu mari kita menghitung mundur…
Masuk ke bilik suara …. pejamkan mata fisikalmu …. Tapi buka hatimu ….. dengarkanlah iblismu, kau lahir bersamanya…lalu contreng apa yang ada yang memang apa adanya.
Keep Rawk
Regards,
Oze_Oka (AFTER9)
Rock n Roll Attitude – Save Our Mother Earth
Balas
jojo
May 25th, 2009
Gua sedikit kecewa dengan mentalitas para so called musisi indie, belom terkenal udah punya mental kaya seleb, korban fashion, dan pengennya didenger tapi gak mau denger temen lain. merasa diperlukan orang tapi ngerasa gak memerlukan orang sekitar, omongannya tinggi, belom apa2 udah ngerasa deket ama si ini dan si itu ( so called musisi yg udah seleb di bali ) dan suka mengkotak2an, yang ngerasa bukan musisi ga bisa gabung, dicuekin padahal temen sendiri…wah tidak salut deh buat musisi2 indi bali
Balas
anto_head Reply:
June 4th, 2009 at 10:10 pm
gw tambah kasihan ma lo…bukan dsini tempat curhat ato berkeluh kesah,
baca dulu dong di atas topiknya,baru ngoceh…
eh masnya ini musisi ya?..kenalan dong
boleh minta no hp nya ga!!!!!!
ke laut aja mas….
Balas
andrix
Jun 2nd, 2009
ohok ohok!..
ehmm ehmm..
itu,bagaimana yah?..
repot jg seh?gak milih,di bilang kurang nasionalis..
mw milih,gak tw apa2,cmn tw oragnya ajah!he3..
tapi y dr pada gak di bilang nasionalis,mending sok tau ajah!he3..
jadinya y nyontreng!he3..
menggunakan hak pilih gitu..
hehehe..
ketaw mulu..
bingung aing mah..
hehehe..
Balas
rusakparah
Jun 5th, 2009
Woww.. panjang lebar nih pembahasannya. Kalau menurut saya, UUD 1945 ama Kalimat-kalimat sakti “Pancasila” sebagai ideologi negara kita (katanya), masih belum mencakup semua hak-hak politik warga negara Indonesia. Yang diberikan hanya hak memilih dan hak dipilih. Coba aja diinget, berapa persen sih penduduk Indonesia yang sempat merasakan “hak untuk dipilih” tersebut? jadi sekian persen sisanya yang tidak pernah menggunakan “Hak untuk Dipilih” tersebut, boleh dong menggunakan “Hak Untuk Tidak Memilih”.
Sebenarnya agak kurang tepat juga pendapat-pendapat “Golput” atau “Tidak Golput” dilepmparkan ke ruang publik. Bukan masalah berani atau takutnya mengemukakan pendapat, tapi menurut saya, Hak-hak Politik tersebut bersifat sangat pribadi dan kita sendiri yang menentukan. Ga usah manas-manasin orang untuk Golput. Ga usah juga maksa-maksa orang untuk milih. Ibaratnya disodorin makanan. Kalau lapar ya makan, kalau kenyang ya salurkan… Hahahha..
Kalau mengenai Sri Bintang Pamungkas, well “it’s just a show bizz”. Hahahha.. yeah, cuman itu aja satu-satunya cara biar cepet ngetop kan?
Jadi kesimpulannya, saya akan mengikuti kata hati saya pada pilpres nanti, apakah saya lapar akan pemimpin, atau sudah kekenyangan dijejalin jargon pra pemilihan.
Suksma
Balas
KIra BeautifulDarkness
Jul 16th, 2010
Golput ntu gag haram hukumnya,,
juga gag ada UU yang melarang warga untuk golput.
tapi,mending jangan golput juga,,
nyontreng..urusan bener gag bener yang kita pilih,,yang penting dah ikut partisipasi…..
oth kalo pilihan kita bener,,bukan kita juga kan yang ngerasain enaknya
emak ,bapak,adek,kakak,teman,pacar,bahkan anak cucu kita nanti juga ikut ngarasain….
BENER KAN….?????????
Balas
Silahkan Berkomentar